Rencana Yinon: ”Israel Raya”, Suriah, Irak, dan ISIS

Oleh: ANON
13 Agustus 2014
(Sumber: www.muslimvillage.com)

Rencana Zionis untuk Timur Tengah, juga dikenal sebagai Rencana Yinon, adalah rencana strategis Israel untuk memastikan keunggulan regional Israel. Itu menuntut dan menetapkan agar Israel mengkonfigurasi ulang lingkungan geopolitiknya melalui balkanisasi negara-negara Arab sekitar menjadi negara-negara kecil dan lemah.

Bila dipandang dalam konteks mutakhir, perang di Irak, perang 2006 di Lebanon, perang 2011 di Libya, perang di Suriah saat ini, belum lagi proses perubahan rezim di Mesir, harus dipahami dalam hubungan dengan Rencana Zionis untuk Timur Tengah. Ini dicapai dengan melemahkan dan akhirnya meretakkan negara-negara Arab tetangga sebagai bagian dari proyek ekspansionis Israel.

“Israel Raya” adalah area yang membentang dari Lembah Nil hingga Eufrat.

Para ahli strategi Israel memandang Irak sebagai tantangan strategis terbesar. Itu sebabnya Irak diuraikan sebagai titik fokus balkanisasi Timur Tengah dan Dunia Arab. Di Irak, berlandaskan konsep Rencana Yinon, ahli-ahli strategi Israel menyerukan pembagian Irak menjadi satu negara Kurdi dan dua negara Arab (satu Syiah, satu Sunni).

The Atlantic, pada 2008, dan Armed Forces Journal AS, pada 2006, mempublikasikan peta-peta yang beredar luas yang nyaris menyerupai skema Rencana Yinon. Selain pembagian Irak, Rencana Yinon menyerukan pembagian Lebanon, Mesir, dan Suriah. Rencana Yinon juga menyerukan peleburan di Afrika Utara dan meramalkan [cakupannya] mulai dari Mesir lalu meluap ke Sudan, Libya, dan sisa kawasan.

“Israel Raya” mensyaratkan pencerai-beraian negara-negara Arab yang ada menjadi negara-negara kecil. Rencana ini beroperasi dengan dua premis dasar. Untuk bertahan hidup, Israel harus:

  1. Menjadi kekuatan imperial regional.
  2. Membagi seluruh area menjadi negara-negara kecil melalui peleburan semua negara Arab yang ada.

Kecil di sini tergantung pada komposisi etnis atau sekte tiap negara. Konsekuensinya, harapan Zionis adalah negara-negara berbasis sekte akan menjadi satelit Israel dan, ironisnya, sumber legitimasi moralnya… Ini bukan ide baru, bukan kali pertama mengemuka dalam pemikiran strategis Zionis. Bahkan, pemotong-motongan semua negara Arab menjadi satuan-satuan kecil merupakan tema berulang.

Dipandang dalam konteks ini, perang di Suriah adalah bagian dari proses perluasan teritori Israel. Intelijen Israel yang sedang bekerjasama erat dengan AS, Turki, dan NATO mendukung langsung teroris bayaran Al-Qaeda di Suriah.

Proyek Zionis ini juga mensyaratkan destabilisasi Mesir, keterbagian faksi di Mesir sebagaimana dilancarkan oleh “Musim Semi Arab” yang menghasilkan pembentukan negara berbasis sekte yang didominasi Ikhwanul Muslimin.

Demikian halnya, walau disesuaikan, Rencana Yinon sedang bergerak dan mewujud di bawah “Clean Break”. Ini adalah dokumen kebijakan yang ditulis pada 1996 oleh Richard Perle dan Kelompok Studi mengenai “Strategi Baru Israel Menuju Tahun 2000” untuk Benjamin Netanyahu, perdana menteri Israel waktu itu.

Seperti banyak tokoh dalam gerakan neokonservatif, Perle sudah lama menjadi penganjur pergantian rezim di Irak. Pada 1998, Perle memimpin usaha yang dikenal sebagai Proyek Abad Baru Amerika bersama sekutu karib neokonservatif Wolfowitz, Woolsey, Elliott Abrams, dan John Bolton. Proyek ini memuncak dengan sebuah surat yang dikirim kepada Presiden AS Bill Clinton, mendesak penggulingan rezim Saddam Hussein secara militer.

Sebelum dan sesudah invasi atas Irak tahun 2003, Perle mengadakan beberapa pertemuan eksklusif di rumahnya di mana dia mendiskusikan isu-isu kebijakan luar negeri Amerika mengenai Irak. Dalam upaya membantu mendanai sasaran mereka, Ahmed Chalabi, pebisnis kelahiran Irak dan pendiri Kongres Nasional Irak, menolong Perle mengamankan jutaan dolar dari pemerintah AS pada 1990. Chalabi merupakan salah satu tokoh kunci yang mendorong perang di Irak dan membantu menyalurkan “informasi” penting ke kongres AS dan publik hingga berhasil menjual propaganda perang.

Orang mungkin ingat, PNAC-lah yang turut mempublikasikan dokumen “Rebuilding Americans Defenses” yang kini terkenal, di mana di dalamnya dibuat pernyataan berikut:

Lebih lanjut, proses tranformasi [militer], sekalipun itu membawa perubahan revolusioner, kemungkinan besar akan lama, menjauhkan diri dari petaka dan kejadian pemicu—seperti Pearl Harbour baru.

Terakhir, sebagaimana disebutkan di atas, Armed Forces Journal mempublikasikan sebuah artikel pada 2006 berjudul “Blood Borders”.

Berikut adalah peta-peta berdasarkan deskripsi dalam artikel tersebut. Yang satu adalah Timur Tengah seperti sekarang, dan satu lagi adalah Timur Tengah menurut usulan dalam artikel:

Timur Tengah Sekarang dan Nanti

Anda akan lihat betapa sebangunnya pembagi-bagian ini dengan Rencana Yinon dan Clean Break.

Anda juga akan lihat, kemajuan ISIS di Irak sejauh ini sebangun dengan ketiga dokumen. Mereka tidak berperang dengan Kurdi dan berhenti di Utara Baghdad, sehingga membagi Irak menjadi tiga negara sebagaimana dilukiskan pada peta: Kurdistan Merdeka, Irak Sunni, dan Negara Arab Syiah.

Hanya waktu yang akan memberitahukan apakah ISIS berusaha masuk ke Baghdad, ataukah kota itu sendiri dibagi-bagi menurut sekte. Seperti Anda simak dalam gambar, Baghdad persis berada di perbatasan “Irak Sunni” dan “Negara Arab Syiah”.

Berikut adalah peta pergerakan terakhir ISIS:

Peta Pergerakan ISIS

Anda bisa perhatikan, dengan membandingkan mereka dengan peta di atas, mereka punya kendali atas area yang dilukiskan sebagai “Irak Sunni”. Kecuali Kirkuk, Anda bisa perhatikan, teritori yang mereka kendalikan kurang-lebih sejajar dengan perbatasan proposal “Irak Sunni” dalam gambar Blood Border sebelumnya.

Gambar berikut adalah hamparan peta teritori yang dikendalikan ISIS di atas peta usulan perbatasan baru Timur Tengah, supaya Anda lebih mudah melihat kesebangunan antara pergerakan ISIS dan Rencana Yinon:

Pergerakan ISIS dan Rencana Yinon

Meski terdapat beragam konsepsi perbatasan “Israel Raya” (Eretz Israel HaShlema), berikut adalah hamparan gambar “Israel Raya” di atas peta usulan perbatasan baru Timur Tengah, agar Anda bisa mencerna area negara-negara Arab terbalkanisasi yang akan dikuasai Israel jika Rencana Yinon berhasil diimplementasikan.

Israel Raya dan Balkanisasi Arab

Apakah Rencana Yinon betul-betul sedang diimplementasikan, memanfaatkan permusuhan sektarian di dalam masyarakat Muslim sebagai penyebarnya, ataukah ini cuma fenomena kebetulan mulai dari Sudan, Mesir, Libya, Suriah hingga Irak, yang pasti prinsip-prinsip pokok Rencana Yinon sedang terlaksana.

Ini tentu menjelaskan banyak keganjilan yang kita saksikan dalam kebijakan luar negeri AS, terutama berkaitan dengan keputusan kita mempersenjatai dan mendanai kelompok-kelompok Islam radikal di Suriah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s