Kurdistan Merdeka Sedang Terbentuk

Rabu 1 Juli 2015
(Sumber: pennyforyourthoughts2.blogspot.com)

Daily Times Pakistan:

Negara bangsa Kurdistan raya yang dicomot dari empat negara di mana suku Kurdi menjadi minoritas adalah mustahil untuk terwujud, walaupun otonomi lebih besar sedang tumbuh di Turki dan Suriah jika bukan Iran, dan Kurdistan Irak merdeka semakin mungkin hari demi hari. Kurdi yang sedang mencetak kemenangan signifikan atas Islamic State (IS) sejauh ini merupakan pasukan paling efektif dalam memerangi IS di Irak dan Suriah. Namun, kelihatannya mereka berniat mempertahankan semua medan yang sudah direbut dari kelompok teroris keji itu untuk proyek negara mereka sendiri, mengancam kepentingan mempertahankan kesatuan kedua negara yang dilanda kekerasan tersebut, dan menaikkan prospek perang lain yang sabar menanti di akhir perang sekarang. Tak diragukan, Kurdi adalah pasukan darat terkuat dalam melawan IS hari ini. Rentetan kemenangan baru-baru ini di Suriah mengilustrasikan kemampuan tempur Kurdi. Enam bulan setelah menang di Kobani, kota perbatasan Turki di mana sebanyak 1.000 pejuang IS tewas, para pejuang Kurdi Suriah merebut kota perbatasan lain, Tel Abyad, menciptakan koridor di perbatasan utara Suriah dan, yang lebih penting, memangkas jalur pasokan utama ke Raqqah, ibukota IS 60 mil di selatan. Tapi semua upaya Kurdi ini juga didorong oleh hasrat meraih status negara merdeka.

Kurdi berperang begitu terampil sebagian besar karena, selain berusaha mengalahkan lawan ekstrimis, memperjuangkan hal lain: negara sendiri. Kurdistan masa depan mungkin akan diperjuangkan dengan sengit ke bagian-bagian Arab Timur Tengah. Suriah dan Irak tak memiliki pemerintah pusat yang efektif dan kuat, yang di masa lalu melumat gerakan nasionalis Kurdi (berkat NATO/Israel). Kurdi mengendus peluang besar untuk membangun Kurdistan merdeka sekarang. Suku Kurdi, terlepas dari jumlah mereka yang besar—sekitar 30 juta di seluruh dunia—serta kesamaan bahasa, budaya, dan identitas, belum pernah mempunyai negara dan dibagi-bagi di empat negara dalam perjanjian Sykes-Picot yang dibuat pasca Perang Dunia I oleh Inggris dan Prancis. Namun, mereka semakin dekat dengan [pembentukan] satu negara dengan setiap kemenangan di medan tempur. Di Irak, pasukan Kurdi yang dipersenjatai oleh Iran dan AS telah merebut sekitar 10.000 mil persegi dari IS sejak musim gugur lalu. Mereka juga merebut kota Kirkuk yang dipersengketakan, kaya akan minyak dan signifikansi budaya bagi Kurdi dan juga Arab, dan melarang orang Arab kembali ke beberapa desa. Rumah-rumah ditandai “Disediakan untuk Kurdi”, dan pos-pos pemeriksaan Kurdi mengumumkan, “Arab Dilarang Masuk”.

Perbuatan-perbuatan lapangan ini jelas dimaksudkan untuk menciptakan “fakta di lapangan”, realita politik yang akan ditunjukkan oleh para pemimpin Kurdi saat mereka mengarungi hubungan dengan pemerintah pusat Irak di Baghdad, di mana mereka saat ini terikat oleh kontrak penghasilan minyak, jika tak banyak yang lain. Segagah apapun Kurdi berperang, kehilangan kira-kira 1.000 pria dan wanita dalam melawan IS tahun lalu, mereka memandang konflik ini dari segi pembebasan nasional. Massoud Barzani, yang memimpin pemerintahan regional Kurdistan, berulangkali mengatakan Kurdi takkan berperang demi Irak atau ide Irak. Kurdi Irak memanfaatkan serangan udara AS dan kevakuman politik di utara Irak bukan cuma untuk memukul mundur IS tapi juga merebut kembali teritori yang dipersengketakan dan ladang-ladang minyak. Kurdi menyatakan akan menyokong pasukan Irak yang berusaha mengambil kembali Mosul tapi takkan menjadi pelopornya. Sasaran mereka bersifat defensif: mengamankan perbatasan mereka dengan Irak, terutama wilayah-wilayah yang mereka perluas sejak musim panas tapi bukan untuk membantu Baghdad memulihkan status quo.

Negara Kurdi merdeka di masa depan berhadapan dengan banyak tantangan ekonomi dan administratif tapi keberhasilannya bisa mengubah permainan di Timur Tengah. Namun, itu juga realita yang sulit karena barat belum mengubah sikap resminya terhadap Irak, Suriah, dan Turki, dan masih menginginkan keutuhan perbatasan, yang bertentangan dengan aspirasi kemerdekaan Kurdi. Jadi, pemimpin Kurdi harus menegosiasikan hubungannya dengan barat di masa mendatang. Kurdi tak dapat diabaikan dalam skenario pergolakan domestik saat ini. Perubahan politik di seantero kawasan telah menjadikan Kurdi pemain krusial di banyak front di Timur Tengah. Kurdi punya sejarah panjang dikucilkan dan disiksa oleh banyak rezim dan, khususnya di Irak dan Turki, berulangkali bangkit untuk mengusahakan otonomi lebih besar atau kemerdekaan penuh. Kini mereka merasa semakin dekat dengan impian tertinggi mereka: negara Kurdi merdeka. Aspirasi kebangsaan Kurdi, yang sedang memuncak saat ini, dapat membentuk ulang Timur Tengah.

Membentuk ulang Timur Tengah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s