Rencana Yinon – Rencana Zionis untuk Timur Tengah

17 Juni 1982
(Sumber: www.informationclearinghouse.info)

Diterjemahkan dan disunting ke dalam bahasa Inggris oleh Israel Shahak dari artikel karangan Oded Yinon berjudul “A Strategy for Israel in the Nineteen Eighties” yang dimuat dalam Kivunim, jurnal Departemen Informasi World Zionist Organization. Diterbitkan oleh Association of Arab-American University Graduates, Inc. Belmont, Massachusetts, 1982, Dokumen Khusus No. 1 (ISBN 0-937694-56-8). Oded Yinon adalah jurnalis Israel dan dulunya dipekerjakan di Kementerian Luar Negeri Israel.

Tanah yang Dijanjikan

Dalam Complete Diaries, Vol. II, hal. 711, 1904, Theodore Herzl, pendiri Zionisme, menyatakan wilayah Negara Yahudi membentang: “Dari Sungai Mesir hingga Eufrat.”

Rabbi Fischmann, anggota Jewish Agency for Palestine, mendeklarasikan dalam kesaksiannya di depan Special Committee of Enquiry PBB pada 9 Juli 1947: “Tanah yang Dijanjikan membentang dari Sungai Mesir hingga Eufrat, mencakup wilayah Suriah dan Lebanon.”

CATATAN PENERBIT
Oleh: Khalil Nakhleh
23 Juli 1982

Association of Arab-American University Graduates (AAUG) merasa terdorong untuk membuka seri terbitan barunya, Dokumen Khusus, dengan artikel karangan Oded Yinon yang dimuat dalam Kivunim (Directions), jurnal Departemen Informasi World Zionist Organization. Oded Yinon adalah jurnalis Israel dan dulunya dipekerjakan di Kementerian Luar Negeri Israel. Sepengetahuan kami, dokumen ini merupakan pernyataan paling eksplisit, rinci, dan gamblang sampai hari ini perihal strategi Zionis di Timur Tengah. Selanjutnya, ini menjadi representasi akurat “visi” rezim Zionis Begin, Sharon, dan Eitan yang sedang berkuasa untuk seluruh Timur Tengah. Oleh sebab itu, signifikansinya tidak terletak pada nilai historisnya tapi pada mimpi buruk yang dihadirkannya.

Rencana ini beroperasi dengan dua premis dasar. Untuk bertahan hidup, Israel harus: 1) menjadi kekuatan imperial regional, dan 2) membagi seluruh area menjadi negara-negara kecil melalui peleburan semua negara Arab yang ada. Kecil di sini tergantung pada komposisi etnis atau sekte tiap negara. Konsekuensinya, harapan Zionis adalah negara-negara berbasis sekte akan menjadi satelit Israel dan, ironisnya, sumber legitimasi moralnya.

Ini bukan ide baru, bukan kali pertama mengemuka dalam pemikiran strategis Zionis. Bahkan, pemotong-motongan semua negara Arab menjadi satuan-satuan kecil merupakan tema berulang. Tema ini telah didokumentasikan secara moderat dalam terbitan AAUG, Israel’s Sacred Terrorism (1980), karya Livia Rokach. Berbasis memoar Moshe Sharett, mantan Perdana Menteri Israel, studi Rokach mendokumentasikan rencana Zionis secara detil dan meyakinkan, sebagaimana yang berlaku pada Lebanon dan sebagaimana yang disiapkan pada pertengahan 50-an.

Invasi masif pertama Israel atas Lebanon di tahun 1978 menguatkan rencana ini hingga detil terkecil. Invasi kedua Israel atas Lebanon pada 6 Juni 1982, yang lebih barbar dan luas, bermaksud menjalankan bagian-bagian tertentu rencana ini yang ingin menyaksikan Lebanon, dan juga Suriah dan Yordania, terpecah-pecah. Seharusnya ini menjatuhkan klaim publik Israel berkenaan dengan keinginan mereka akan pemerintahan pusat Lebanon yang kuat dan independen. Lebih akuratnya, mereka ingin sebuah pemerintahan pusat Lebanon yang mendukung rencana imperialis regional mereka dengan menandatangani traktat perdamaian. Mereka juga mengusahakan persetujuan dari pemerintahan Suriah, Irak, Yordania, dan negara Arab lainnya serta rakyat Palestina. Yang mereka inginkan dan rencanakan bukanlah dunia Arab, tapi dunia pecahan-pecahan Arab yang siap mengalah pada hegemoni Israel. Karenanya, Oded Yinon dalam esainya, A Strategy for Israel in the 1980’s, membicarakan “kesempatan-kesempatan luas untuk pertama kalinya sejak 1967” yang diciptakan oleh “situasi amat ribut [yang] mengepung Israel”.

Kebijakan Zionis memindahkan warga Palestina dari Palestina adalah kebijakan aktif, tapi ditempuh lebih keras di masa konflik, seperti dalam perang 1947-1948 dan dalam perang 1967. Sebuah lampiran berjudul Israel Talks of a New Exodus disertakan dalam publikasi ini untuk memperlihatkan pengusiran warga Palestina dari tanah air mereka oleh Zionis di masa lalu dan untuk menunjukkan, selain dokumen utama Zionis yang kami sajikan, rencana Zionis lainnya dalam men-dePalestina-kan Palestina.

Sudah jelas dari dokumen Kivunim yang dipublikasikan pada Februari 1982 bahwa “kesempatan-kesempatan luas” yang dipikirkan para ahli strategi Zionis adalah “kesempatan-kesempatan” yang sedang mereka yakinkan kepada dunia dan yang menurut mereka dihasilkan oleh invasi Juni 1982. Jelas pula bahwa warga Palestina bukan target tunggal rencana Zionis, melainkan target prioritas karena kehadiran aktif dan independen mereka sebagai sebuah bangsa menegasikan hakekat negara Zionis. Namun, setiap negara Arab, khususnya yang memiliki arah nasionalis kompak dan jelas, adalah target nyata, cepat atau lambat.

Kontras dengan strategi Zionis terperinci dan gamblang yang diuraikan dalam dokumen ini, sialnya strategi Arab dan Palestina mengidap keambiguan dan kengawuran. Tak ada indikasi bahwa para ahli strategi Arab telah menginternalisasi rencana Zionis beserta percabangan lengkapnya. Mereka justru bereaksi dengan tidak percaya dan terkejut setiap kali tahapan barunya terungkap. Ini kentara dalam reaksi Arab, walaupun teredam, terhadap pengepungan Beirut oleh Israel. Fakta sedihnya, selama strategi Zionis untuk Timur Tengah tidak diambil serius, reaksi Arab terhadap pengepungan ibukota Arab lain di masa mendatang akan tetap sama.

PRAKATA
Oleh: Israel Shahak
13 Juni 1982

Menurut pendapat saya, esai berikut melambangkan rencana akurat dan rinci rezim Zionis sekarang (Sharon dan Eitan) terhadap Timur Tengah yang didasarkan pada pembagi-bagian seluruh area menjadi negara-negara kecil, dan peleburan semua negara Arab yang ada. Saya akan mengulas aspek militer rencana ini dalam catatan penutup. Di sini saya ingin menarik perhatian pembaca pada beberapa poin penting:

1. Ide bahwa semua negara Arab harus dibongkar oleh Israel ke dalam satuan-satuan kecil terbersit berulang kali dalam pemikiran strategis Israel. Contoh, Ze’ev Schiff, koresponden militer Ha’aretz (dan barangkali paling banyak tahu di Israel) menulis tentang [kemungkinan] “terbaik” yang bisa terjadi bagi kepentingan Israel di Irak: “Leburnya Irak menjadi satu negara Syiah, satu negara Sunni, dan satu wilayah Kurdi terpisah” (Ha’aretz 6/2/1982). Sebetulnya, aspek ini sudah sangat tua.

2. Koneksi kuat dengan pemikiran Neokonservatif di AS sangat menonjol, khususnya dalam catatan sang penulis. Tapi, sementara ide “pertahanan Barat” terhadap kekuatan Soviet hanya pura-pura, tujuan asli penulis, dan penguasa Israel saat ini, sudah jelas: untuk menjadikan Israel Imperial sebagai kekuatan dunia. Dengan kata lain, tujuan Sharon adalah mengecoh Amerika setelah dia mengecoh yang lain.

3. Jelas, sebagian besar data relevan, baik dalam catatan maupun teks, diputarbalikkan atau dihilangkan, seperti misalnya bantuan keuangan AS untuk Israel. Sebagian besarnya fantasi belaka. Tapi, rencana ini jangan dianggap tidak berpengaruh, atau tidak dapat diwujudkan dalam waktu dekat. Rencana ini setia mengikuti arus ide-ide geopolitik di Jerman 1890-1933, yang ditelan habis oleh Hitler dan gerakan Nazi, dan menetapkan sasaran mereka ke Eropa Timur. Sasaran-sasaran tersebut, khususnya pembagi-bagian negara-negara yang ada, dilaksanakan pada 1939-1941, dan hanya aliansi skala global yang mencegah konsolidasinya untuk sementara waktu.

Catatan penulis sesuai dengan teksnya. Untuk menghindari kebingungan, saya tidak menambahkan catatan pribadi, hanya menyisipkan intisarinya ke dalam prakata ini dan kesimpulan di akhir. Namun, saya membuat penekanan pada sebagian teks.

STRATEGI ISRAEL PADA 1980-AN
Oleh: Oded Yinon

Esai ini mulanya tampil berbahasa Ibrani dalam KIVUNIM (Directions), sebuah jurnal Yudaism dan Zionisme, Edisi No. 14—Musim Dingin, 5742, Februari 1982, Penyunting: Yoram Beck. Panitia Editorial: Eli Eyal, Yoram Beck, Amnon Hadari, Yohanan Manor, Elieser Schweid. Diterbitkan oleh Departemen Publisitas/World Zionist Organization, Yerusalem.

Pada permulaan 1980-an, Negara Israel membutuhkan perspektif baru terkait kedudukan, tujuan, dan sasaran nasionalnya, di dalam dan luar negeri. Kebutuhan ini jadi semakin vital lantaran sejumlah proses sentral yang sedang dilalui negara, kawasan, dan dunia. Kita sedang hidup di tahap-tahap awal era baru dalam sejarah manusia yang tidak serupa dengan dulu-dulu, dan karakteristiknya berbeda sepenuhnya dari yang sudah kita ketahui. Itu sebabnya kita butuh pemahaman akan proses-proses sentral yang melambangkan era bersejarah ini di satu sisi, dan di sisi lain kita butuh proyeksi dunia dan strategi operasional yang selaras dengan kondisi baru. Eksistensi, kemakmuran, dan keteguhan negara Yahudi akan bergantung pada kemampuannya dalam mengadopsi kerangka baru untuk urusan dalam dan luar negeri.

Era ini dicirikan oleh beberapa karakter yang sudah bisa kita diagnosa, dan yang melambangkan revolusi sejati dalam gaya hidup kita saat ini. Proses dominan adalah runtuhnya proyeksi rasionalis humanis sebagai batu pijakan utama yang menopang kehidupan dan pencapaian peradaban Barat sejak Renaissance. Pandangan politik, sosial, dan ekonomi yang memancar dari fondasi ini dilandaskan pada beberapa “kebenaran” yang sedang lenyap—contoh, pandangan bahwa manusia sebagai individu adalah pusat alam semesta dan segalanya eksis demi memenuhi kebutuhan materil dasarnya. Posisi ini sedang dibuat tak berlaku di masa sekarang setelah jelas bahwa jumlah sumber daya di kosmos tidak mencukupi keperluan Manusia, kebutuhan ekonominya, atau batasan demografisnya. Di sebuah dunia di mana terdapat empat miliar manusia dan sumber daya ekonomi dan energi yang tidak tumbuh sebanding untuk mencukupi kebutuhan manusia, tidaklah realistis jika kita berharap memenuhi keperluan utama Masyarakat Barat,[1] yakni keinginan dan cita-cita akan konsumsi tiada batas. Pandangan bahwa etika tak berperan dalam menentukan arah yang Manusia ambil, melainkan kebutuhan materilnya—pandangan tersebut menjadi lazim hari ini seiring menghilangnya hampir semua nilai di dunia ini. Kita sedang kehilangan kemampuan untuk menaksir hal-hal paling sederhana, khususnya berkenaan dengan pertanyaan: apa yang Baik dan apa yang Buruk.

Visi aspirasi dan kemampuan tak terbatas manusia menyusut di hadapan fakta hidup yang pedih, kala kita menyaksikan tercerai-berainya tatanan dunia di sekeliling kita. Pandangan yang menjanjikan kebebasan dan kemerdekaan kepada umat manusia terasa absurd mengingat fakta pedih bahwa ¾ manusia hidup di bawah rezim totaliter. Pandangan mengenai kesetaraan dan keadilan sosial telah ditransformasi oleh sosialisme dan khususnya oleh Komunisme menjadi bahan tertawaan. Tak ada perbedaan pendapat tentang kebenaran dua ide ini, tapi jelas mereka belum dipraktekkan dengan baik dan mayoritas umat manusia kehilangan kebebasan, kemerdekaan, dan peluang kesetaraan dan keadilan. Di dunia nuklir yang (masih) kita tinggali dalam perdamaian relatif selama 30 tahun ini, konsep perdamaian dan hidup berdampingan di antara bangsa-bangsa tak memiliki makna ketika adidaya seperti USSR memegang doktrin militer dan politik begini: perang nuklir bukan cuma memungkinkan dan diperlukan dalam rangka menggapai tujuan Marxisme, tapi juga memungkinkan untuk bertahan hidup sesudahnya, belum lagi fakta bahwa seseorang bisa berjaya di dalamnya.[2]

Konsep-konsep esensial masyarakat manusia, terutama masyarakat Barat, sedang mengalami perubahan akibat transformasi politik, militer, dan ekonomi. Dengan demikian, kekuatan nuklir dan konvensional USSR telah mentransformasi era yang baru berakhir menjadi ke dalam rehat terakhir sebelum hikayat agung yang akan menghancurkan sebagian besar dunia kita dalam perang global multidimensi, di mana perang-perang dunia di masa lalu hanyalah permainan anak kecil bila dibandingkan. Kemampuan senjata nuklir dan konvensional, kuantitas mereka, presisi dan kualitas mereka, akan menjungkirbalikkan hampir seluruh dunia kita dalam beberapa tahun, dan kita di Israel harus menyesuaikan diri untuk menghadapinya. Dengan demikian, itu adalah ancaman utama terhadap eksistensi kita dan dunia Barat.[3] Perang perebutan sumber daya di dunia, monopoli Arab atas minyak, dan keharusan Barat untuk mengimpor mayoritas bahan mentahnya dari Dunia Ketiga, sedang mentransformasi dunia yang kita kenal, mengingat salah satu sasaran utama USSR adalah mengalahkan Barat dengan meraih penguasaan atas sumber daya raksasa di Teluk Persia dan bagian selatan Afrika, di mana mayoritas barang tambang dunia berada. Kita bisa bayangkan dimensi konfrontasi global yang akan dihadapi di masa depan.

Doktrin Gorshkov menuntut Soviet mengendalikan lautan dan area-area kaya mineral di Dunia Ketiga. Bersama dengan doktrin nuklir Soviet yang berpandangan bahwa mereka dapat melaksanakan, memenangkan, dan melewati perang nuklir, di mana kekuatan militer Barat mungkin hancur dan penduduknya menjadi budak pelayan Marxisme-Leninisme, doktrin Gorshkov ini merupakan ancaman utama terhadap perdamaian dunia dan eksistensi kita. Sejak 1967, Soviet telah mentransformasi diktum Clausewitz menjadi “Perang adalah kelanjutan kebijakan secara nuklir”, dan menjadikannya moto yang memandu semua kebijakan mereka. Hari ini mereka sudah sibuk melaksanakan tujuan mereka di kawasan kita dan seluruh dunia, dan keharusan menghadapi mereka menjadi unsur utama dalam kebijakan keamanan negara kita dan tentu saja seluruh Dunia Merdeka. Inilah tantangan utama kita di luar negeri.[4]

Oleh karenanya, dunia Arab Muslim bukanlah permasalahan strategis utama yang akan kita hadapi di tahun 80-an, terlepas dari fakta bahwa mereka membawa ancaman besar bagi Israel, berkat pertumbuhan kekuatan militernya. Dunia [Arab Muslim] ini, dengan minoritas etnisnya, faksi-faksinya, dan krisis internalnya, yang herannya merusak diri sendiri, seperti bisa kita lihat di Lebanon, Iran non-Arab, dan kini di Suriah, tak sanggup mengurus masalah-masalah fundamentalnya dan karenanya bukan merupakan ancaman nyata terhadap Negara Israel dalam jangka panjang, tapi hanya dalam jangka pendek di mana kemampuan militernya punya signifikansi besar. Dalam jangka panjang, dunia [Arab Muslim] ini takkan mampu eksis dalam kerangkanya yang sekarang di wilayah sekeliling kita tanpa melewati perubahan revolusioner tulen. Dunia Arab Muslim dibangun seperti rumah kartu sementara yang disusun oleh orang-orang asing (Prancis dan Inggris di tahun 1920-an), tanpa mengikutsertakan keinginan dan hasrat penduduknya. Mereka dibagi secara sembarang menjadi 19 negara, semuanya tersusun dari kombinasi kelompok-kelompok minoritas dan etnis yang saling bermusuhan, sehingga setiap negara Arab Muslim hari ini menghadapi kerusakan etnis sosial dari dalam, dan perang sipil sudah berkecamuk di sebagian negara.[5] Sebagian besar bangsa Arab, 118 juta dari 170 juta, hidup di Afrika, kebanyakan di Mesir (45 juta hari ini).

Selain Mesir, semua negara Maghrib tersusun dari campuran Berber Arab dan non-Arab. Di Aljazair sudah berkecamuk perang sipil di pegunungan Kabile antara kedua bangsa tersebut. Maroko dan Aljazair saling berperang memperebutkan Shara Spanyol, selain pertentangan di dalam negeri masing-masing. Islam militan mengancam keutuhan Tunisia, Qaddafi mengorganisir perang-perang yang bersifat destruktif dalam sudut pandang Arab, dari sebuah negara yang berpenduduk jarang dan tak mampu menjadi bangsa kuat. Itu sebabnya dia mengupayakan unifikasi dengan negara-negara yang lebih tulen, seperti Mesir dan Suriah. Sudan, negara paling koyak di dunia Arab Muslim hari ini didirikan di atas empat kelompok yang saling bermusuhan, minoritas Arab Muslim Sunni yang memerintah mayoritas non-Arab Afrika, Pagan, dan Nasrani. Di Mesir, mayoritas Muslim Sunni berhadapan dengan minoritas besar Nasrani yang dominan di Mesir atas, sekitar 7 juta orang, sampai-sampai Sadat pun, dalam pidatonya pada 8 Mei, mengekspresikan kekhawatiran bahwa mereka akan meminta negara sendiri, semacam Lebanon Kristen “kedua” di Mesir.

Semua negara Arab di timur Israel terkoyak-koyak, tercerai-berai, dan terbelit konflik internal melebihi negara-negara Arab Maghrib. Suriah secara fundamental tak berbeda dari Lebanon, selain rezim militer kuat yang memerintahnya. Tapi perang sipil nyata yang sedang berlangsung antara mayoritas Sunni dan minoritas berkuasa Alawi Syiah (hanya 12% dari populasi) membuktikan peliknya masalah dalam negeri.

Irak, lagi-lagi, pada pokoknya tak berbeda dari tetangga-tetangganya, walaupun mayoritasnya Syiah dan yang berkuasa minoritas Sunni. 65% persen penduduknya tak punya suara dalam politik, di mana elit 20% memegang kekuasaan. Selain itu, terdapat minoritas besar Kurdi di utara, dan kalau bukan karena kekuatan rezim berkuasa, militer, dan pendapatan minyaknya, masa depan Irak takkan berbeda dari Lebanon di masa lalu atau Suriah di masa kini. Benih-benih konflik internal dan perang sipil sudah nyata hari ini, terutama setelah naiknya Khomeini ke tampuk kekuasaan di Iran, sosok yang dipandang sebagai pemimpin alami oleh kaum Syiah Irak.

Semua kerajaan Teluk dan Arab Saudi didirikan di atas rumah pasir rawan di mana hanya ada minyak. Di Kuwait, orang Kuwait hanya menyusun seperempat populasi. Di Bahrain, kaum Syiah adalah mayoritas tapi tak punya kekuasaan. Di UEA, kaum Syiah sekali lagi adalah mayoritas, tapi Sunni berkuasa. Hal yang sama juga berlaku di Oman dan Yaman Utara. Bahkan di Yaman Selatan yang Marxis terdapat minoritas Syiah lumayan banyak. Di Arab Saudi, separuh penduduk adalah orang asing, Mesir, dan Yaman, tapi minoritas Saudi memegang kekuasaan.

Yordania dalam kenyataannya adalah orang Palestina, diperintah oleh minoritas Baduy Trans-Yordania, tapi sebagian besar tentara dan tentu saja birokrasinya kini diisi orang-orang Palestina. Bahkan, Amman mirip Nablus, sangat Palestina. Semua negara ini punya tentara yang kuat, secara relatif. Tapi di sana juga ada masalah. Tentara Suriah hari ini kebanyakan Sunni dengan korps perwira Alawi, tentara Irak kebanyakan Syiah dengan komandan-komandan Sunni. Ini punya signifikansi besar dalam jangka panjang, dan itu sebabnya tak mungkin mempertahankan loyalitas tentara untuk waktu lama kecuali kalau menyangkut satu-satunya faktor bersama: permusuhan terhadap Israel, dan hari ini itu pun tidak memadai.

Di samping Arab yang retak, negara-negara Muslim lain sama-sama memikul kesulitan serupa. Separuh populasi Iran terdiri dari kelompok penutur bahasa Persia dan separuh lain kelompok etnis Turki. Populasi Turki terdiri dari mayoritas Muslim Sunni Turki (sekitar 50%) dan dua minoritas besar, 12 juta Syiah Alawi dan 6 juta Kurdi Sunni. Di Afghanistan terdapat 5 juta Syiah yang menyusun 1/3 populasi. Di Pakistan yang Sunni terdapat 15 juta Syiah yang membahayakan eksistensi negara tersebut.

Gambaran minoritas etnis kebangsaan ini membentang dari Maroko hingga India, dari Somalia hingga Turki, menunjukkan absennya stabilitas dan pesatnya kemerosotan di seluruh kawasan. Ketika gambaran ini ditambahkan pada gambaran ekonomi, kita lihat bagaimana seluruh kawasan dibangun bagai rumah kartu, tak mampu bertahan terhadap masalah-masalah peliknya.

Di dunia [Arab Muslim] yang luas dan retak ini ada segelintir kelompok makmur dan segudang masyarakat miskin. Kebanyakan orang Arab memiliki pendapatan rata-rata tahunan 300 dolar. Itu situasi di Mesir, di sebagian besar negara-negara Maghrib kecuali Libya, dan di Irak. Lebanon terkoyak-koyak dan ekonominya sedang jatuh berkeping-keping. Di negara ini tidak ada kekuasaan terpusat, selain lima otoritas berdaulat de facto (Kristen di utara, didukung oleh warga Suriah dan di bawah kekuasaan klan Franjieh; di Timur adalah area taklukan Suriah; di tengah adalah enklaf Kristen yang dikendalikan Phalangist; di selatan hingga sungai Litani adalah kawasan mayoritas orang Palestina yang dikendalikan oleh PLO; dan negara umat Kristen dan setengah juta Syiah milik Mayor Haddad). Situasi Suriah lebih seram lagi dan bahkan bantuan yang akan diperolehnya di masa mendatang setelah unifikasi dengan Libya takkan cukup untuk mengurus masalah dasar eksistensinya dan pemeliharaan militer besar. Situasi Mesir paling buruk: jutaan orang di ambang kelaparan, setengah angkatan kerja menganggur, dan permukiman sangat langka di area paling padat di dunia ini. Kecuali militernya, tak ada satupun departemen yang beroperasi dengan efisien dan negara sedang dalam status bangkrut permanen dan bergantung sepenuhnya pada bantuan Amerika yang diberikan sejak perdamaian.[6]

Di negara-negara Teluk, Arab Saudi, Libya, dan Mesir, terdapat akumulasi uang dan minyak terbesar di dunia, tapi mereka yang menikmatinya adalah segelintir elit yang tak punya basis dukungan luas dan kepercayaan diri, sesuatu yang tak bisa dijamin oleh militer.[7] Militer Saudi dengan semua peralatannya tak mampu mempertahankan rezim dari ancaman nyata di dalam atau luar negeri, dan apa yang terjadi di Mekkah pada 1980 hanyalah satu contoh. Situasi menyedihkan dan sangat ribut mengelilingi Israel dan menghadirkan tantangan baginya, ini adalah masalah, resiko, tapi juga kesempatan luas untuk pertama kalinya sejak 1967. Kesempatan yang terlewatkan pada waktu itu akan jadi terjangkau di tahun 80-an hingga taraf dan dimensi yang bahkan tak dapat kita bayangkan hari ini.

Kebijakan “perdamaian” dan pengembalian teritori, gara-gara ketergantungan pada AS, menghalangi realisasi opsi baru yang tercipta untuk kita. Sejak 1967, semua pemerintahan Israel telah menambatkan sasaran nasional kita pada kebutuhan politik sempit di satu sisi, dan di sisi lain pada opini-opini destruktif di dalam negeri yang menetralisir kapasitas kita di dalam dan luar negeri. Tidak mengambil langkah terhadap populasi Arab di teritori-teritori baru, yang diperoleh dalam perang yang dipaksakan pada kita, merupakan kesalahan strategis yang dilakukan oleh Israel sehari pasca Perang Enam Hari. Kita bisa saja terselamatkan dari semua konflik pahit dan berbahaya sejak waktu itu seandainya kita memberikan Yordania kepada orang Palestina yang hidup di barat sungai Jordan. Dengan berbuat itu kita akan sudah menetralisir permasalahan Palestina yang kita hadapi hari ini, dan belum kita temukan solusinya, seperti kompromi teritori atau otonomi yang ujung-ujungnya sama saja.[8] Hari ini kita tiba-tiba berhadapan dengan kesempatan luas untuk mentransformasi situasi secara menyeluruh dan ini harus kita lakukan pada dekade mendatang, kalau tidak kita takkan bertahan hidup sebagai sebuah negara.

Selama 1980-an, Negara Israel akan harus mengalami perubahan luas dalam rezim politik dan ekonominya di dalam negeri, serta perubahan radikal dalam kebijakan luar negerinya, demi menghadapi tantangan global dan regional di era baru ini. Lepasnya ladang-ladang minyak Terusan Suez, dengan potensi minyak, gas, dan sumber daya alam lain yang amat besar di semenanjung Sinai yang secara geomorfologis identik dengan negara-negara kaya penghasil minyak di kawasan, akan mengakibatkan kekeringan energi dalam waktu dekat dan akan menghancurkan ekonomi domestik kita: seperempat PDB kita sekarang dan juga sepertiga anggaran dipakai untuk pembelian minyak.[9] Pencarian bahan mentah baru di Negev dan pantai takkan membantu mengubah keadaan dalam waktu dekat.

Maka (meraih kembali) semenanjung Sinai beserta sumber daya potensialnya yang sekarang merupakan prioritas politik yang dihalangi oleh perjanjian Camp David dan perjanjian-perjanjian damai. Kesalahan tersebut tentu saja terletak pada pemerintahan Israel saat ini dan rezim yang melapangkan jalan untuk kebijakan kompromi teritori, rezim Alignment sejak 1967. Mesir takkan perlu mempertahankan traktat perdamaian setelah pengembalian Sinai, dan mereka akan berbuat apa saja untuk kembali ke kelompok dunia Arab dan USSR demi meraih dukungan serta bantuan militer. Bantuan Amerika terjamin untuk waktu singkat saja, selama masa perdamaian, dan pelemahan AS di dalam dan luar negeri akan mengakibatkan pengurangan bantuan. Tanpa minyak dan pendapatan darinya, dengan pengeluaran besar saat ini, kita takkan mampu melalui 1982 di bawah kondisi sekarang dan kita akan perlu bertindak dalam rangka mengembalikan situasi ke status quo yang hadir di Sinai sebelum kunjungan Sadat dan perjanjian damai keliru yang ditandatangani dengannya pada Maret 1979.[10]

Israel punya dua rute utama untuk mewujudkan tujuan ini, yang satu langsung dan satu lagi tidak langsung. Opsi langsung kurang realistis lantaran sifat rezim dan pemerintahan di Israel serta kebjiaksanaan Sadat yang berhasil membuat kita mundur dari Sinai sebagai prestasi besarnya selain perang 1973 sejak dia berkuasa. Israel takkan melanggar traktat secara sepihak, tidak hari ini, tidak pula pada 1982, kecuali kalau kita sangat tertekan secara ekonomi dan politik dan Mesir memberi Israel dalih untuk mengambil kembali Sinai ke dalam genggaman kita untuk keempat kali dalam sejarah pendek kita. Maka yang tersisa adalah opsi tak langsung. Situasi ekonomi di Mesir, sifat rezim dan kebijakan pan-Arab-nya, akan melahirkan situasi mirip April 1982 di mana Israel akan terpaksa bertindak langsung atau tak langsung demi meraih kembali penguasaan Sinai sebagai cadangan strategi, ekonomi, dan energi untuk jangka panjang. Mesir bukan merupakan masalah militer yang strategis berkat konflik internalnya dan mereka bisa didorong kembali ke situasi pasca perang 1967 tidak lebih dari satu hari.[11]

Mitos Mesir sebagai pemimpin kuat Dunia Arab runtuh pada 1956 silam dan sudah pasti tidak bertahan melewati 1967, tapi kebijakan kita, sebagaimana dalam pengembalian Sinai, membantu mengubah mitos itu menjadi “fakta”. Namun, pada kenyataannya, kekuatan Mesir dibanding Israel sendiri dan seluruh Dunia Arab telah turun sekitar 50% sejak 1967. Mesir bukan lagi kekuatan politik utama di Dunia Arab dan secara ekonomi di ambang krisis. Tanpa bantuan luar negeri, krisis ini akan terjadi dalam waktu dekat.[12] Dalam jangka pendek, berkat pengembalian Sinai, Mesir akan memperoleh beberapa keuntungan yang merugikan kita, tapi hanya sampai 1982, dan itu takkan mengubah keseimbangan kekuatan yang menguntungkan bagi mereka, dan barangkali akan mengakibatkan kejatuhannya. Mesir, dalam kondisi politik domestiknya yang sekarang, sudah menjadi mayat, apalagi jika kita memperhitungkan melebarnya keretakan Muslim-Kristen. Mencerai-beraikan Mesir secara teritori menjadi kawasan-kawasan geografis berbeda adalah sasaran politik Israel pada 1980-an di front Barat.

Mesir terbagi-bagi dan terkoyak-koyak ke dalam banyak fokus otoritas. Jika Mesir pecah berantakan, negara-negara macam Libya, Sudan, atau bahkan negara-negara yang lebih jauh takkan terus eksis dalam wujudnya yang sekarang dan akan bergabung dengan kejatuhan dan peleburan Mesir. Visi Negara Kristen Koptik di Mesir Atas serta sejumlah negara lemah dengan kekuasaan terlokalisir dan tanpa pemerintahan terpusat sebagaimana selama ini, merupakan kunci perkembangan histori yang justru dimundurkan oleh perjanjian damai, tapi tak terelakkan dalam jangka panjang.[13]

Front Barat, yang di permukaan tampak lebih problematis, nyatanya kurang rumit dibanding front Timur, di mana terjadi sebagian besar peristiwa yang menjadi tajuk berita belakangan ini. Peleburan total Lebanon ke dalam lima provinsi menjadi preseden untuk seluruh dunia Arab termasuk Mesir, Suriah, Irak, dan jazirah Arab dan sedang mengikuti jalan tersebut. Peleburan Suriah dan Irak ke dalam area-area etnis atau keagamaan khusus seperti di Lebanon, adalah target utama Israel di front Timur dalam jangka panjang, sedangkan peleburan kekuatan militer negara-negara tersebut menjadi target utama jangka pendek. Suriah pecah berantakan, sesuai dengan struktur etnis dan keagamaannya, ke dalam beberapa negara seperti di Lebanon sekarang, jadi akan ada negara Syiah Alawi di pesisirnya, negara Sunni di area Aleppo, negara Sunni lain di Damaskus yang bermusuhan dengan tetangganya di utara, dan kaum Druze yang akan mendirikan negara, mungkin bahkan di Golan kita, dan pastinya di Hauran dan di utara Yordania. Keadaan ini akan menjadi jaminan perdamaian dan keamanan di area dalam jangka panjang, dan tujuan tersebut sudah ada dalam jangkauan kita hari ini.[14]

Irak, kaya minyak di satu sisi dan koyak secara internal di sisi lain, dijamin sebagai calon incaran Israel. Peleburannya bahkan lebih penting bagi kita daripada peleburan Suriah. Irak lebih kuat dibanding Suriah. Dalam jangka pendek, kekuatan Iraklah yang menjadi ancaman terbesar bagi Israel. Perang Irak-Iran akan mengoyak-ngoyak Irak dan menyebabkan kejatuhannya di dalam negeri bahkan sebelum ia mampu mengorganisir perlawanan di front luas terhadap kita. Setiap jenis konfrontasi antar-Arab akan membantu kita dalam jangka pendek dan akan mempersingkat jalan menuju sasaran yang lebih penting yakni pencerai-beraian Irak ke dalam satuan-satuan seperti di Suriah dan Lebanon. Di Irak, keterbelahan menjadi provinsi-provinsi berdasarkan etnis/agama sebagaimana di Suriah pada masa Utsmani adalah memungkinkan. Jadi (tiga (atau lebih) negara akan eksis di sekitar tiga kota utama: Basra, Baghdad, dan Mosul, dan area-area Syiah di selatan akan memisahkan diri dari Sunni dan Kurdi di utara. Mungkin saja konfrontasi Iran-Irak saat ini akan memperdalam polarisasi ini.[15]

Seluruh jazirah Arab merupakan kandidat alami peleburan lantaran tekanan internal dan eksternalnya, dan masalah ini terutama tak terelakkan di Arab Saudi. Tanpa menghiraukan apakah kekuatan ekonominya yang berbasis minyak tetap utuh atau berkurang dalam jangka panjang, keretakan internal dan kecerai-beraian adalah perkembangan nyata dan wajar mengingat struktur politiknya saat ini.

Yordania merupakan target strategis dekat dalam jangka pendek tapi tidak dalam jangka panjang, sebab ia bukan ancaman riil dalam jangka panjang setelah peleburannya, berakhirnya kekuasaan panjang Raja Hussein, dan pemindahan kekuasaan kepada orang Palestina dalam jangka pendek.

Tak ada peluang bahwa Yordania akan terus eksis dalam strukturnya yang sekarang untuk waktu lama, dan kebijakan Israel, dalam perang maupun damai, harus diarahkan pada pembubaran Yordania di bawah rezim saat ini dan pemindahan kekuasaan kepada mayoritas Palestina. Mengganti rezim di timur sungai [Jordan] juga akan mengakibatkan berakhirnya persoalan teritori-teritori yang dipadati orang Arab di barat Jordan. Baik dalam perang ataupun damai, emigrasi dari teritori-teritori tersebut serta kebekuan demografis ekonomis di sana adalah jaminan akan datangnya perubahan di kedua tepi sungai, dan kita harus aktif dalam rangka mempercepat proses ini dalam waktu dekat. Rencana otonomi juga harus ditolak, begitu pula kompromi atau pembagian teritori, sebab, mengingat rencana PLO dan rencana orang-orang Arab di Israel sendiri (rencana Shefa’amr September 1980), mustahil kita terus hidup di negara ini dalam situasi sekarang tanpa memisahkan kedua bangsa, Arab ke Yordania dan Yahudi ke area barat sungai. Hidup berdampingan dan perdamaian sejati akan berlaku di negeri ini hanya bila orang-orang Arab mengerti bahwa tanpa pemerintahan Yahudi antara Yordania dan laut, mereka takkan eksis atau mendapat keamanan. Keamanan dan negara sendiri hanya akan menjadi milik mereka di Yordania.[17]

Di dalam Israel, perbedaan antara area-area 1967 dan teritori di luarnya, yakni teritori 1948, selalu tidak berarti bagi orang-orang Arab dan hari ini tak lagi signifikan bagi kita. Persoalan ini mesti dilihat secara keseluruhan tanpa pembagian 1967. Harus jelas, dalam situasi politik atau konstelasi militer apapun di masa mendatang, bahwa solusi persoalan Arab pribumi hanya akan terwujud bila mereka mengakui eksistensi Israel di perbatasan yang aman hingga sungai Jordan dan selebihnya, sebagai kebutuhan eksistensi kita di era sulit ini, era nuklir yang akan segera kita masuki. Tak mungkin lagi kita hidup dengan ¾ populasi Yahudi di garis pantai sesak yang amat berbahaya di era nuklir.

Karenanya, pemencaran populasi merupakan sasaran strategis domestik di urutan tertinggi; kalau tidak, kita takkan lagi eksis dalam perbatasan manapun. Judea, Samaria, dan Galilee adalah jaminan kita untuk eksistensi negara, dan jika kita tidak menjadi mayoritas di area-area gunung, kita takkan berkuasa di negeri ini dan kita akan seperti Tentara Salib yang kehilangan negara ini, yang bukan milik mereka biar bagaimanapun, dan di mana mereka mulanya adalah orang asing. Menyeimbangkan kembali negara ini secara demografis, strategis, dan ekonomi adalah sasaran tertinggi dan terpokok hari ini. Menguasai batas air di gunung dari Beersheba sampai Galilee Atas adalah sasaran nasional yang dihasilkan melalui pertimbangan strategis utama yakni mendiami wilayah pegunungan yang kosong dari Yahudi hari ini.[18]

Pewujudan sasaran kita di front Timur bergantung pada realisasi tujuan strategis internal ini. Transformasi struktur politik dan ekonomi, yang memungkinkan realisasi sasaran-sasaran strategis ini, adalah kunci menggapai seluruh perubahan. Kita harus berubah dari ekonomi terpusat di mana pemerintah terlibat secara luas, ke pasar terbuka dan bebas, serta berhenti dari bergantung pada pembayar pajak AS dan mengembangkan infrastruktur ekonomi produktif dengan tangan kita sendiri. Jika kita tak mampu membuat perubahan ini secara leluasa dan sukarela, kita akan dipaksa melakukannya oleh perkembangan dunia, khususnya di bidang ekonomi, energi, dan politik, dan oleh keterkucilan kita yang kian meningkat.[19]

Dari sudut pandang militer dan strategi, Barat yang dipimpin Astak mampu bertahan terhadap tekanan global Uni Soviet di seluruh dunia, dan karenanya Israel harus berdiri sendirian di tahun 1980-an tanpa bantian asing, militer atau ekonomi, dan ini mampu kita lakukan hari ini, tanpa kompromi.[20] Perubahan pesat di dunia juga akan melahirkan perubahan kondisi umat Yahudi dunia yang bukan cuma akan menjadi pelarian terakhir Israel tapi juga opsi eksistensi tunggal. Kita tak boleh berasumsi bahwa Yahudi AS, dan komunitas di Eropa dan Amerika Latin akan terus eksis dalam wujudnya yang sekarang di masa depan.[21]

Eksistensi kita di negara ini adalah kepastian, tak ada pasukan yang mampu mengeluarkan kita dari sini dengan kekuatan atau pengkhianatan (metode Sadat). Terlepas dari masalah kebijakan “damai” yang keliru dan persoalan warga Arab Israel dan penghuni teritori-teritori itu, kita dapat mengurus ini semua secara efektif di masa mendatang.

KESIMPULAN
Oleh: Israel Shahak
17 Juni 1982
Yerusalem

Ada tiga poin penting yang harus dijernihkan untuk bisa memahami berbagai kemungkinan signifikan dari realisasi rencana Zionis ini di Timur Tengah, dan juga kenapa itu harus dipublikasikan.

Latar belakang militer dalam rencana ini
Kondisi militer belum disebutkan di atas, tapi dalam banyak kesempatan di mana hal semacamnya “dijelaskan” di rapat-rapat tertutup kepada para anggota penguasa Israel, poin ini diklarifikasi. Diasumsikan bahwa angkatan militer Israel, di semua cabangnya, tidak memadai untuk kerja nyata pendudukan teritori seluas yang dibahas di atas. Bahkan, di masa “kerusuhan” hebat Palestina di Tepi Barat, angkatan Militer Israel terlalu regang. Jawaban terhadap ini adalah metode memerintah dengan cara-cara “pasukan Haddad” atau “Asosiasi Desa” (juga dikenal sebagai “Liga Desa”): pasukan lokal di bawah “pemimpin” yang sama sekali terpisah dari penduduk, bahkan tak punya struktur feodal atau partai (seperti yang dimiliki kaum Phalangist misalnya). “Negara-negara” yang diusulkan oleh Yinon adalah “Haddadland” dan “Asosiasi Desa”, dan angkatan bersenjata mereka akan cukup mirip. Selain itu, superioritas militer Israel dalam situasi demikian akan jauh lebih besar daripada sekarang, sehingga setiap gerakan pemberontakan akan “dihukum”, baik dengan penghinaan masal seperti di Tepi Barat dan Jalur Gaza, ataupun dengan pengeboman dan pemusnahan kota-kota, seperti di Lebanon sekarang (Juni 1982), atau dua-duanya. Dalam rangka memastikan ini, rencana ini, sebagaimana dijelaskan secara lisan, menuntut pembentukan garnisun Israel di tempat-tempat fokus di antara negara-negara mini, dilengkapi dengan pasukan penghancur bergerak. Bahkan, kita sudah menyaksikan yang semacam ini di Haddadland dan hampir pasti kita akan melihat contoh pertama sistem ini berfungsi di Lebanon Selatan atau seluruh Lebanon.

Jelas, asumsi militer di atas, dan seluruh rencananya, turut tergantung pada berlanjutnya kertebelahan Arab lebih jauh daripada sekarang, dan pada tiadanya gerakan progresif masal di antara mereka. Mungkin kedua syarat ini akan terhapus hanya bila rencana tersebut dimajukan dengan baik, dengan konsekuensi yang tak dapat diramalkan.

Kenapa perlu mempublikasikan ini di Israel?
Alasan penerbitannya adalah sifat ganda masyarakat Yahudi Israel: kadar tinggi kebebasan dan demokrasi, khususnya bagi umat Yahudi, digabung dengan ekspansionisme dan diskriminasi ras. Dalam situasi demikian, elit Yahudi Israel (karena masyarakat mengikuti TV dan pidato Begin) perlu dibujuk. Langkah pertama dalam proses pembujukan adalah lisan, sebagaimana diindikasikan di atas, tapi kemudian itu jadi merepotkan. Materi tertulis harus dibuat untuk kepentingan “pembujuk” dan “penjelas” yang agak bodoh (contohnya perwira berpangkat menengah yang biasanya sangat bodoh). Kemudian mereka “mempelajarinya”, kurang-lebih, dan mengajarkannya kepada yang lain. Perlu dikatakan bahwa Israel, dan bahkan Yishuv (kumpulan pemukim Yahudi di Palestina sebelum pendirian Negara Israel—penj) dari tahun 1920-an, selalu berjalan seperti ini. Saya sendiri ingat betul bagaimana (sebelum saya “menentang”) keharusan perang yang dijelaskan kepada saya dan lainnya setahun sebelum perang 1956, dan keharusan menaklukkan “sisa Palestina Barat bila kita mendapat kesempatan” yang dijelaskan selama 1965-1967.

Kenapa diasumsikan tak ada resiko khusus dari luar dalam publikasi rencana seperti ini?
Resiko demikian bisa datang dari dua sumber, asalkan oposisi berprinsip di dalam Israel amat lemah (situasi yang mungkin berubah sebagai konsekuensi perang di Lebanon): Dunia Arab, termasuk Palestina, dan Amerika Serikat. Sejauh ini Dunia Arab sudah menampakkan diri tak mampu menganalisa masyarakat Yahudi Israel secara rinci dan rasional, dan orang Palestina, rata-rata, tidak lebih baik. Dalam situasi semacam itu, bahkan orang-orang yang meneriakkan bahaya ekspansionisme Israel (yang cukup nyata) melakukan ini bukan karena pengetahuan faktual dan rinci, tapi karena percaya pada mitos. Contoh yang bagus adalah kepercayaan teguh pada tulisan hampa di tembok Knesset dari ayat Alkitab tentang Nil dan Eufrat. Contoh lain adalah pernyataan terus-menerus dan sama sekali tidak benar, yang dibuat oleh sebagian pemimpin penting Arab bahwa dua strip biru di bendera Israel melambangkan Nil dan Eufrat, padahal faktanya itu diambil dari strip syal sembahyang Yahudi (Talit). Para spesialis Israel berasumsi bahwa, secara keseluruhan, Arab takkan memberi perhatian pada diskusi serius tentang masa depan, dan perang Lebanon membuktikan mereka benar. Jadi apa ruginya melanjutkan metode lama membujuk orang-orang Israel lain?

Di AS terdapat situasi serupa, setidaknya sampai sekarang. Para pengulas yang kurang-lebih serius mengambil informasi soal Israel, dan mayoritas opini mereka tentangnya, dari dua sumber. Yang pertama adalah dari artikel-artikel di pers “liberal” Amerika, yang ditulis hampir semuanya oleh pengagum Israel beragama Yahudi yang, meskipun kritis terhadap beberapa aspek negara Israel, mengamalkan apa yang Stalin sebut “kritik konstruktif”. (Bahkan orang-orang di antara mereka yang mengklaim “Anti-Stalin” nyatanya lebih Stalinis daripada Stalin, di mana Israel menjadi dewa mereka yang belum gagal). Dalam kerangka pemujaan kritis demikian, harus diasumsikan bahwa Israel selalu “berniat baik” dan hanya “berbuat keliru”, dan karenanya rencana semacam itu takkan menjadi bahan diskusi—persisnya sebagaimana genosida Biblikal yang dilakukan oleh Yahudi tidak disebutkan. Sumber informasi lain, The Jerusalem Post, memiliki kebijakan serupa. Jadi, selama terdapat situasi di mana Israel adalah “masyarakat tertutup” bagi seluruh dunia, karena dunia ingin menutup mata, penerbitan dan bahkan perintisan realisasi rencana demikian terbilang realistis dan patut.

Tentang penerjemah
Israel Shahak (1933-2001) adalah profesor kimia organik di Universitas Hebrew, Yerusalem, dan ketua Israeli League for Human and Civil Rights. Dia mempublikasikan The Shahak Papers, kumpulan artikel penting dari pers Ibrani, dan mengarang banyak artikel dan buku, di antaranya Non-Jew in the Jewish State. Buku terakhirnya, Israel’s Global Role: Weapons for Repression, diterbitkan oleh AAUG pada 1982.

Catatan
[1] American Universities Field Staff. Laporan No. 33, 1979. Menurut riset ini, populasi dunia akan berjumlah 6 miliar pada tahun 2000. Populasi dunia hari ini dapat diurai sebagai berikut: China 958 juta, India 635 juta, Uni Soviet 261 juta, AS 218 juta, Indonesia 140 juta, Brazil dan Jepang masing-masing 110 juta. Menurut angka Population Fund PBB untuk tahun 1980, pada 2000 akan ada 50 kota dengan populasi di atas 5 juta. Dengan demikian populasi Dunia Ketiga akan menyumbang 80% populasi dunia. Menurut Justin Blackwelder, kepala Kantor Sensus AS, populasi dunia tidak akan menyentuh 6 miliar karena adanya kelaparan.

[2] Kebijakan nuklir Soviet sudah dirangkum dengan baik oleh dua ahli Soviet asal Amerika: Joseph D. Douglas dan Amoretta M. Hoeber, Soviet Strategy for Nuclear War, Stanford, Ca., Hoover Inst. Press, 1979. Di Uni Soviet, puluhan dan ratusan artikel dan buku diterbitkan tiap tahun yang menguraikan doktrin Soviet untuk perang nuklir dan ada banyak dokumen yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan dipublikasikan oleh Angkatan Udara AS, termasuk Marxism-Leninism on War and the Army: The Soviet View, Moskow 1972; The Armed Forces of the Soviet State, Moskow 1975, karangan Marsekal A. Grechko. Pendekatan dasar Soviet terhadap urusan ini disajikan dalam buku karya Marsekal Sokolovski yang diterbitkan pada 1962 di Moskow, Military Strategy, Soviet Doctrine and Concepts (New York, Praeger, 1963).

[3] Gambaran niat Soviet di berbagai wilayah dunia bisa diambil dari buku karya Douglas dan Hoeber, ibid. Untuk materi tambahan, lihat USSR’s Minerals as Strategic Weapon in the Future karya Michael Morgan, Defense and Foreign Affairs, Washington DC, Desember 1979.

[4] Laksamana Armada Sergei Gorshkov, Sea Power and the State, London 1979. Morgan, Morgan, loc. cit. Jenderal George S. Brown (USAF) C-JCS, Statement to the Congress on the Defense Posture of the United States For Fiscal Year, 1979, hal. 103; National Security Council, Review of Non-Fuel Mineral Policy (Washington DC, 1979); Drew Middleton, The New York Times (9/15/79); Time, 9/21/80.

[5] Elie Kedourie, The End of the Ottoman Empire, Journal of Contemporary History, Vol. 3, No. 4, 1968.

[6] Al-Thawra Suriah 12/20/79, Al-Ahram 12/30/79, Al Ba’ath Suriah, 5/6/79. 55% orang Arab berusia 20 tahun dan lebih muda, 70% orang Arab tinggal di Afrika, 55% orang Arab di bawah 15 menganggur, 33% hidup di wilayah perkotaan, Oded Yinon, Egypt’s Population Problem, The Jerusalem Quarterly, No. 15, Musim Semi 1980.

[7] E. Kanovsky, Arab Haves and Have Nots, The Jerusalem Quarterly, No. 1, Musim Gugur 1976, Al Ba’ath Syria 5/6/79.

[8] Dalam bukunya, mantan Perdana Menteri Yitzhak Rabin menyebut pemerintah Israel bertanggungjawab atas desain kebijakan Amerika di Timur Tengah setelah Juni 67, lantaran ketidaktegasannya sendiri mengenai masa depan teritori dan inkonsistensi sikapnya sejak mengadakan dasar untuk Resolusi 242 dan tentu saja 12 tahun kemudian untuk perjanjian Camp David dan traktat perdamaian dengan Mesir. Menurut Rabin, pada 19 Juni 1967, Presiden Johnson mengirim surat kepada Perdana Menteri Eshkol. Di dalamnya dia tidak menyebut apa-apa soal penarikan mundur dari teritori baru tapi persis di hari yang sama pemerintah memutuskan mengembalikan teritori sebagai balasan perdamaian. Setelah resolusi Arab di Khartoum (9/1/67), pemerintah mengubah sikapnya, tapi, berlawanan dengan keputusannya pada 19 Juni, tidak memberitahu AS akan perubahan ini dan AS terus mendukung Resolusi 242 di Dewan Keamanan dengan alasan Israel siap mengembalikan teritori. Pada titik itu, sudah terlambat untuk mengubah posisi AS dan kebijakan Israel. Dari sini jalan terbuka lebar untuk perjanjian damai atas dasar Resolusi 242 sebagaimana kemudian disepakati di Camp David. Lihat Yitzhak Rabin, Pinkas Sherut, Ma’ariv 1979, hal. 226-227.

[9] Ketua Komite Luar Negeri dan Pertahanan Prof. Moshe Arens berargumen dalam sebuah wawancara (Ma’ariv 10/3/80) bahwa pemerintah Israel tidak menyiapkan rencana ekonomi sebelum perjanjian Camp David dan dikejutkan oleh ongkos perjanjian, walaupun selama negosiasi mungkin sudah menghitung harga mahal dan kesalahan serius dengan tidak menyiapkan dasar ekonomi untuk perdamaian.

Mantan Menteri Keuangan, Tn. Yigal Holwitz, menyatakan bahwa kalau bukan karena penarikan mundur dari ladang-ladang minyak, Israel akan punya neraca pembayaran positif (9/17/80). Dia juga mengatakan dua tahun sebelumnya bahwa pemerintah Israel (dia mengundurkan diri dari jabatannya) telah menjerat lehernya. Dia merujuk pada perjanjian Camp David (Ha’aretz 11/3/78). Sepanjang negosiasi perdamaian, tak ada pakar ataupun penasehat ekonomi yang diajak berkonsultasi, dan Perdana Menteri sendiri, yang kurang pengetahuan dan keahlian ekonomi, dalam inisiatif keliru meminta AS memberi kita pinjaman, bukannya hibah, karena ingin mempertahankan rasa hormat kita dan rasa hormat AS pada kita. Lihat Ha’aretz 1/5/79, Jerusalem Post 9/7/79. Prof. Asaf Razi, dulunya konsultan senior di depertemen Keuangan, mengkritik keras cara negosiasi, Ha’aretz 5/579, Ma’ariv 9/7/79. Adapun menyangkut ladang minyak dan krisis energi Israel, lihat wawancara dengan Tn. Eitan Eisenberg, penasehat pemerintah dalam urusan tersebut, Ma’ariv Weekly 12/12/78. Menteri Energi, yang secara langsung menandatangani perjanjian Camp David dan pengosongan Sdeh Alma, sejak saat itu lebih dari satu kali menekankan seriusnya kondisi kita dari segi pasokan minyak, lihat Yediot Ahronot 7/20/79. Menteri Energi Modai bahkan mengakui pemerintah tak berkonsultasi dengan dirinya sama sekali perihal minyak selama negosiasi Camp David dan Blair House, Ha’aretz 8/22/79.

[10] Banyak sumber melaporkan pertumbuhan anggaran senjata di Mesir dan niat untuk melebihkan militer dalam anggaran masa damai di atas kebutuhan domestik sehingga perdamaian diduga diperoleh. Lihat wawancara mantan Perdana Menteri Mamduh Salam 12/18/77, Menteri Keuangan Abd El Sayeh 7/25/78, dan koran Al Akhbar 12/2/78, yang jelas-jelas menekankan anggaran militer akan mendapat prioritas pertama, terlepas dari adanya proses perdamaian. Inilah yang dinyatakan mantan Perdana Menteri Mustafa Khalil dalam dokumen program kabinet yang dipresentasikan ke Parlemen, 11/25/78/ Lihat terjemahan bahasa Inggris, ICA, FBIS, 27 November 1978, hal. D1-10. Menurut sumber-sumber ini, anggaran militer Mesir naik 10% antara tahun fiskal 1977 s/d 1978, dan proses ini masih berlangsung. Sebuah sumber Saudi membocorkan bahwa Mesir berencana menaikkan anggaran militer mereka sebesar 100% dalam dua tahun ke depan, Ha’aretz 2/12/79 dan Jerusalem Post 1/14/79.

[11] Kebanyakan taksiran ekonomi menyangsikan kemampuan Mesir dalam merekonstruksi perekonomiannya pada 1982. Lihat Economic Intelligence Unit, 1978, suplemen The Arab Republic of Egypt; E. Kanovsky, Recent Economic Developments in the Middle East, Occasional Papers, The Shiloah Institution, Juni 1977; Kanovsky, The Egyptian Economy Since the Mid-Sixties, The Micro Sectors, Occasional Papers, Juni 1978; Robert McNamara, Presiden Bank Dunia, sebagaimana diliput dalam Times, London, 1/24/78.

[12] Lihat perbandingan yang dibuat oleh riset Institute for Strategic Studies (ISS) di London dan riset yang terbit di Center for Strategic Studies (CSS) Universitas Tel Aviv, serta riset oleh ilmuwan Inggris, Denis Champlin, Military Review November 1979 (ISS, The Military Balance 1979-1980; CSS, Security Arrangements in Sinai karangan Brigadir Jenderal (mengundurkan diri) A. Shalev, No. 3.0; CSS, The Military Balance and the Military Option after the Peace Treaty with Egypt, karangan Brig. Gen. (mengundurkan diri) Y. Raviv, No. 4, Desember 1978; dan banyak laporan pers termasuk Al Hawadeth, London, 3/7/80, El Watan El Arabi, Paris, 12/14/79).

[13] Adapun gejolak keagamaan di Mesir dan hubungan antara Koptik dan Muslim, lihat seri artikel yang dipublikasikan di koran Kuwait, El Qabas, 9/15/80. Penulis Inggris Irene Beeson melaporkan keretakan antara Muslim dan Koptik, lihat Irene Beeson, Guardian, London, 6/24/80, dan Desmond Stewart, Middle East International, London, 6/6/80. Untuk laporan lain lihat Pamela Ann Smith, Guardian, London, 12/24/79; The Christian Science Monitor 12/27/79; serta Al Dustour, London, 10/15/79; El Kefah El Arabi, 10/15/79.

[14] Arab Press Service, Beirut, 8/6-13/80. The New Republic, 8/16/80, Der Spiegel sebagaimana dikutip oleh Ha’aretz, 3/21/80, dan 4/30-5/5/80; The Economist, 3/22/80; Robert Fisk, Times, London, 3/26/80; Ellsworth Jones, Sunday Times, 3/30/80.

[15] J.P. Peroncell Hugoz, Le Monde, Paris 4/28/80; Dr. Abbas Kelidar, Middle East Review, Musim Panas 1979; Conflict Studies, ISS, Juli 1975; Andreas Kolschitter, Der Zeit, Ha’aretz 9/21/79; Economist Foreign Report, 10/10/79; Afro-Asian Affairs, London, Juli 1979.

[16] Arnold Hottinger, The Rich Arab States in Trouble, The New York Review of Books, 5/15/80; Arab Press Service, Beirut, 6/25-7/2/80; U.S. News and World Report, 11/5/79 serta El Ahram, 11/9/79; El Nahar El Arabi Wal Duwali, Paris 9/7/79; El Hawadeth, 11/9/79; David Hakham, Monthly Review, IDF, Januari-Februari 79.

[17] Adapun kebijakan dan permasalahan Yordania, lihat El Nahar El Arabi Wal Duwali, 4/30/79, 7/2/79; Prof. Elie Kedouri, Ma’ariv 6/8/79; Prof. Tanter, Davar 7/12/79; A. Safdi, Jerusalem Post, 5/31/79; El Watan El Arabi 11/28/79; El Qabas, 11/19/79. Sedangkan untuk posisi PLO, lihat: Resolusi Kongres Keempat Fatah, Damaskus, Agustus 1980. Program Shefa’amr warga Arab Israel dipublikasikan dalam Ha’aretz, 9/24/80, dan oleh Arab Press Report 6/18/80. Untuk fakta dan angka mengenai imigrasi orang Arab ke Yordania, lihat Amos Ben Vered, Ha’aretz, 2/16/77; Yossef Zuriel, Ma’ariv 1/12/80. Dan sikap PLO terhadap Israel, lihat Shlomo Gazit, Monthly Review; Juli 1980; Hani El Hasan dalam sebuah wawancara, Al Rai Al’Am, Kuwait 4/15/80; Avi Plaskov, The Palestinian Problem, Survival, ISS, London Januari-Februari 78; David Gutrnann, The Palestinian Myth, Commentary, October 75; Bernard Lewis, The Palestinians and the PLO, Commentary, Januari 75; Monday Morning, Beirut, 8/18-21/80; Journal of Palestine Studies, Musim Dingin 1980.

[18] Prof. Yuval Neeman, Samaria–The Basis for Israel’s Security, Ma’arakhot 272-273, Mei/Juni 1980; Ya’akov Hasdai, Peace, the Way and the Right to Know, Dvar Hashavua, 2/23/80. Aharon Yariv, Strategic Depth—An Israeli Perspective, Ma’arakhot 270-271, Oktober 1979; Yitzhak Rabin, Israel’s Defense Problems in the Eighties, Ma’arakhot Oktober 1979.

[19] Ezra Zohar, In the Regime’s Pliers (Shikmona, 1974); Motti Heinrich, Do We have a Chance Israel, Truth Versus Legend (Reshafim, 1981).

[20] Henry Kissinger, The Lessons of the Past, The Washington Review Vol 1, Jan. 1978; Arthur Ross, OPEC’s Challenge to the West, The Washington Quarterly, Musim Dingin 1980; Walter Levy, Oil and the Decline of the West, Foreign Affairs, Musim Panas 1980; Laporan Khusus Our Armed Forees-Ready or Not? U.S. News and World Report 10/10/77; Stanley Hoffman, Reflections on the Present Danger, The New York Review of Books 3/6/80; Time 4/3/80; Leopold Lavedez, The illusions of SALT, Commentary Sept. 79; Norman Podhoretz, The Present Danger, Commentary Maret 1980; Robert Tucker, Oil and American Power Six Years Later, Commentary Sept. 1979; Norman Podhoretz, The Abandonment of Israel, Commentary Juli 1976; Elie Kedourie, Misreading the Middle East, Commentary Juli 1979.

[21] Berdasarkan angka-angka yang dipublikasikan oleh Ya’akov Karoz, Yediot Ahronot 10/17/80, jumlah total insiden anti-Semi yang tercatat di seluruh dunia pada 1979 adalah dua kali lipat dari jumlah di tahun 1978. DI Jerman, Prancis, dan Inggris, jumlah insiden anti-Semit berkali-kali lipat lebih besar di tahun itu. Di AS juga terdapat kenaikan tajam menurut laporan artikel tersebut. Untuk anti-Semitisme baru, lihat L. Talmon, The New Anti-Semitism, The New Republic, 9/18/1976; Barbara Tuchman, They Poisoned the Wells, Newsweek 2/3/75.

2 thoughts on “Rencana Yinon – Rencana Zionis untuk Timur Tengah

  1. IMAM MAHDI MENYERU
    BENTUKLAH PASUKAN MILITER PADA SETIAP ZONA ISLAM
    SAMBUTLAH UNDANGAN PASUKAN KOMANDO BENDERA HITAM
    Negara Khilafah Islam Ad Daulatul Islamiyah Melayu

    Untuk para Rijalus Shaleh dimana saja kalian berada,
    bukankah waktu subuh sudah dekat? keluarlah dan hunuslah senjata kalian.

    Dengan memohon Ijin Mu Ya Allah Engkaulah Pemilik Asmaul Husna, Ya Dzulzalalil Matien kami memohon dengan namaMu yang Agung
    Pemilik Tentara langit dan Bumi perkenankanlah kami menggunakan seluruh Anasir Alam untuk kami gunakan sebagai Tentara Islam untuk Menghancurkan seluruh Kekuatan kekufuran, kemusyrikan dan kemunafiqan yang sudah merajalela di muka bumi ini hingga Dien Islam saja yang berdaulat , tegak perkasa dan hanya engkau saja Ya Allah yang berhak disembah !

    Firman Allah: at-Taubah 38, 39
    Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu jika dikatakan orang kepadamu: “Berperanglah kamu pada jalan Allah”, lalu kamu berlambat-lambat (duduk) ditanah? Adakah kamu suka dengan kehidupan didunia ini daripada akhirat? Maka tak adalah kesukaan hidup di dunia, diperbandingkan dengan akhirat, melainkan sedikit
    sekali. Jika kamu tiada mahu berperang, nescaya Allah menyiksamu dengan azab yang pedih dan Dia akan menukar kamu dengan kaum yang lain, sedang kamu tiada melarat kepada Allah sedikit pun. Allah Maha kuasa atas tiap-tiap sesuatu.

    Berjihad itu adalah satu perintah Allah yang Maha Tinggi, sedangkan mengabaikan Jihad itu adalah satu pengingkaran dan kedurhakaan yang besar terhadap Allah!

    Firman Allah: al-Anfal 39
    Dan perangilah mereka sehingga tidak ada fitnah lagi, dan jadilah agama untuk Allah.

    Peraturan dan undang-undang ciptaan manusia itu adalah kekufuran, dan setiap kekufuran itu disifatkan Allah sebagai penindasan, kezaliman, ancaman, kejahatan dan kerusakan kepada manusia di bumi.
    Ketahuilah !, Semua Negara Didunia ini adalah Negara Boneka Dajjal

    Allah Memerintahkan Kami untuk menghancurkan dan memerangi Pemerintahan dan kedaulatan Sekular-Nasionalis-Demokratik-Kapitalis yang mengabdikan manusia kepada sesama manusia karena itu adalah FITNAH

    Firman Allah: al-Hajj 39, 40
    Telah diizinkan (berperang) kepada orang-orang yang diperangi, disebabkan mereka dizalimi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa untuk menolong mereka itu. Iaitu
    orang-orang yang diusir dari negerinya, tanpa kebenaran, melainkan karena mengatakan: Tuhan kami ialah Allah

    Firman Allah: an-Nisa 75
    Mengapakah kamu tidak berperang di jalan Allah untuk (membantu) orang-orang tertindas. yang terdiri daripada lelaki, perempuan-perempuan dan kanak-kanak .
    Dan penindasan itu lebih besar dosanya daripada pembunuhan(al-Baqarah 217)

    Firman Allah: at-Taubah 36, 73
    Perangilah orang-orang musyrik semuanya sebagai mana mereka memerangi kamu semuanya. Ketahuilah bahawa Allah bersama orang-orang yang taqwa. Wahai Nabi! Berperanglah terhadap orang-orang kafir dan munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka.

    Firman Allah: at-Taubah 29,
    Perangilah orang-orang yang tidak beriman, mereka tiada mengharamkan apa yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya dan tiada pula beragama dengan agama yang benar, (iaitu) diantara ahli-ahli kitab, kecuali jika mereka membayar jizyah dengan tangannya sendiri sedang mereka orang yang tunduk..

    Bentuklah secara rahasia Pasukan Jihad Perang setiap Regu minimal dengan 3 Anggota maksimal 12 anggota per desa / kampung.
    Siapkan Pimpinan intelijen Pasukan Komando Panji Hitam secara matang terencana, lakukan analisis lingkungan terpadu.

    Apabila sudah terbentuk kemudian Daftarkan Regu Mujahid
    ke Markas Besar Angkatan Perang Pasukan Komando Bendera Hitam
    Negara Khilafah Islam Ad Daulatul Islamiyah Melayu

    Wahai para Ikwan Akhir Zaman, Khilafah Islam sedang membutuhkan
    para Mujahid Tangguh untuk persiapan tempur menjelang Tegaknya Khilafah yang dijanjikan.

    Mari Bertempur dan Berjihad dalam Naungan Pemerintah Khilafah Islam, berpalinglah dari Nasionalisme (kemusyrikan)

    email : seleksidim@yandex.com

    Dipublikasikan
    Markas Besar Angkatan Perang
    Khilafah Islam Ad Daulatul Islamiyah Melayu

  2. UNDANGAN GUBENUR MILITER KHILAFAH ISLAM
    PASUKAN KOMANDO BENDERA HITAM WILAYAH ASIA TENGGARA
    NEGARA KHILAFAH ISLAM AD DAULATUL ISLAMIYAH MELAYU

    Untuk Wali Wali Allah dimana saja kalian berada
    Sekarang keluarlah, Hunuslah Pedang dan Asahlah Tajam-Tajam

    Api Jihad Fisabilillah Akhir Zaman telah kami kobarkan
    Panji-Panji Perang Nabimu sudah kami kibarkan
    Arasy KeagunganMu sudah bergetar Hebat Ya Allah,

    Wahai Allah yang Maha Pengasih Maha Penyayang
    hamba memohon kepadaMu keluarkan para Muqarrabin bersama kami

    Allahumma a’izzal islam wal muslim wa adzillas syirka wal musyrikin wa

    dammir a’da aka a’da addin wa iradaka suui ‘alaihim yaa Robbal

    ‘alamin.

    Wahai ALLAH muliakanlah islam dan Kaum Muslimin, hinakan dan

    rendahkanlah kesyirikan dan pelaku kemusyrikan dan hancurkanlah

    musuh-mu dan musuh agama-mu dengan keburukan wahai RABB
    semesta alam.

    Allahumma ‘adzdzibil kafarotalladzina yashudduna ‘ansabilika, wa

    yukadzdzibuna min rusulika wa yuqotiluna min awliyaika.

    Wahai ALLAH berilah adzab…. wahai ALLAH berilah adzab…. wahai ALLAH

    berilah adzab…. orang-oramg kafir yang telah menghalang-halangi kami

    dari jalan-Mu, yang telah mendustakan-Mu dan telah membunuh Para

    Wali-Mu, Para Kekasih-Mu

    Allahumma farriq jam’ahum wa syattit syamlahum wa zilzal aqdamahum wa

    bilkhusus min yahuud wa syarikatihim innaka ‘ala kulli syaiin qodir.

    Wahai ALLAH pecah belahlah, hancur leburkanlah kelompok mereka, porak

    porandakanlah mereka dan goncangkanlah kedudukan mereka, goncangkanlah

    hati hati mereka terlebih khusus dari orang-orang yahudi dan sekutu-

    sekutu mereka. sesungguhnya ENGKAU Maha Berkuasa.

    Allahumma shuril islam wal ikhwana wal mujahidina fii kulli makan yaa

    rabbal ‘alamin.

    Wahai ALLAH tolonglah Islam dan saudara kami dan Para Mujahid dimana

    saja mereka berada wahai RABB Semesta Alam.
    Aamiin Yaa Robbal ‘Alamin

    Wahai Wali-wali Allah Kemarilah, Datanglah dan Berkujunglah dan

    bergabunglah bersama kami kami Ahlul Baitmu

    Al Qur`an adalah manhaj (petunjuk jalan) bagi para Da`i yang menempuh

    jalan dien ini sampai hari kiamat, Kami akan bawa anda untuk mengikuti

    jejak langkah penghulu para rasul Muhammad SAW dan pemimpin semua umat

    manusia.

    Hai kaumku ikutilah aku, aku akan menunjukan kepadamu jalan yang benar

    (QS. Al-Mu’min :38)

    Wahai para Ikwan Akhir Zaman, Khilafah Islam sedang membutuhkan
    para Mujahid Tangguh untuk persiapan tempur menjelang Tegaknya

    Khilafah yang dijanjikan.

    Mari Bertempur dan Berjihad dalam Naungan Pemerintah Khilafah Islam,

    berpalinglah dari Nasionalisme (kemusyrikan)

    Masukan Kode yang sesuai dengan Bakat Karunia Allah yang Antum miliki.

    301. Pasukan Bendera Hitam
    Batalion Pembunuh Thogut / Tokoh-tokoh Politik Musuh Islam

    302. Pasukan Bendera Hitam Batalion Serbu
    – ahli segala macam pertempuran
    – ahli Membunuh secara cepat
    – ahli Bela diri jarak dekat
    – Ahli Perang Geriliya Kota dan Pegunungan

    303. Pasukan Bendera Hitam Batalion Misi Pasukan Rahasia
    – Ahli Pelakukan pengintaian Jarak Dekat / Jauh
    – Ahli Pembuat BOM / Racun
    – Ahli Sandera
    – Ahli Sabotase

    304. Pasukan Bendera Hitam
    Batalion Elit Garda Tentara Khilafah Islam

    305. Pasukan Bendera Hitam Batalion Pasukan Rahasia Cyber Death
    – ahli linux kernel, bahasa C, Javascript
    – Ahli Gelombang Mikro / Spektrum
    – Ahli enkripsi cryptographi
    – Ahli Satelit / Nuklir
    – Ahli Pembuat infra merah / Radar
    – Ahli Membuat Virus Death
    – Ahli infiltrasi Sistem Pakar

    masukan dalam email kode yang dikehendaki
    misalnya 301 : (untuk batalion pembunuhh Thogut / tokoh-politik)

    Disebarluaskan
    MARKAS BESAR ANGKATAN PERANG
    PASUKAN KOMANDO BENDERA HITAM
    KHILAFAH ISLAM AD DAULATUL ISLAMIYAH MELAYU

    Fata At Tamimi
    singahitam@hmamail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s