Informan? Tersangka Teror Paris Pernah Bertemu Presiden Prancis Sarkozy Pada 2009

Oleh: 21Wire
10 Januari 2015
(Sumber: 21stcenturywire.com)

Semua detil yang pernah saya sebutkan dalam kisah 9/11 Paris berkenaan dengan operasi bendera palsu kini bermunculan.

Pengepungan yang mengakibatkan kebuntuan disertai laporan penyanderaan memuat tanda-tanda peristiwa bendera palsu.

Bahkan, tersangka ketiga dalam peristiwa penembakan Paris pekan ini, Amedi Coulibaly, pernah bertemu Presiden Prancis Nicholas Sarkozy pada 2009, saat dia berumur 27 tahun (lihat gambar artikel di bawah). Kisah ini juga dapat ditemukan secara daring di Le Parisien.

Kita diberitahu bahwa Coulibaly, 32 tahun, keturunan Prancis-Senegal, adalah penembak dalam peristiwa penembakan polisi wanita Prancis pada hari Kamis di distrik selatan Montrouge, Paris, yang kemudian masuk ke toko sembako kosher di distrik Port de Vincennes, Paris, Jumat pagi. Kita diberitahu bahwa dia ditemani oleh “kekasih”-nya, Hayat Boumeddiene, 26 tahun, yang masih diburu dan “dalam pelarian”, kata pihak berwenang.

Puncaknya, sekarang kita diberitahu bahwa tamu makan malam Pentagon dan aset CIA Anwar al-Awlaki juga berafiliasi dengan tersangka Kouachi bersaudara, menurut laporan dia mengirim pendanaan. Cerita ini terdengar seperti thriller film klasik Hollywood, Taken, tapi saya kira Liam Neeson terlalu sibuk merekam bagian 17 sehingga tak bisa menjadi penyelamat. Tidakkah tokoh-tokoh yang bergaul dengan para teroris ini ada sangkutpautnya?

Laporan suratkabar: “Teroris” pekan ini adalah anak poster pemerintah kemarin.
Laporan suratkabar: “Teroris” pekan ini adalah anak poster pemerintah kemarin.

Juli 2009, tersangka penyanderaan toko sembako kosher, Coulibaly, memainkan peran bintang untuk jabatan Presiden Sarkozy kala itu, berpartisipasi dalam acara pencitraan pemerintah yang dipentaskan.

Dengan asumsi semua peserta pertunjukan telah diperiksa oleh kantor Presiden sebelum acara, kita harus bertanya mengapa staf Sakozy sampai melewatkan fakta bahwa menurut L’Obs, Coulibaly baru saja dipenjara di Fleury-Mérogis (2005-2006) bersama tersangka Cherif Kouachi. Sebagai tambahan, pada saat itu pihak berwenang Prancis juga sadar bahwa Coulibaly sudah “teradikalkan” di penjara. Guardian memberitakan:

“Media Prancis memberitakan bahwa Coulibaly berpindah agama dan menjadi radikal di penjara. Setelah musim pertama di penjara atas [kasus] perampokan bersenjata, dia dikabarkan merintis perdagangan narkoba dan menjalani hukuman kedua.”
Apakah ini acara audisi, atau bagian dari pembentukan kedok Coulibaly?

Kaget rasanya mendengar seberapa jauh Coulibaly terlibat dalam dua, bukan satu, dari kasus teror tingkat tinggi Dinas Keamanan Prancis selama beberapa tahun belakangan. Menurut Washington Post, hanya 10 bulan pasca pengenalannya kepada Sarkozy, polisi menggeledah apartemen Coulibaly dan menemukan senjata dalam jumlah besar, termasuk 240 selongsong amunisi berat (240 peluru kaliber 7,62 mm) dan foto-foto dirinya bersama salah seorang teroris target utama Prancis dan CIA, muslim radikal Djamel Beghal Murat, yang disebut AS sebagai “perekrut al-Qaeda di Eropa” dan yang merencanakan serangan terhadap Kedubes AS di Paris pada 2010. Untuk alasan yang tak diketahui, Coulibaly dibiarkan berjalan bebas, padahal dia kembali dijatuhi hukuman penjara 5 tahun pada 2013 atas perannya dalam perencanaan upaya kabur (gagal) seorang ikon teror Prancis lain, Ait Ali Belkacem Smain, dalang di balik Armed Islamic Group (GIA) Prancis yang menunggangi serangan Paris 1995.

Kalau merujuk pada profil-profil informan teroris, posisi Coulibaly bisa dianggap berlapis emas, tapi poin ini diabaikan sama sekali—jika bukan dilindungi—oleh media mainstream.

Terjemahan dan tip berita dengan courtesy dari Dutchsinse:

“Perjumpaan improbabel antara Nicolas Sarkozy, Presiden Prancis kala itu, dan Amedy Coulibaly, pria bersenjata yang dicurigai membunuh seorang polisi wanita dan menyandera lima orang di toko sembako kosher di timur Paris hari ini.”

“Pertemuan berlangsung pada 2009 di Élysée Palace ketika Tn. Sarkozy bertemu sembilan pemuda Prancis yang baru mendapat pekerjaan di pabrik setempat. Mereka semua berasal dari kota Grigny, sebuah kota pinggiran Paris yang keras, yang dikoyak kerusuhan 10 tahun silam.”

Dari laporan berita lokal, ‘Teroris’ Coulibaly saat itu menjelaskan, “Sarkozy tidak terlalu populer di antara pemuda di wilayah ini. Tapi itu bukan bersifat pribadi. Malah itu biasa untuk mayoritas politisi,” kata Coulibaly. “Perjumpaan itu betul-betul membuat saya terkesan. Suka atau tidak, dia tetap presiden.”

Dalam benak saya, cerita ini membangkitkan ingatan tentang skandal yang melibatkan Dominique Strauss-Kahn, dan kemungkinan besar ada kaitannya dengan poros kekuatan Anglo yang tak suka perputaran potensial Prancis ke arah Palestina dan Rusia.

Namun, saya takkan menaruh banyak harapan pada Grand Orient, langkah Hollande ke arah Palestina—di mana PBB memainkan peran masif dalam isu Palestina.

Sementara itu, AS telah membantu dan melatih para Jihadis ini, bukan sejak rezim Obama, tapi sejak Zbigniew Brzezinski dan Robert Gates, sebagaimana Anda ingat. Dan sebelum itu, intelijen Inggris melakukannya selama seratus tahun.

“Tuhan ada di pihak kalian!” kata Brzezinski kepada Mujahidin di Pakistan pada 1979. Selama masyarakat tetap terkecoh, siklus tua ini akan berlanjut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s