Israel Halangi “Pengungsi” Dengan Membangun Tembok—Sementara Yahudi Mendukung Invasi “Pengungsi” Atas Eropa

7 September 2015
(Sumber: www.newobserveronline.com)

Sekali lagi, dalam pertunjukan Supremasisme Yahudi hipokrit yang mencengangkan, pemerintah Israel menolak menerima satupun “pengungsi” dari Suriah atau Afrika—dan sedang membangun tembok baru untuk mencegah mereka masuk—sementara kaum Yahudi pendukung Israel di Eropa dan Amerika terus menuntut negara-negara non-Yahudi agar menerima semua agresor Dunia Ketiga tanpa ragu.

Jerusalem Post - Netanyahu Border

Menurut laporan di Jerusalem Post, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah menyatakan Israel “tidak akan menerima pengungsi dari Suriah”.

Jerusalem Post mengutip perkataan Netanyahu, “Hari ini kami memulai konstruksi pagar keamanan di perbatasan timur, sebagai kelanjutan pagar keamanan yang kami bangun di perbatasan Mesir, dan pada akhirnya akan bersambung dengan pagar keamanan yang kami bangun di Dataran Tinggi Golan. Tujuan pembangunan pagar ini adalah mengulangi apa yang dikerjakan di perbatasan Mesir, di mana perampungan pagar keamanan telah mencegat banjir migran ilegal ke dalam negara ini.”

Israel PM Office - Statement Borders

Pernyataan terdahulu dari kantor Netanyahu mengutip Perdana Menteri di sebuah rapat kabinet bahwa “Israel adalah negara kecil, amat kecil, yang kurang akan kedalaman demografis dan geografis. Oleh sebab itu, kami harus mengawasi perbatasan kami, terhadap migran ilegal maupun terorisme.”

Malah, Israel juga melarang non-Yahudi, sebagaimana didefinisikan secara rasial oleh negara itu, untuk berimigrasi ke Israel sama sekali, tak peduli dari mana mereka berasal.

Oleh karena itu Israel mengambil semua langkah yang diperlukan: pendirian rintangan fisik, penangkapan, deportasi, dan penolakan masuk bagi semua imigran ilegal demi mempertahankan “demografi”-nya—dengan kata lain, demi mempertahankan identitasnya.

Tapi organisasi-organisasi resmi Yahudi pendukung Israel di luar Israel—termasuk, tapi tidak terbatas pada, World Jewish Congress, Anti-Defamation League (ADL) di Amerika, Board of Deputies of British Jews, Conseil Représentatif des Institutions juives de France (CRIF) di Prancis, dan Zentralrat der Juden di Jerman, semuanya menyerukan negara-negara Eropa “menerima” para “pengungsi” yang ditolak negara mereka, Israel.

World Jewish Congress, dalam pernyataan resmi yang ditulis Deputi CEO Diplomacy Maram Stern, mengumumkan bahwa “penutupan perbatasan Eropa bukanlah jawaban tepat terhadap krisis pengungsi”—padahal Israel justru melakukannya.

WJC - Krisis Pengungsi

WJC lalu menyebut “tak bermoral” jika perbatasan ditutup, menambahkan bahwa “Eropa perlu bertindak sekarang. Eropa perlu bertindak sebagai kesatuan, dan bukan masing-masing negara secara terpisah dan berbeda. Ini hari yang baik untuk persatuan barisan menuju sikap lebih bertanggungjawab. Jawaban kita bukan tutup pintu. Itu bukan cuma akan gagal, itu tak bermoral.”

WJC, tentu saja, memiliki sebuah divisi yang dicurahkan untuk mendukung Israel—yang, sebagaimana diuraikan di atas, telah “menutup” perbatasannya—tindakan yang mereka sebut “tak bermoral” jika dilakukan oleh suatu negara Eropa.

WJC - Supporting Israel

Di Amerika, direktur nasional Anti-Defamation League, Jonathan Greenblatt, berkata dalam pernyataan resmi:

“Sebagai Yahudi, kami sangat terharu oleh gambar-gambar pria, wanita, dan anak-anak dipaksa meninggalkan rumah demi menyelamatkan diri, tapi justru merasa tak diinginkan di tempat manapun. Para pemimpin dunia tak boleh membelakangi komitmen fundamental bagi perlindungan pengungsi dan harus bekerja untuk mempermukimkan keluarga-keluarga ini secara manusiawi dan pantas.”

ADL - Krisis Migran

Di saat yang sama, ADL secara fanatik mendukung Israel dan mempunyai seksi yang dicurahkan untuk menjelaskan cara membela Israel kepada para pendukungnya.

ADL - Supporting Israel

Tapi Israel, sebagaimana diuraikan di atas, baru saja mengumumkan kebijakan yang bertolak belakang dengan seruan ADL agar pemimpin-pemimpin dunia tidak “membelakangi komitemen fundamental bagi perlindungan pengungsi”—dan sibuk membangun tembok raksasa untuk mencegah masuk para pengungsi “tak diinginkan” ini.

Di Inggris, Board of Deputies of British Jews menerbitkan pernyataan yang diawali dengan tukilan dari Alkitab: “Orang asing janganlah kamu tekan, karena kamu sendiri telah mengenal keadaan jiwa orang, sebab kamu pun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir (Keluaran 23:9),” dan kemudian mengutip seruan Wakil Presiden Senior Richard Verber kepada pemerintah untuk “bertindak dengan kasih dan kepedulian terhadap sesama manusia.”

BOD - Pengungsi

Sekali lagi, permohonan ini bertolak belakang dengan kebijakan yang dianut Israel—yang didukung tegas oleh Board of Deputies (lihat “tumbuh sepasukan kelompok akar rumput yang bekerja untuk membela Israel”, 21 Oktober 2014)—tapi untuk alasan yang sama, Board of Deputies memandang layak menerapkan kaidah alkitab “sambutan kepada orang asing” pada negara-negara non-Yahudi saja—dan mengabaikannya dalam kasus Israel.

BOD - Supports Israel

Di Prancis, Conseil Représentatif des Institutions juives de France (Representative Council of Jews in France, atau CRIF) telah menerbitkan pernyataan yang menyeru “para pemimpin Eropa agar menangani isu ini [‘migran’] dengan perikemanusiaan dan kasih.”

CRIF - Pengungsi

Dalam artikel lain yang ditulis Marc Knobel, Direktur Studies di CRIF, dia mendesak Eropa menerima semua “pengungsi”, menyebut “respons bersama Eropa diperlukan untuk memastikan fasilitas tambahan: penyambutan kedatangan, pertolongan dalam pemeriksaan kasus-kasus suaka, serta identifikasi solusi untuk orang-orang yang butuh perlindungan internasional.”

CRIF - Pengungsi

Tapi Israel, yang didukung CRIF dengan seksi berjudul “Stand by Israel”, menolak membiarkan masuk “pengungsi”, apalagi memberi mereka “penyambutan kedatangan” atau “pertolongan dalam pemeriksaan kasus-kasus suaka”.

CRIF - Support Israel

Bahkan, Israel rutin mendeportasi “pencari suaka” yang berhasil menyelinap ke balik pagar, dan merancang kebijakan imigrasi untuk melarang masuk semua non-Yahudi.

Kontradiksi ini tampaknya tidak mengusik CRIF atau organisasi Yahudi lain.

Terakhir, Zentralrat der Juden (Central Council of Jews) di Jerman, juga mengungkapkan dukungannya agar negara itu menerima semua “pengungsi”. Dalam wawancara dengan Süddeutsche Zeitung (“Die Aussagen Seehofers bergen eine Gefahr”, 24 Juli 2015), Ketua Central Council of German Jews, Josef Schuster, menyatakan Jerman “harus memasukkan orang-orang yang lari dari perang saudara di negara mereka, sebagaimana rakyat Suriah saat ini”.

Süddeutsche Zeitung

Zentralrat der Juden adalah, tak perlu dikatakan, pendukung fanatik Israel, yang, sebagaimana ditunjukkan di atas, telah menganut kebijakan bertolak belakang dengan tuntutan Yahudi Jerman untuk negara Jerman.

Maka dari itu kemunafikan Yahudi sangat mencolok dan mencengangkan: di satu sisi, semua organisasi resmi Yahudi mendukung Israel, yang menolak total invasi Dunia Ketiga; sementara, pada saat bersamaan, mereka menuntut negara-negara Eropa menerima semua orang Dunia Ketiga yang Israel tolak.

Kenapa mereka mendukung satu kebijakan di Israel—yang mereka tahu merupakan kepentingan negara tersebut—tapi mendukung kebijakan sebaliknya untuk negara-negara Eropa?

Pembiayaan untuk tembok Israel diambil dari $11 juta per hari pemberian pemerintah AS kepada negara khusus Yahudi itu.

Tembok Israel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s