Lagi-lagi Serangan Bendera Palsu di Paris?

Oleh: Paul Craig Roberts
14 November 2015
(Sumber: www.geopolitics.co & www.paulcraigroberts.org)

Pada Jumat 13 November 2015 pukul 7 malam, kita tak punya banyak informasi soal “serangan teroris” di Paris selain bahwa Paris ditutup seperti Boston pasca “Bom Marathon Boston”, yang juga dicurigai sebagai peristiwa bendera palsu.

Akan ada keterangan yang mungkin dapat dipercaya bahwa serangan Paris adalah serangan teroris sungguhan. Namun, keuntungan apakah yang didapat para pengungsi dari perbuatan menjadikan diri mereka sendiri tak diterima dengan aksi kekerasan terhadap negara tuan rumah, dan di manakah para pengungsi di Prancis memperoleh senjata otomatis dan bom? Bahkan, di mana orang Prancis bisa memperolehnya?

Jutaan pengungsi, korban perang Washington, yang menyerbu Eropa membuat partai-partai nasionalis anti-UE maju ke garis terdepan perpolitikan Eropa, contohnya Pegida di Jerman, UK Independence Party-nya Nigel Farage, dan Partai Front Nasional-nya Marine Le Pen di Prancis. Mereka adalah partai politik anti-UE yang juga anti-imigran.

Jajak pendapat Prancis terbaru menunjukkan bahwa, berkat kaum pengungsi korban perang Washington, Marine Le Pen menjadi kandidat teratas untuk pemilu presiden Prancis berikutnya.

Dengan mendukung perang neokonservatif Washington selama 14 tahun demi hegemoni AS atas Timur Tengah, pemerintah-pemerintah berkuasa Eropa mengikis dukungan elektoral mereka. Rakyat Eropa ingin menjadi Prancis, Jerman, Belanda, Italia, Hongaria, Ceko, Britania. Mereka tak mau negaranya menjadi Menara Babel beraneka ragam yang diciptakan oleh jutaan pengungsi korban perang Washington.

Pegida, Farage, dan Le Pen menawari pemilih untuk mempertahankan kebangsaan mereka.

Sadar akan kerentanannya, mungkin saja penguasa Prancis membuat keputusan untuk melindungi cengkeraman kekuasaan dengan serangan bendera palsu yang akan memungkinkan penguasa menutup perbatasan Prancis dan, dengan begitu, menyingkirkan isu politik utama Marine Le Pen.

Sebagian orang begitu lugu dan dungu sampai berpikir tak ada pemerintah yang tega membunuh warganya sendiri. Padahal pemerintah berbuat itu sepanjang waktu. Serangan bendera palsu, semisal Operasi Gladio, tak terhitung jumlahnya. Operasi Gladio adalah operasi inteijen CIA/Italia yang tanpa ampun mengebom warga Italia tak berdosa, contohnya orang-orang yang sedang menunggu di stasiun kereta, membunuh ratusan, dan kemudian mempersalahkan kekerasan tersebut pada partai-partai komunis Eropa di era pasca Perang Dunia II dalam rangka menghalangi kaum komunis dari raihan elektoral.

Seorang presiden Italia menyingkap fakta soal Operasi Gladio, dan Anda bisa baca rincian kotornya dalam sejumlah buku dan situs. Pengeboman tidak dilakukan oleh kaum komunis, sebagaimana diberitakan luas di media korup Barat. Pengemboman dilakukan oleh intelijen Italia dibantu CIA. Dalam salah satu rapat dengar pendapat Italia, seorang anggota intelijen Italia menyatakan lokasi-lokasi yang akan dibom dipilih untuk memaksimalkan jumlah kematian wanita dan anak, sebab korban-korban ini paling efektif dalam mendiskreditkan komunis.

Berhubung tradisi panjang peragaan serangan bendera palsu Dunia Barat, “serangan teroris” di Paris boleh jadi wujud paling anyar.

Polisi Prancis menolong korban bersimbah darah dekat balai konser Bataclan pasca serangan.
Polisi Prancis menolong korban bersimbah darah dekat balai konser Bataclan pasca serangan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s