Prancis Danai Pemberontak Suriah Dalam Desakan Baru Untuk Lengserkan Assad

Oleh: Martin Chulov
7 Desember 2012
(Sumber: www.theguardian.com)

Uang yang diantarkan oleh proksi-proksi pemerintah Prancis lewat perbatasan Turki dipakai untuk membeli senjata dan amunisi.

Pejuang pemberontak Suriah di Aleppo.  Foto: Odd Andersen/AFP/Getty Images
Pejuang pemberontak Suriah di Aleppo.
Foto: Odd Andersen/AFP/Getty Images

Prancis muncul sebagai penyokong paling menonjol untuk oposisi bersenjata Suriah dan kini mendanai kelompok-kelompok pemberontak di sekitar Aleppo sebagai bagian dari desakan baru untuk melengserkan rezim Assad yang sedang diperangi.

Uang dalam jumlah besar telah diantarkan oleh proksi-proksi pemerintah Prancis lewat perbatasan Turki kepada para komandan pemberontak bulan lalu, sebagaimana dikonfirmasi oleh sumber diplomatik. Uang itu dipakai untuk membeli senjata di Suriah dan untuk mendanai operasi bersenjata melawan pasukan loyalis.

Langkah Prancis belum sampai memasok senjata secara langsung—sebuah jembatan yang belum mau diseberangi oleh negara barat manapun di Suriah. Tapi, menurut para pejabat barat dan Turki serta pemimpin pemberontak, arus masuk uang telah menghasilkan perbedaan pada pekan-pekan belakangan seiring momentum di medan tempur utara terus bergeser ke arah oposisi.

Sebagian dari uang Prancis itu telah menjangkau kelompok-kelompok Islam yang kekurangan amunisi dan terus berpaling ke arah kelompok mujahid sekutu al-Qaida di dan sekitar Aleppo untuk meminta bantuan.

Salah satu kelompok itu, Liwa at-Tawhid, milisi beranggotakan 8.000 orang yang berjuang di bawah panji Free Syrian Army, menyatakan telah mampu membeli amunisi untuk pertama kalinya sejak akhir musim panas, sebuah perkembangan yang akan membantunya melanjutkan operasi militer tanpa dukungan organisasi jihad keras kepala, semacam Jabhat al-Nusra, yang kini memainkan peran penting di Suriah utara.

Suratkabar Prancis Le Figaro memberitakan pekan ini bahwa para penasehat militer Prancis baru-baru ini bertemu kelompok-kelompok pemberontak di Suriah, di sebuah area antara Lebanon dan Damaskus, sebagai bukti lanjutan atas usaha Prancis menaikkan tekanan terhadap Presiden Assad.

Prancis menyebut para pemberontak semestinya diberi “senjata defensif” untuk dipakai melawan rezim dan ia menjadi negara pertama yang mengakui badan politik adaptasi ulang sebagai suara sah rakyat Suriah.

Prancis terus mengalirkan bantuan kemanusiaan dalam bulan-bulan terakhir, termasuk dana ke wilayah kuasaan pemberontak agar “zona terbebaskan” ini dapat mulai memulihkan prasarana dan jasa untuk warga sipil. Pada September, menteri pertahanan Prancis menekankan bahwa Prancis tidak menyediakan senjata.

Menteri Luar Negeri William Hague menambah daya dorong pada desakan anyar untuk mempersenjatai oposisi, sekali lagi mengisyaratkan bahwa Inggris akan mendukung langkah-langkah pencabutan embargo senjata atas pemberontak.

Kesibukan langkah diplomatik pekan ini, usai berbulan-bulan ketumpulan politik, rupanya telah merevitalisasi usaha-usaha oposisi di seluruh Suriah. Diplomasi kalut didorong oleh kekhawatiran bahwa pejabat Suriah akan memakai persediaan senjata kimia sebagai jalan terakhir di medan-medan tempur yang tak berada di bawah kendali mereka.

Kepungan pemberontak terhadap Damaskus kini memasuki pekan kedua. Dan kendati divisi-divisi tentara loyalis tak terancam kehilangan ibukota dalam waktu dekat, satuan militer di tempat-tempat lain sudah kehilangan pengaruh atas banyak tanah dan semakin tertekan menyangkut garis pasokan.

Pemberontak telah ditekan oleh AS, Inggris, Prancis, dan Turki untuk berjuang di bawah komando gabungan dan struktur pengawas dibanding sebagai milisi bermacam-macam, yang kerapkali bekerja untuk tujuan bersilangan.

Dalam pertempuan di Istanbul pada hari Jumat, para komandan Free Syrian Army—lebih sebagai merek ketimbang pasukan pejuang sepanjang perang sipil ini—sepakat untuk mendirikan kepemimpinan terpadu berisi 30 anggota.

Setelah 21 bulan meremukkan kendali negara di Suriah, para diplomat barat di Ankara dan tempat lain di dunia Arab tampaknya menggeser pemikiran mereka dari upaya mengelola dampak ke merencanakan arah masa depan.

“Assad takkan lagi di sini Desember mendatang,” ramal pejabat senior Turki. “Bahkan Rusia sudah melunak soal ini. Dulu saat kami bicara pada mereka tentang enyahnya Assad, ditolak mentah-mentah. Kini mereka mencari landasan bersama dan ingin bertukar pikiran.”

Sang pejabat menyebut, belakangan ini AS juga menaikkan upayanya untuk melengserkan Assad, tapi belum menyinggung pemersenjataan oposisi dan menolak berurusan dengan kelompok-kelompok Islam, semisal Liwa at-Tawhid.

“Apa yang terjadi dengan Jabhat al-Nusra (meraih pengaruh), boleh dibilang adalah buah sikap (AS),” katanya. “Mereka punya model operasi. Dan jika suatu kelompok cocok dengannya, well itu bagus. Tapi jika tidak, mereka dalam masalah. Sebagian dari kelompok-kelompok ini dipaksa berpura-pura sebagai mujahidin demi mendapatkan apa yang mereka mau.”

Pekan ini para pejabat AS menyatakan bahwa Turki tidak siap memimpin respon internasional terhadap Suriah secara langsung dan berharap Washington mengisi kekosongan tersebut.

Peringatan Presiden Barack Obama kepada Assad agar tidak memakai senjata kimia dipandang sebagai sikap ternyaringnya, tapi itu tidak mengisyaratkan pergeseran dari kewaspadaan resmi terhadap oposisi, yang semakin sering dilafalkan seiring menanjaknya kelompok-kelompok mujahid di sekitar Aleppo sejak akhir musim panas.

Turki juga tetap waspada akan ancaman potensial dari senjata kimia. Namun, pejabat tidak yakin para pemimpin rezim yang terpojok akan memakainya.

Ankara akan segera menerima antaran beberapa bateri misil patriot, beserta 400 tentara Jerman yang akan mengoperasikannya sepanjang perbatasan selatan dengan Suriah.

Pejabat menyebut peningkatan kehadiran NATO di Turki memperbesar kemungkinan penggunaan ruang udara dan pangkalan militer Turki sekiranya AS memutuskan untuk merampas persediaan senjata kimia Suriah.

“Itu harus ditangani lewat mekanisme NATO,” kata si pejabat. “Kini kerangkanya sudah ada.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s