Prancis Khianati Israel—Lagi

Oleh: Ari Lieberman
1 Januari 2015
(Sumber: www.frontpagemag.com)

Coba cari istilah “surrender monkey” di Google. Tak heran hasil-hasilnya menempatkan Prancis sebagai negara paling terkait erat dengan istilah peyoratif tersebut. Bahkan, inilah satu-satunya negara yang dikaitkan dengan istilah itu dan untuk alasan yang pantas. Prancis adalah negara penyerahan. Entah dalam perang atau politik, Prancis mempunyai sejarah menyerah dan menguasai seni menusuk dari belakang. Suara “ya” mereka belakangan ini menyangkut pengakuan kenegaraan “Palestina” di Dewan Keamanan PBB sejalan dengan tradisi mereka yang memalukan: menyerah dan berkhianat.

Francois Hollande

Pada 30 Desember, Prancis, bersama pendukung demokrasi lainnya seperti Rusia, Chad, dan Yordania memihak resolusi Palestina berbias yang menjatuhkan dikte pada Israel, memaksa Negara Yahudi itu menarik diri ke perbatasan 4 Juni 1967 paling lambat tahun 2017. Terlebih, resoulsi sepihak itu tidak memperhitungkan keamanan Israel dan klaim wilayah dan mengimplikasikan hak pulang bagi “pengungsi” Arab tak ramah dan keturunan mereka ke Israel sebagaimana mestinya.

Syukurlah, terlepas dari muka dua Prancis, resolusi ini gagal mengumpulkan sembilan suara mutlak yang diperlukan untuk suara penuh Dewan Keamanan PBB, menghemat pengerahan hak veto AS sebagai anggota tetap. Mereka yang berharap Prancis menyuarakan “tidak”, seperti AS dan Australia, atau sekurangnya abstain, seperti lima negara lain, pada dasarnya sedang menipu diri sendiri. Kalau soal muka dua dan sikap khianat, Prancis mengemban tanggungjawabnya.

Prancis juga mempunyai ciri khas sebagai salah satu negara paling anti-Semitik di Eropa. Dalam satu lagi tanda negara berpenyakit dan goyah, warga Yahudi Prancis ramai-ramai beremigrasi ke Israel untuk lari dari kebenican yang mereka alami di negara kelahiran mereka. Warga Yahudi Prancis rutin menjadi sasaran ancaman, pemukulan, vandalisme, penembakan, dan bahkan perkosaan, dan media anti-Israel yang sengit di Prancis memainkan peran tidak kecil dalam menyulut api kebencian.

Diakui, sebagian besar dari anti-Semitisme kontemporer Prancis berkaitan dengan tumbuhnya pengaruh Muslim di Prancis, tapi xenofobia dan penganiayaan Prancis terhadap warga Yahudi berawal jauh sebelum arus masuk Muslim. Pada 1894, para pejabat militer Prancis menahan Alfred Dreyfus, kapten korps artileri Prancis atas tuduhan menyerahkan rahasia militer kepada Jerman. Dreyfus adalah Yahudi dan bagi Prancis itu cukup untuk menguncinya dalam belenggu. Kendati banyak bukti mengarah pada orang Prancis lain, Dreyfus diberhentikan secara tidak hormat dari tentara Prancis dan dibuang ke Pulau Setan di mana dia menjalani kerja paksa selama 5 tahun. Dia dimaafkan pada 1899 tapi butuh 7 tahun perseteruan hukum sebelum dia dibersihkan penuh dari semua pelanggaran.

Semasa Perang Dunia II, tentara Prancis beserta 117 divisinya dikalahkan oleh Jerman dalam enam pekan saja, beberapa pekan lebih lama daripada yang diperlukan Jerman untuk memberangus pejuang perlawanan Yahudi Ghetto Warsawa bersenjatakan pistol dan bom Molotov. Menyusul penyerahan dirinya, pemerintah Prancis Vichy mengemban kendali atas wilayah-wilayah Prancis yang tidak diduduki Jerman dan dengan menggebu-gebu melaksanakan permintaan Jerman untuk mengumpulkan warga Yahudi Prancis. Perlu waktu 50 tahun bagi Prancis untuk mengakui peran tercela mereka dalam upaya-upaya sistematis pembasmian Yahudi Prancis.

Pada 1967, ketika Israel menghadapi ancaman eksistensi dari para tetangga Arabnya, Presiden Prancis Charles de Gaulle, seorang anti-Semit terkenal, membelakangi Negara Yahudi, menolak memberinya sokongan politik dan menjatuhkan embargo senjata demi menjilat dunia Muslim. Dia juga mengkhianati kontrak yang sudah ditandatangani untuk mengantarkan 50 jet tempur Mirage V (yang sudah dibayar) ke Israel; dan yang menambah luka, dia malah mengantarkannya ke Qaddafi Libya.

Prancis punya sejarah tercela yakni konsisten memihak para penjahat paling keji di dunia dan menyangga mereka dengan persenjataan dan sokongan politik. Ia berperan dalam pembangunan fasilitas bom atom (yang kemudian dihancurkan oleh Israel) untuk pemimpin jahat Irak, Saddam Hussein. Ia menyediakan tempat berlindung bagi Ayatullah Khomeini sebelum jatuhnya Shah, dan merangkul teroris besar Yasser Arafat serta mantan presiden Suriah dan pembunuh berantai Hafez al-Assad, yang dikaitkan dengan perataan kota Hama, menewaskan 20.000 penduduknya. Ironisnya, para pemimpin Prancis, dari de Goulle hingga François Hollande, sanggup memanjakan para diktator murahan paling jijik tapi tiba-tiba merasakan suara nurani bila menyangkut Israel, negara demokrasi satu-satunya di Timur Tengah.

Diplomat-diplomat senior Prancis terekam dalam mikrofon melontarkan makian kepada Israel dan para pemimpinnya, di mana salah seorang menjulukinya “negara kecil tengik” dan seorang lain menyebut perdana menterinya sebagai “pendusta”. Pejabat Prancis lain terang-terangan melakukan distorsi sejarah Yahudi dan revisionisme sejarah dengan memberikan pidato kepada hadirin Palestina yang meniadakan ikatan kuno bangsa Yahudi dengan tanah Israel sepanjang berabad-abad.

Kini kita kembali ke voting Dewan Keamanan PBB hari Selasa di mana Prancis sekali lagi memperagakan kegemarannya berkhianat dan berbuat hal yang tak dapat dipertahankan secara moral. Sementara Prancis menganggap Israel “tengik” dan memandan para pemimpinnya sebagai pendusta, justru Prancis-lah, berdasarkan muslihat politik muka dua serta posisi dan tindakan menjijikkan secara moral, yang menjadikannya sangat layak atas gelar hina “surrender monkey”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s