Agen NWO dan Pemuja Setan Berkomplot Hancurkan Eropa

Oleh: Jonas E. Alexis
11 September 2015
(Sumber: www.veteranstoday.com)

Agen NWO dan pemuja Setan bertanggungjawab besar atas krisis pengungsi dan merencanakan kudeta Eropa secara tak langsung.

“Saudara-saudara, mari saling memberi selamat atas timbulnya kekacauan di Suriah dan harusnya Eropa dan Amerika membayar itu. Jika dunia belum tahu siapa kita, sayang sekali. Michael sudah bilang bahwa ‘penghancuran kreatif adalah nama tengah kita’, dan mereka belum juga dapat petunjuk?”
“Saudara-saudara, mari saling memberi selamat atas timbulnya kekacauan di Suriah dan harusnya Eropa dan Amerika membayar itu. Jika dunia belum tahu siapa kita, sayang sekali. Michael sudah bilang bahwa ‘penghancuran kreatif adalah nama tengah kita’, dan mereka belum juga dapat petunjuk?”

Kita langsung saja. Krisis pengungsi Suriah [1], yang telah menciptakan kekerasan berlarut-larut dan ketegangan ribut di Eropa dan tempat lain [2], direncanakan dan dilaksanakan oleh agen NWO dan pemuja Setan untuk menghancurkan Eropa dan Amerika.

Ini memang klaim luar biasa. Tapi kencangkan sabuk pengaman Anda dan pakai otak Anda, karena kita akan berurusan dengan isu geopolitik dan metafisik serius.

Pertama-tama, kita perlu menyusun beberapa fakta pasti. Pada 2013, sekurangnya 17 negara di Eropa dan Amerika sepakat menerima pengungsi dari Suriah dan lain-lain. Pada 2015, negara-negara seperti Jerman, Prancis, Swedia, Hongaria, Inggris, Austria, Swiss, Belgia, Serbia dan Kosovo, Belanda, Norwegia, Yunani, Polandia, Denmark, Bulgaria, Spanyol, Finlandia, Italia, dll, sudah menerima lebih dari dua juta pelamar suaka dari Suriah, Irak, dan Eritrea.[3] Baru-baru ini AS setuju menerima sekurangnya 10.000 pengungsi Suriah.[4] Australia berencana menerima sekurangnya 12.000.[5]

Selain itu, lebih dari empat juta orang Suriah sudah meninggalkan Suriah.[6] Itu cukup untuk mendirikan negara di dalam negara. Bahkan, ada beberapa negara yang penduduknya kurang dari 2 juta. Keadaan semakin menarik: “Setengah dari 23 juta penduduk Suriah telah terusir dari rumah mereka, empat juta menjadi pengungsi di negara-negara lain.[7]

Para pejabat Eropa, yang seharusnya tidak lalai dengan konsekuensi politik ini, malah mendesak negara-negara Eropa lain untuk menerima lebih banyak pengungsi.[8] Angela Merkel—semoga hatinya diberkati—mengumumkan bahwa Jerman sedang menanti sekurangnya 800.000 pengungsi tahun ini saja.[9]

Angelina Jolie—yang punya riwayat tunduk di hadapan Gelintir Seram (Dreadful Few) demi uang, pengaruh, dan popularitas selama berdekade-dekade—belakangan ini ikut nimbrung dengan berkata, “Dalam sejarah mutakhir, belum pernah kita menyaksikan perlunya kepemimpinan untuk menangani konsekuensi dan penyebab krisis pengungsi global.”[10] Dengan nada serupa, selebriti peraih Oscar dan Acedemy Award, Emma Thomson, bersikeras Inggris telah rasis dengan tidak menerima lebih banyak pengungsi.[11]

Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker, yang diberi selamat oleh Gelintir Seram atas pengangkatannya sebagai Presiden Komisi Eropa baru [12], bahkan mendesak Eropa agar mengadakan “kuota pengungsi wajib”.[13] “Kita sedang membicarakan manusia,” katanya, “kita bukan sedang membicarakan angka.”[14] Bukan itu saja, kata Juncker, pengungsi “memiliki hak untuk bekerja sejak hari pertama”![15]

Jika sekurangnya 2 juta orang harus bekerja sejak hari pertama, apa yang akan terjadi pada tatanan yang ada? Apa yang akan terjadi pada pria biasa yang berusaha keras membawa makanan untuk isteri dan anak-anaknya? Apa yang akan terjadi pada beribu-ribu orang yang masih tak menemukan pekerjaan di tempat-tempat gelembung ekonomi seperti Yunani? Well, mereka akan tak terpakai setahap demi setahap.

Lebih lanjut, camkan bahwa para pengungsi itu tidak kenal hukum di negeri itu.[16] Dan jika mereka punya hak untuk bekerja sejak hari pertama, maka sebagian besar Eropa akan mengalami proses cepat tapi mantap yang dikenal sebagai kepunahan.

Ini membawa kita kembali ke titik utama dalam diskusi kita di sini: agen NWO dan pemuja Setan bertanggungjawab besar atas krisis pengungsi dan merencanakan kudeta Eropa secara tak langsung.

Masih ingat agen jenius New World Order Michael Ledeen? Sebagaimana kita simak dalam artikel-artikel berharga, Ledeen-lah yang membuat pernyataan politik menakutkan ini:

“Penghancuran kreatif adalah nama tengah kita [jelas dia sedang menyinggung Gelintir Seram], baik di dalam masyarakat kita maupun di luar negeri. Kita merobohkan tatanan lama setiap hari, mulai dari bisnis, sains, sastra, seni, arsitektur, sinema hingga politik dan hukum. Musuh-musuh kita selalu benci angin puyuh energi dan kreativitas ini, yang mengancam tradisi mereka (apapun itu) dan membuat malu mereka lantaran tidak mampu mengikuti zaman… Kita harus hancurkan mereka demi memajukan misi bersejarah kita.”

Ledeen ingin membongkar Irak, Iran, Suriah, dan negara manapun [17] yang tidak suka dengan demokrasi yang dipaksakan Gelintir Seram kepada AS. Dalam rangka itu, Ledeen mengusulkan “doktrin Ledeen”, yang sederhananya menyatakan bahwa “setiap sepuluh tahun atau lebih, AS harus memilih suatu negara kecil jelek dan melemparnya ke tembok, hanya untuk menunjukkan kepada dunia bahwa kita serius.”[18]

Jadi, Irak termasuk negara “kecil jelek” itu. Ledeen lantas berpostulat bahwa tingkat kesengsaraan dalam Perang Irak adalah “kurang penting. Itu terdengar ganjil untuk dikatakan. Tapi semua cendekiawan besar yang mempelajari karakter Amerika telah sampai pada kesimpulan bahwa kami bangsa penyuka perang dan bahwa kami cinta perang.”[19]

Jika orang-orang diperlakukan sebagai alat atau subjek, lalu apa ontologi politik Ledeen di sini? Well, Ledeen pantang mundur: ideologi, dusta dan fabrikasi, dan bahkan perang terus-menerus, berapapun ongkosnya, harus menjadi tujuan dan prinsip pemandu kita. Dalam bahasa sederhana, kekacauan geopolitik adalah apa yang Ledeen cari.

Camkan, Ledeen termasuk orang yang mempromosikan kepalsuan bahwa Saddam Hussein pernah membeli uranium di Niger [20], meski kemudian dia menyangkal terlibat dalam penyebaran dusta ini.[21] Pada 2013, Ledeen menulis, “Aliansi Putin-Khamenei-Assad terbukti awet lantaran bersandar pada sasaran ideologis maupun strategis, dan musuh utama mereka adalah AS.”[22] Ledeen lalu berargumen secara tak logis dan tak langsung bahwa Rusia, Iran, dan Suriah adalah negara teroris.

Jadi, Ledeen ingin melihat “penghancuran kreatif” di Timur Tengah, tapi ini bukannya tanpa beberapa tolakan mengganggu. Apa saja tolakan itu? Terus baca.

“Ya, saya minta kalian berhenti membunuh, meskipun saya nyaman mengajari anak-anak membunuh dalam kehidupan karir saya. Yang Lebih penting, saya merasa terhormat memiliki kesempatan untuk mengseksualisasi Amerika dan sebagian besar dunia. Begitulah saya menghasilkan jutaan dolar.”
“Ya, saya minta kalian berhenti membunuh, meskipun saya nyaman mengajari anak-anak membunuh dalam kehidupan karir saya. Yang Lebih penting, saya merasa terhormat memiliki kesempatan untuk mengseksualisasi Amerika dan sebagian besar dunia. Begitulah saya menghasilkan jutaan dolar.”

Nah, pertimbangkan satu agen New World Order lain bernama Barbara Lerner Spectre, direktur pendiri Paideia, European Institute for Jewish Studies di Swedia. Dalam program televisi yang disiarkan luas, Spectre mendeklarasikan jauh sebelum perang Suriah:

“Eropa belum belajar bagaimana menjadi multikultur. Dan saya pikir kita akan menjadi bagian dari derita transformasi itu, yang pasti berlangsung. Eropa takkan menjadi masyarakat monolitis seperti di abad lalu. Kaum Yahudi akan ada di pusatnya. Ini transformasi besar untuk Eropa. Mereka kini akan masuk mode multikultur, dan kaum Yahudi akan dibenci gara-gara peran utama kami. Tapi tanpa peran utama ini, dan tanpa transformasi ini, Eropa takkan bertahan.”

Jika “Eropa takkan menjadi masyarakat monolitis seperti di abad lalu”, bagaimana Spectre berencana mendekonstruksi struktur sosial Eropa? Well, Spectre memandang “multikulturalisme” sebagai senjata. Jadi, ketika perang di Suriah timbul beberapa tahun lalu. Spectre hampir pasti senang. Sebagaimana kita ketahui, salah satu konsekuensi tak langsung dari peperangan adalah manusia terpaksa bermigrasi ke kawasan lain.

Sekali orang-orang bermigrasi secara masal, itu akan menciptakan masalah serius bagi tatanan yang ada karena pelaku migrasi memiliki perangkat nilai berbeda dan cara hidup berbeda. Seperti kata penulis Inggris Peter Hitchens baru-baru ini, menyelamatkan pengungsi masif sama dengan menghancurkan Eropa.[23] Bahkan calo neo-konservatif berapi-api, Thomas Sowell, tidak sungkan menulis:

“Dengan [adanya] pengungsi, sebagaimana semua manusia lain, generasi terkini akan hilang dari layar… Semua generasi baru [pengungsi] akan tahu bahwa mereka tidak hidup seperti orang lain di negara mereka tinggal. Mereka juga akan tahu nilai budaya mereka berbenturan dengan nilai budaya Barat di sekitar mereka.”[24]

Namun Sowell tidak mampu menerima fakta bahwa para agen New World Order dan pemuja Setan-lah yang menyusun dan membuat perang Suriah, yang menimbulkan krisis pengungsi.

Bahkan, “filsuf Mossadis” Henry Bernard Levy—yang pernah sesumbar bahwa dirinya “bersekutu dengan gerakan Marxis-Leninis-Maois” semasa hidupnya [25], yang berpostulat gila bahwa Heinrich Himmler menghadiri sidang di Nuremberg [26], dan yang percaya menggebu-gebu bahwa “Talmud adalah demokrasi secara praktek” [27]—berkeliling negara ini untuk mengatakan Assad harus enyah.[28]

Sowell tak mampu menerima fakta bahwa dirinya adalah salah satu boneka yang mencela Presiden Obama tahun 2013 silam lantaran tidak melengserkan Assad.[29] Setelah mendapat fabrikasi lengkap bahwa Assad memakai senjata kimia kepada rakyatnya sendiri, Sowell lantas menulis:

“Saya tak mengerti kenapa satupun warga sipil Amerika, Israel, atau Suriah harus terbunuh sebagai akibat tindakan militer simbolis AS, demi menyelamatkan Barack Obama dari rasa malu tidak berbuat sesuatu, setelah ultimatum gegabahnya kepada pemerintah Suriah agar tidak memakai senjata kimia diabaikan. Sebagian orang menyebut respon militer diperlukan, bukan untuk menyelamatkan Obama dari kehinaan pribadi, tapi untuk menyelamatkan jabatan presiden Amerika dari kehilangan semua kredibilitas—dan karenanya kehilangan kemampuan untuk menghalangi ancaman masa depan terhadap Amerika Serikat tanpa pertumpahan darah.”[30]

Anda lihat, Sowell terus terbangun di malam hari dan bermimpi buruk tentang pengungsi Suriah di Eropa, tapi dia (saya yakin disengaja) buta akan fakta bahwa dirinya dan bos-bosnya (Gelintir Seram) adalah antek. Malah, rezim Israel maupun kaum Zionis/Neo-Bolshevik/Neo-Konservatif di Amerika berjuang sekuat tenaga untuk mengadakan perang tiada akhir di Suriah dan tempat lain. Bagaimana lagi mereka akan mendukung pemberontak/teroris Suriah?

Sebagaimana sudah kita bahas dalam artikel-artikel terdahulu, agen NWO Daniel Pipes berkata tanpa sesal bahwa Amerika perlu mendukung pemberontak/teroris Suriah maupun Assad agar kedua pihak saling membunuh dalam prosesnya. Siapa yang akan membayar konflik tiada akhir di Suriah? Tentu bukan Daniel Pipes. Melainkan rata-rata orang Amerika. Bagaimanapun juga, bukankah Rabbi Ovadiah Yosef pernah bilang bahwa kita Goyim adalah keledai dan diciptakan untuk melayani Gelintir Seram?

Jangan salah, Sowell adalah orang pintar, tapi ideologinya tidak mengizinkannya melihat hal yang gamblang. Sebagai contoh, diberitakan luas bahwa rezim Israel mendukung ISIS di Suriah, tapi Sowell, seperti biasa, bungkam sama sekali.

*****

Jadi, setelah inkubasi bertahun-tahun, para agen NWO semacam Spectre memperoleh jawaban yang dicari-cari: Eropa perlu dibanjiri dengan pengungsi masif dari Suriah dan tempat lain. Tentu ini tugas menjerakan, dan Spectre tak bisa melakukannya sendirian. Saudara-saudaranya perlu dilibatkan. Perhatikan tajuk utama Jewish Daily Forward ini: “Kelompok-kelompok Yahudi Pimpin Desakan Untuk Membuka Pintu Bagi Pengungsi Suriah”.[31] Isinya:

Dari empat juta warga Suriah yang lari dari negara terkoyak perang dalam tahun-tahun belakangan, sekurangnya 130.000 butuh permukiman ulang segera. Tapi Amerika menyerap kurang dari 1.000. Bagi aktivis Yahudi yang mendesak pemerintah untuk ganti gigi, angka kecil itu dan hambatan permukiman ulang pengungsi Suriah yang menyertainya merupakan pengingat pahit akan pengalaman komunitas mereka selama Perang Dunia II.

“Menunggu permukiman selama dua tahun bukanlah penyelamatan,” kata Melanie Nezer, wakil presiden urusan kebijakan dan advokasi di HIAS, kelompok komunal utama yang mengurusi masuknya pengungsi. “Sebagai komunitas Yahudi, kami paham apa artinya menjadi pengungsi tanpa mendapat pertolongan. Kami akan ada di tempat lain seandainya dunia tampil ke depan waktu itu.”

Para ahli menduga bahwa pada saat proses evaluasi pengungsi selesai, sekitar 400.000 orang akan diakui sebagai pengungsi yang butuh permukiman ulang. Ini akan menganugerahi Amerika permohonan untuk menyerap 200.000 pengungsi Suriah.

Tapi kuota permukiman ulang AS, yang belum dimutakhirkan selama bertahun-tahun, kini ada di angka 70.000 orang per tahun dari seluruh dunia. HIAS dan kelompok-kelompok Yahudi meminta penaikan kuota ini ke 100.000 per tahun, taraf yang AS tegakkan di tahun 1980-an. “Itu bukan angka besar untuk negara seukuran AS,” kata Nezer.[32]

Ini kedengaran bagus sampai kita sadar rezim Israel tidak sejalan dengan program Yahudi ini. Apa kata Benjamin Netanyahu tentang ini? Dengarkan dari mulut orang bersangkutan:

“Kami sudah merawat kurang-lebih 1.000 orang terluka dari pertempuran di Suriah dan kami sudah membantu merehabilitasi hidup mereka. Tapi Israel adalah negara kecil, amat kecil, yang kurang akan kedalaman demografis dan geografis. Oleh sebab itu, kami harus mengawasi perbatasan kami, terhadap migran ilegal maupun terorisme.”[33]

Anda tangkap itu? Israel, kata Netanyahu, sudah mendukung pemberontak/teroris Suriah, oleh sebab itu negaranya tidak punya tempat untuk orang-orang yang terjebak dalam baku tembak. Pengungsi Suriah bahkan dijuluki “penyusup” di Israel, artinya mereka tak disambut di sana.[34]

Tahun lalu, ketika negara-negara seperti Irak, Lebanon, Turki, dan Yordania menerima beberapa pengungsi dari Suriah, Israel tidak satupun. Yuval Ben-Ami, jurnalis dan penulis Israel yang bertempat di Jaffa, menyatakan waktu itu:

“Pada titik sejarah ini, Israel tampak bertekad untuk membarikade dirinya, terutama dari lingkungan sekitar.”[35]

*****

Jadi, apakah Netanyahu secara implisit berkata kepada orang-orang semacam Angela Merkel bahwa mereka bodoh telah menerima sekurangnya 20.000 pengungsi Suriah dalam satu pekan saja?[36] Apa dia sedang berkata bahwa negara-negara seperti Hongaria, Polandia, dll, mengikuti rencana Yahudi dengan menerima para pengungsi?[37] Apa dia sedang menertawakan calon presiden Republik dan Demokrat di AS ketika mereka mengikuti ideologinya?[38]

Jelas demikian. Dengarkan Batsheva Sobelman dari LA Times:

“Bagi banyak Yahudi Israel, angka tambahan non-Yahudi sekecil apapun menjadi ancaman potensial, dan krisis pengungsi Suriah serta perdebatan tentang peran Israel telah membangkitkan kekhawatiran terdalam negeri itu—ketakutan akan kehilangan mayoritas Yahudi dan kemudian karakter negara Yahudi.

Bahkan orang-orang yang mendukung pembukaan gerbang bagi pengungsi menyebut paling banyak ada 10.000, disertai seruan untuk aksi simbolis seperti yang dilakukan mantan Perdana Menteri Menachem Begin, yang pada 1977 menerima sekitar 70 pengungsi dari Vietnam….

Menteri Perhubungan Israel Katz menyatakan, suatu kekeliruan jika Israel terlibat dalam perang sipil Suriah dengan menerima pengungsi. ‘Kita terlalu dekat, terlalu terlibat. Kita bukan negara Eropa,’ ungkapnya.”[39]

*****

Timbul pertanyaan sejuta dolar: ke mana organisasi dan komunitas Yahudi yang sekarang mendorong pengungsi masif di Amerika dan Eropa?[40] Kenapa New York Times terus-menerus menaruh isu ini di kaki Eropa dan tak pernah minta Israel untuk membantu?[41] Apa mereka hendak bilang pada kita bahwa mereka belum pernah dengar ucapan Netanyahu? Atau mereka sendiri bagian dari rencana ini? Leslie Baruch Brent, profesor emeritus Yahudi dalam ilmu imunologi, menyatakan baru-baru ini:

“Kita berutang kepada umat manusia untuk menolong orang-orang kurang beruntung yang putus asa dan yang keadaan buruknya patut dipersalahkan pada kita.”[42]

Nicholas Kristoff dari New York Times membuat klaim serupa akhir-akhir ini. Setelah memuji Jerman dan Amerika atas upaya mereka menerima lebih banyak pengungsi, Kristoff mendapat satu kekhawatiran. Dia bilang, dengan memperkenankan terlalu banyak migran, maka kita mungkin harus berurusan dengan “penyelundup manusia dan kaum skinhead, neo-Nazi, dan politisi xenofobis sayap kanan.”[43] Tapi jika tidak terdapat neo-Nazi, Kristoff seolah beranggapan kita harus cepat-cepat bergerak membantu para pengungsi karena mereka “boleh jadi kita”.[44] Sekali lagi, kenapa dia tidak sampaikan pesan ini kepada rezim Israel?

Brent, kata orang, “masih kecil ketika dikirim orangtuanya untuk tinggal di panti asuhan Yahudi di Berlin untuk lari dari anti-Semitisme tak terperi di kota kecil Jerman tempat mereka tinggal.”[45] Tapi Brent tak pernah bisa membawa tesisnya kepada Netanyahu.

Brent, yang pernah bilang bahwa penanganan Inggris atas situasi pengungsi “sangat negatif dan egois” [46], tak mampu sedikitpun menyamai organisasi dan media Yahudi dengan omongan ganda ini. Tapi Brent tanpa sengaja (lagi-lagi kelicikan nalar) menghancurkan pendapat Netanyahu dengan berkata:

“Para ekstrimis yang ingin masuk ke Inggris dan negara lain seperti Prancis atau Jerman, akan tetap sampai ke sana. Saya rasa 99,9% pengungsi Suriah adalah pengungsi tulen yang mencoba lari dari kehidupan mengerikan di negara asal, yang keluarganya telah tiada atau ditinggal. Mereka hanya orang-orang sengsara dan saat Anda bertemu orang-orang seperti itu, Anda harus tolong mereka.”[47]

Jadi, biarkan mereka ke Israel, Brent. Kalau kau begitu menggebu-gebu soal para pengungsi itu, kalau mereka mengingatkanmu akan Nazi Jerman, telepon saja Netanyahu dan minta para pemimpinmu membuka perbatasan. Berhenti bermain-main dan bersilat lidah, dan lakukan sesuatu. Jangan-jangan Eropa akan meneladanimu? Selanjutnya, tanya negara-negara superkaya seperti Qatar, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Bahrain kenapa mereka “menolak menawarkan tempat berlindung kepada satupun pengungsi Suriah.”[48]

*****

Apa yang sedang kita saksikan di sini adalah para agen NWO dan pemuja Setan ingin menghancurkan Eropa, yang dbangun dari nol oleh Benediktus tak lama pasca runtuhnya Kekaisaran Romawi.[49]

Lebih jauh, agen NWO dan pemuja Setan sedang memanfaatkan pengungsi Suriah sebagaimana Gelintir Seram memanfaatkan ornag kulit hitam dan homoseksual di AS.[50] Pendek kata, Spectre dan saudara-saudaranya takkan berhenti sampai rencana Yahudi terlaksana tuntas. Bahkan, intelektual pendahulu mereka meramalkan demikian.

Sebagai contoh, dalam pidato yang disampaikan di B’nai B’rith pada 1902, Solomon Ehrmann, seorang Yahudi Wina, membayangkan masa depan di mana “seluruh umat manusia akan teryahudikan dan tersatukan dalam B’nai B’rith.” Tatkala itu terwujud, “bukan cuma B’nai B’rith, tapi seluruh Yudaisme, yang telah memenuhi tugasnya.”[51]

Jadi, menurut Ehrmann, tugas Yudaisme adalah mengambilalih dunia dan “meyahudikan” nyaris setiap orang, untuk menundukkan dan merebut tatanan moral dan politik. Menurut sejarawan Albert S. Lindermann dari Universitas California, bagi Ehrmann “Yahudisasi adalah pencerahan”.[52] Jadi, logikanya jelas sekali: dunia, menurut implikasi politik Yudaisme, sedang dalam kegelapan. Dunia perlu “dicerahkan” dengan menerima sebuah ideologi jahat.

Dalam nada serupa, Baruch Levy, salah seorang koresponden Karl Marx, menyatakan:

“Kaum Yahudi secara kolektif akan menjadi Messias-nya sendiri… Dalam organisasi kemanusiaan baru ini, anak-anak Israel yang kini tersebar ke seluruh permukaan bumi…akan menjadi elemen berkuasa tanpa perlawanan…

Pemerintahan negara-negara yang membentuk Republik Universal atau Dunia akan jatuh, tanpa susah-payah, ke tangan Yahudi berkat kemenangan kaum marhaen… Dengan demikian janji Talmud akan terpenuhi, bahwa, ketika masa Messianik tiba, Yahudi akan mengendalikan kekayaan semua negara di bumi.”[53]

Apa yang Levy katakan secara implisit di sini adalah bahwa New World Order pada hakikatnya [agenda] Yahudi atau Talmud. Ini punya implikasi geopolitik serius, dan inilah sebabnya Eropa dan sebagian besar Barat digenangi pengungsi masif. Sebagaimana sudah kami nyatakan, bukan berarti para pengungsi itu (yang boleh jadi baik, jahat, dan biasa saja) adalah sumber masalah. Sama sekali tidak.

Kita sudah simak bahwa agen NWO dan pemuja Setan teliti dan sengaja menciptakan konflik di tempat-tempat seperti Suriah terlebih dahulu. Seperti kata Gilad Atzmon baru-baru ini, kekuatan-kekuatan yang,

“mengubah Laut Mediterania menjadi perangkap kematian…politik agresif Yahudi dan lobi global Zionislah yang mengakibatkan krisis pengungsi kolosal ini.”

Sekali krisis kolosal ini mulai terwujud di banyak tempat, maka pengungsi Suriah tak punya pilihan selain mencari jalan keluar dari Suriah. Orang-orang seperti Stefan Molyneux [54] tidak mampu menangani isu serius ini karena mereka tidak betul-betul melihat akar masalah. Dalam pengertian itu, mereka adalah Bill O’Reilly dan Rush Limbaugh versi sekuler, orang-orang yang tidak bisa memahami apa yang sebetulnya sedang berlangsung di Timur Tengah.

*****

Harusnya sekarang menjadi jelas, agen NWO tidak lari dari fakta bahwa mereka adalah pemain kunci di balik “perangkap kematian” di Laut Mediterania. Jika “penghancuran kreatif” adalah “nama tengah” mereka, maka tidak berlebihan jika dinyatakan mereka berusaha membinasakan tatanan sosial dan politik dan menanamkan ideologi jahat, yang, sebagaimana diramalkan oleh Civilta Cattolica lebih dari seratus tahun lampau, telah meninggikan ideologi rasis Talmud di atas nalar, moralitas, dan bahkan Goyim.[55]

Jika Anda pikir ini lagi-lagi omong-kosong, maka pertimbangkan ini. Guardian memberitakan dalam artikel berjudul “Kini Muncul Fakta: Bagaimana AS Menyulut Kenaikan ISIS di Suriah dan Irak” bahwa:

“Perang melawan teror, kampanye tanpa ujung yang diluncurkan 14 tahun lalu oleh George Bush, tertambat dalam perputarbalikan yang semakin fantastis. Senin, di London, sidang seorang pria Swedia, Bherlin Gildo, yang dituduh melakukan terorisme di Suriah, gagal setelah jelas bahwa intelijen Inggris mempersenjatai kelompok pemberontak yang sama yang dituduhkan kepada terdakwa.

Jaksa penuntut melepas kasus ini, tampaknya supaya tidak mempermalukan dinas intelijen. Pengacara pembela berargumen, pelanjutan sidang akan menjadi ‘hinaan bagi peradilan’ ketika terdapat bukti berlimpah bahwa negara Inggris sendiri memberi ‘dukungan luas’ kepada oposisi bersenjata Suriah.

Itu bukan hanya ‘bantuan non-mematikan’ yang digadang-gadang oleh pemerintah (meliputi kendaraan militer dan lapis baja), tapi pelatihan, dukungan logistik, dan pasokan ‘senjata pada skala besar’. Terdapat kutipan laporan bahwa MI6 bekerjasama dengan CIA dalam ‘jalur tikus’ pemindahan senjata dari gudang Libya ke pemberontak Suriah pada 2012 pasca jatuhnya rezim Khadafi.”[56]

Perang melawan teror sudah begitu menggelikan, sampai-sampai Guardian menyebut: “Terorisme kini mentah-mentah ada di depan penonton. Dan terlebih lagi di Timur Tengah, di mana teroris hari ini adalah pejuang masa depan melawan tirani—dan sekutu adalah musuh—seringkali atas keinginan panggilan konferensi pemimpin barat.”[57]

Seperti sudah kita baca dalam banyak artikel lain, ideologi rasis Talmud adalah sumber masalah, bukan DNA baik atau buruk. Dan anak-anak belajar tentang ideologi rasis ini begitu mereka mulai bicara. Baru-baru ini, Independent melaporkan, “Anak-anak Yahudi ultra-Ortodoks usia tiga tahun diajari bahwa ‘non-Yahudi’ adalah ‘jahat’ dalam lembar kerja yang diterbitkan sekolah London.”[58] Suratkabar itu menyatakan:

“Terungkap, anak-anak Inggris usia tiga tahun diajari bahwa ‘non-Yahudi’ adalah ‘jahat’ dalam sebuah lembar kerja TK yang diserahkan di sekolah-sekolah Yahudi ultra-Ortodoks di London utara.

Dokumen yang dilihat oleh The Independent menunjukkan anak-anak diajari tentang kengerian Holocauts padahal mereka masih duduk di TK di sekolah anak lelaki Beis Rochel di London utara… Dokumen meyebut Nazi sebagai ‘goyim’—istilah untuk non-Yahudi yang bagi sebagian orang tidak sopan.

Emily Green, yang dulu mengajar di sekolah menengah anak perempuan Beis Rochel, kini mengepalai organisasi Gesher UE yang mendukung Yahudi ultra-Ortodoks yang ingin meninggalkan komunitas.

‘Bukan ajaran aneh di sekolah-sekolah Yahudi ultra-Ortodoks bahwa orang-orang non-Yahudi adalah jahat. Itu bagian dari sembahyang, ajaran, etos,’ tuturnya. Melukiskannya sebagai bentuk ‘indoktrinasi’, Nn. Green menambahkan: ‘Secara psikologis, Anda jadi begitu takut terhadap dunia di luar sana setelah diajari betapa berbahaya, buruk, dan jahatnya orang-orang non-Yahudi, sehingga Anda merasa berat untuk pergi.’”[59]

Ideologi rasis ini perlu dihadapi dan didekonstruksi dengan nalar praktis dan kebenaran. Israel Shamir menyebut ideologi rasis ini “paranoia Yudaik”, yang telah mencegah Gelintir Seram mendatangi kebenaran selama ribuan tahun. Ketika Shamir keluar dari paranoia Yudaik itu, dia menyatakan dirinya:

“Bersyukur setiap hari kepada Kristus yang menyelamatkan saya dari paranoia Yudaik membenci dan dibenci dan membawa saya ke dunia mencintai dan dicintai.”[60]

Bagi Shamir, setiap Yahudi harus bersepakat dengan dirinya sendiri dan secara moral dan metafisik menolak perang terhadap tatanan moral dan politik dengan “menemukan kehadiran Tuhan di dunia, yakni Kristus.”[61] Dan ini merupakan “tindakan kehendak bebas” [62], bukan tindakan molekul DNA sebagaimana dipromosikan oleh sejumlah penulis dan aktivis. Shamir berargumen, kaum Yahudi harus “membuang kebencian” dan “menerima cinta yakni Kristus. Iman Kristen tidak selaras dengan eksklusivitas Yahudi.”[63] Kemudian dia berkata:

“Bahkan, rencana Yang Maha Kuasa mencakup Yahudi, seperti rencana Ring mencakup para hobbit; tapi sebagian akan memainkan peran Frodo, sementara yang lain akan mengambil peran Gollum, sebagian akan mendukung Anti-Kristus, dan sebagian akan tetap bersama Kristus.”[64]

Shamir tepat. Perlu ditekankan bahwa setiap orang harus memilih pihak dalam konflik kosmik dan ideologis ini. Jika ketaatan Anda adalah kepada kebenaran dan nalar praktis, jika Anda menegakkan tatanan moral dan politik, maka Anda ada di pihak yang benar. Anda adalah cahaya di dunia kegelapan dan kekacauan. Teruslah berjuang. Jangan jual tatanan moral demi keuntungan finansial dan politik, dan tunjukkan pada musuh sekali lagi bahwa Anda tidak untuk dijual.

Catatan Akhir
[1] Untuk laporan mutakhir, baca “Migration crisis: Germany presses Europe into sharing refugees,” Guardian, September 10, 2015 3, 2015; “Syrian crisis: NZ to take in hundreds more refugees,” New Zealand Herald, September 7, 2015; Melissa Eddy, “Migrant Tide Bringing Out Europe’s Best and Worst,” NY Times, September 9, 2015; Michael R. Gordon, “Kerry Favors an American Commitment to Bringing in More Refugees,” NY Times, September 9, 2015; Austin Ramzy, “Tony Abbott Says Australia Will Accept 12,000 More Refugees,” NY Times, September 9, 2015; Kimiko de Freytas-Tamura, “Britain Tries to Deter Migrants, Even as It Lets More In,” NY Times, September 8, 2015; Anemona Hartocollis, “Traveling in Europe’s River of Migrants,” NY Times, September 9, 2015; “Traveling in Europe’s River of Migrants,” NY Times, September 8, 2015; Palko Karasz and Dan Bilefsky, “Migrants Meet Rain, Resistance and Confusion at Border Crossings,” NY Times, September 10, 2015.

[2] Somini Sengupta, “Europeans Seek to Use Force Against Smugglers at Sea,” NY Times, September 10, 2015; Griff Witte and Anthony Faiola, “At choke points on the way to Western Europe, chaos and growing frustration,” Washington Post, September 8, 2015; James Kanter, “European Official Calls for Continent to Take In 160,000 Migrants,” NY Times, September 9, 2015; Rick Lyman, Steven Erlanger, and Aurelien Breeden, “A Steady Flow Staggers Into Europe, Outpacing Pledges of Shelter,” NY Times, September 7, 2015; Raziye Akkoc, “Migration crisis: Desperate refugees escape camps and start a 110-mile trek to Austria,” The Telegraph, September 4, 2015. For similar sources in the past, see Suzanne Daley, “Swedes Begin to Question Liberal Migration Tenets,” NY Times, February 26, 2011; Colin Freeman, “Stockholm Riots Leave Sweden’s Dreams of Perfect Society Up in Smoke,” The Telegraph, May 25, 2013; Jennifer Collins, Jabeen Bhatti, and Carolina Jemsby, “Sweden Shaken as Riots Continue in Immigrants Suburbs,” USA Today, May 25, 2013.

[3]Which Countries Are Under the Most Strain in the European Migration Crisis?,” NY Times, September 3, 2015.

[4] Gardiner Harris, David E. Sanger, and David M. Herszenhorn, “Obama Increases Number of Syrian Refugees for U.S. Resettlement to 10,000,” NY Times, September 10, 2015; Tom McCarthy, “Obama calls on US to resettle ‘at least 10,000’ Syrian refugees in 2016 fiscal year,” Guardian, September 10, 2015.

[5] Daniel Hurst and Shalailah Medhora, “Australia to accept an extra 12,000 Syrian refugees and will join US-led airstrikes,” Guardian, September 9, 2015.

[6]Syria’s civil war is killing refugees,” Toronto Sun, September 3, 2015.

[7] Patrick Cockburn, “Refugee crisis: Where are all these people coming from and why?,” The Independent, September 8, 2015.

[8] James Kanter, “European Official Calls for Continent to Take In 160,000 Migrants,” NY Times, September 9, 2015.

[9] Ibid.

[10] Quoted in Lindsay Kimble, “Angelina Jolie Pitt Writes Emotional Op-Ed About the Syrian Refugee Crisis: Every Country ‘Must Be Part of the Solution,’” People Magazine, September 9, 2015.

[11]Britain is RACIST for not taking in more refugees, claims Hollywood star Emma Thompson,” Daily Mail, September 3, 2015.

[12]AJC Congratulates Jean-Claude Junker,” American Jewish Congress, July 16, 2014.

[13] Kim Hjelmgaard, “European Union calls for mandatory refugee quotas,” USA Today, September 9, 2015; see also Andrew Marszal, “Juncker calls for ‘compulsory’ redistribution of 160,000 migrants,” The Telegraph, September 9, 2015.

[14] Matt Chorley, “Give refugees to the right to work from day one, says Juncker as he reveals power-grab for EU-wide migration policy,” Daily Mail, September 9, 2015.

[15] Matt Chorley, “Give refugees to the right to work from day one, says Juncker as he reveals power-grab for EU-wide migration policy,” Daily Mail, September 9, 2015.

[16] Nicole Hasham, “Syrian refugees told to read this government book before being resettled in Australia,” Sydney Morning Herald, September 10, 2015.

[17] Mikkel Thorup, An Intellectual History of Terror (New York: Routledge, 2010), 196-197.

[18] Jonah Goldberg, “Baghdad Delenda Est, Part II: Get On With It,” National Review, April 23, 2002.

[19]Iraq: What Lies Ahead,” American Enterprise Institute, March 25, 2003.

[20] Joshua Micah Marshall, Laura Rosen, and Paul Grastris, “Iran-Contra II?,” Washington Monthly, September 2004.

[21] Philip Giraldi, “Forging the Case for War,” American Conservative, November 21, 2005.

[22] Michael Ledeen, “The Troika: Putin, Khamenei and Assad,” Huffington Post, September 11, 2013.

[23] Peter Hitchens, “We won’t save refugees by destroying our own country,” Daily Mail, September 5, 2015.

[24] Thomas Sowell, “The Past and Future of Refugee Crisis,” Jewish World Review, September 9, 2015 8, 2015.

[25] Gary Wood, “Jew Suis un Superstar,” Guardian, June 15, 2003.

[26] Ibid.

[27] Attila Somfalvi, “Bernard-Henri Levy: Israel Secular Miracle,” Y-Net News, May 31, 2010.

[28] Henry-Bernard Levy, “Stop Assad’s Slaughter in Syria!,” Newsweek, August 20, 2012; Bernard-Henry Levy, “The Syria Deal Has a Hint of Munich,” Wall Street Journal, September 18, 2013; Bernard-Henry Levy, “Bernard-Henri Lévy on Obama, Syria, Putin, the G20, and a Week’s Wait,” Daily Beast, September 2, 2013.

[29] Thomas Sowell, “Serious About Syria?,” National Review, September 4, 2013.

[30] Thomas Sowell, “Syria and Obama,” Townhall.com, September 10, 2013.

[31] Nathan Guttman, “Jewish Groups Lead Push To Crack Open Doors to Syria Refugees,” Forward, June 25, 2015.

[32] Ibid.

[33] Ibid; see also Batsheva Sobelman, “One country that won’t be taking Syrian refugees: Israel,” LA Times, September 6, 2015.

[34] Shahar Shoham, “What Syrian Refugees Have To Say About Coexistence With Israel,” Forward, September 8, 2015 6, 2015; “Netanyahu says Israel not indifferent, but too small to host refugees,” Russia Today, September 6, 2015.

[35] Ben Winsor, “Here’s Which Countries Are Helping Syria’s Refugee Crisis — And Which Ones Are Refusing,” Business Insider, September 11, 2014.

[36]Germany’s Merkel says record refugee influx ‘will change’ nation,” AFP, September 7, 2015.

[37] Laura King and Henry Chu, “After standoff in Hungary, thousands of Syrians arrive in Austria,” LA Times, September 5, 2015; Laura King, “Inside the train to Germany: Wonder, fatigue and, for a moment, fear,” LA Times, September 6, 2015.

[38]Candidates Address the Growing Refugee Crisis,” NY Times, September 9, 2015.

[39] Batsheva Sobelman, “One country that won’t be taking Syrian refugees: Israel,” LA Times, September 6, 2015.

[40]Italy’s Jewish Leadership Calls for Aid for Refugees,” Forward, September 6, 2015.

[41] Noemi Szecsi, “How Europe’s Other Half Lives,” NY Times, September 9, 2015.

[42] Quoted in Michelle Malka Grossman, “Holocaust refugee: We owe it to mankind to allow Syrian refugees into Europe,” Jerusalem Post, September 7, 2015.

[43] Nicholas Kristof, “Compassion for Refugees Isn’t Enough,” NY Times, September 10, 2015.

[44] Nicholas Kristof, “Refugees Who Could Be Us,” NY Times, September 4, 2015.

[45] Grossman, “Holocaust refugee: We owe it to mankind to allow Syrian refugees into Europe,” Jerusalem Post, September 7, 2015

[46] Ibid.

[47] Ibid.

[48] Jay Akbar, “Revealed: How the five wealthiest Gulf Nations have so far refused to take a single Syrian refugee,” Daily Mail, September 4, 2015; see also Ben Hubbard, “Wealthy Gulf Nations Are Criticized for Tepid Response to Syrian Refugee Crisis,” NY Times, September 5, 2015.

[49] For a short but reasonable introduction on this, see E. Michael Jones, Benedict’s Rule: The Rise of Ethnicity and the Fall of Rome (South Bend: Fidelity Press, 2012); for other sources, see for example Thomas E. Woods, How the Catholic Church Built Western Civilization (Washington: Regenery Publishing, 2005); Diane Moczar, Seven Lies About Catholic History: Infamous Myths About the Church’s Past and How to Answer Them (Charlotte, NC: TAN Books, 2010).

[50] See for example E. Michael Jones, The Jewish Revolutionary Spirit and Its Impact on World History (South Bend: Fidelity Press, 2008).

[51] Albert S. Lindemann, Esau’s Tears: Modern Anti-Semitism and the Rise of the Jews (Cambridge: Cambridge University Press, 1997), 331.

[52] Ibid.

[53] Quoted in E. Michael Jones, The Jewish Revolutionary Spirit and Its Impact on World History (South Bend: Fidelity Press, 2008), 1066.

[54] Molyneux actually believes that morality “cannot be subjected to a rigorous rational or empirical analysis,” but he is imposing an indirect morality on the Syrian refugees! He needs to thank goodness that he never met Emmanuel Kant. Stefan Molyneux, Universally Preferable Behaviour: A Rational Proof of Secular Ethics (Amazon Digital Service, Inc., 2013), kindle edition.

[55] See E. Michael Jones, Barren Metal: A History of Capitalism as the Conflict Between Labor and Usury (South Bend: Fidelity Press, 2014), 1175-1177.

[56] Seumas Milne, “Now the truth emerges: how the US fuelled the rise of Isis in Syria and Iraq,” Guardian, June 3, 2015.

[57] Ibid.

[58] Adam Withnall and Dina Rickman, “Three-year-old ultra-Orthodox Jewish children told ‘the non-Jews’ are ‘evil’ in worksheet produced by London school,” The Independent, September 2, 2015.

[59] Ibid.

[60] Israel Shamir, Cabbala of Power (Charleston: BookSurge, 2008), 310.

[61] Ibid.

[62] Ibid., 311.

[63] Ibid.

[64] Ibid., 312.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s