Apakah ‘Krisis Migran’ Bagian Dari Plot Zionis Terhadap Bangsa Kulit Putih Eropa?

Oleh: Brandon Martinez
15 November 2015
(Sumber: www.nonalignedmedia.com)

‘Krisis migran’ yang meletus di depan kita selama beberapa bulan terakhir telah memperkutubkan opini.

Kerapkali kita disajikan pilihan dialektika palsu: ‘mendukung pengungsi’ sepenuh hati (dengan mengizinkan perjalanan mereka ke dalam dan ke tengah Eropa sesuka mereka) atau ‘mendukung perang’ yang menyebabkan banyak dari mereka meninggalkan kampung halaman.

Kenapa kita tidak boleh menentang perang sekaligus gelombang migran yang membanjiri Eropa, difasilitasi setiap langkahnya oleh Uni Eropa Masonik?

Perang-perang durjana yang telah dilancarkan kepada masyarakat Timur Tengah selama 15 tahun terakhir tak pelak lagi menyebabkan malapetaka, kehancuran, dan tragedi bagi jutaan orang. Pertama Irak dan Afghanistan dirampok oleh Amerika dan sekutu-sekutunya; terus Libya dicabik-cabik dari dalam, disokong rudal NATO yang menghujani dari langit. Dan kini Suriah digada dan dipotong-potong lewat strategi ketegangan samar di mana AS, Inggris, Prancis, Arab Saudi, dan Israel diam-diam mengolah pertumbuhan kanker ISIS dan kecambah-kecambahnya.[1]

Penempuhan kebijakan luar negeri Barat sangat menghebohkan, merusak, dan membahayakan bagi semua pihak yang terlibat. Dan sebagian besar masalahnya adalah cengkeraman maut Israel dan Yahudi Zionis berkewarganegaraan ganda yang menduduki posisi kunci di banyak pemerintahan Barat, memaksa mereka melawan musuh-musuh Tel Aviv.

Sedaftar militan, mayoritas anggota kongres Yahudi yang menentang kesepakatan nuklir AS dengan Iran, dipublikasikan baru-baru ini di New York Times,[2] melukiskan kenyataan bahwa konfrontasi Barat-Islam yang dimulai dengan sungguh-sungguh satu setengah dekade lalu sedang dipimpin dan dipentaskan oleh Yahudi ekstrimis yang kepentingan utamanya adalah Israel.

Saya sudah menghabiskan hampir dua tahun terakhir untuk membedah dusta, muslihat, dan operasi rahasia tiada akhir yang hari ini mengalir ke dalam bentuk peperangan berlarut-larut yang menghancurkan kedua belah pihak di seantero Mediterania timur dan kawasan lebih luas, MENA (Timur Tengah dan Afrika Utara). Ini subjek penting, dan fakta utuh tentang apa yang sudah dilakukan negara-negara Barat terhadap orang-orang ini dengan dalih gadungan dan dusta konyol mesti terus ditekankan.

Plot Zionis ‘Lainnya’

Menghancurkan Timur Tengah, dan menatanya ulang demi kepentingan Israel dan keuangan internasional, telah menjadi agenda asli elit kekuasan Barat, mayoritas Zionis, selama 15 tahun terakhir sejak CIA dan Mossad bersekongkol menghadirkan peristiwa ‘Pearl Harbour Baru’: 9/11.

Dan hasil dari usaha bengis itu adalah petaka. Sebagian pihak memperkirakan empat juta orang Timur Tengah telah tewas akibat perang dan intervensi pimpinan AS di kawasan itu sejak 1990.[3] Tak terhitung jutaan lain dipaksa menjadi pengungsi papa, dan perang-perang ini juga menelurkan jutaan anak yatim.

Kejahatan tak terukur yang dikenakan pada orang-orang ini harus diralat melalui ganti rugi dan kompensasi lain. Dan para politisi penjahat perang—George W. Bush, Tony Blair, dan lingkaran penasehat Zionis di belakang mereka—harus membayar dengan uang mereka sendiri untuk membangun kembali negara-negara yang mereka hancurkan, selain dituntut dan dipidana atas kejahatan perang dan diberi hukuman setimpal.

Namun, satu “solusi” untuk masalah ini, yang didukung penuh oleh para elit, adalah permukiman ulang jutaan pengungsi dan migran ekonomi lain dari Timur Tengah dan Afrika ke Eropa. Dalam skenario khas masalah-reaksi-solusi, korporat dan para dalang Zionis yang memerintah Barat telah memanfaatkan krisis buatan di Timur Tengah saat ini untuk memajukan rencana jangka panjang mereka: memindahkan (dan menggantikan) secara etnis bangsa pribumi Eropa dalam pemajuan globalisme.

Nick Griffin, mantan ketua British National Party (BNP), berdiri di aula Parlemen Eropa dan mengecam plot amat jahat untuk menghapus Eropa dari peta.[4] Persekutuan “kapitalis, kiri, dan supremasis Zionis” telah bersekongkol untuk mempromosikan “imigrasi dan pernikahan antar bangsa dengan tujuan melenyapkan kita di tanah air kita sendiri,” ucap Griffin. “Seiring tumbuhnya perlawanan pribumi terhadap industri modifikasi genetik ini, elit kriminal mencari cara baru untuk mengkamuflase proyek mereka,” tegas Griffin. Dia menambahkan:

“Awalnya bidak imigran mereka adalah buruh tamu sementara. Terus itu adalah eksperimen multiras. Terus mereka adalah pengungsi. Terus itu adalah jawaban untuk berkurangnya populasi. Beda dalih, beda dusta! Dan suaka adalah lain lagi. Tapi sasaran sejatinya tetap sama: genosida terbesar dalam sejarah manusia. Solusi akhir permasalahan Kristen-Eropa. Kejahatan ini menuntut seperangkat Sidang Nuremberg baru, dan kalian rakyat akan ada diadili!”

Guna menopang klaim ini, Griffin menunjuk langsung pada rencana Richard Coudenhove-Kalergi untuk mencampur ras Eropa hingga lenyap sebagai bagian dari proyek genosida “Pan Eropa”-nya (yakni anti-kebangsaan) yang dimulai pada 1923 dengan penerbitan buku pertamanya, Pan-Europa. Lahir tahun 1894, Coudenhove-Kalergi adalah hasil pernikahan ayah diplomat Austria-Hongaria dan ibu Jepang. Dia diakui sebagai “Perintis integrasi Eropa” dan menjadi presiden pendiri gerakan Pan-European Union selama 49 tahun.[5] Gerakan globalis yang terilhami Illuminati ini merupakan pelopor Uni Eropa modern (UE) yang didirikan pada 1993.[6] Dalam banyak tulisannya, Kalergi menguraikan visinya akan Eropa tercampurbaur yang diperintah aristokrasi Yahudi.

“Manusia masa depan akan berupa ras campuran,” tulis Kalergi dalam bukunya, Practical Idealism. “Ras dan kelas hari ini akan menghilang berangsur-angsur berkat lenyapnya ruang, waktu, dan prasangka. Ras Eurasia-Negroid masa depan, yang penampilannya mirip dengan Mesir Kuno, akan menggantikan aneka bangsa dengan seaneka individu.”[7]

Menurut Kalergi, mandor “alami” rakyat jelata terbasmi ini adalah kaum Yahudi, yang dia sebut “bangsawan spiritual Eropa”. Kalergi beralasan, “Alih-alih menghancurkan kaum Yahudi Eropa, Eropa, bertentangan dengan kehendaknya sendiri, justru memperhalus dan mendidik orang-orang ini menjadi bangsa pemimpin masa depan melalui proses seleksi buatan ini.”[8] Prospek supremasis Yahudi Kalergi terletak pada jantung proyek integrasi anti-Eropanya dan cita-cita penundukan bangsa Eropa di bawah kediktatoran totaliter pimpinan Yahudi.

Otobiografi Kalergi sendiri mencatat kaitannya dengan para pemodal kaya Yahudi yang menunjang gerakannya. Bankir Zionis terkemuka, Baron Louis de Rothschild dan Max Warburg, konon memberinya 60.000 mark emas pada 1924. Warburg sangat suka proposal tatanan Pan-Eropa milik Kalergi dan memperkenalkannya kepada para pemodal kaya Yahudi dari AS seperti Paul Warburg (pendiri Federal Reserve Bank) dan Bernard Baruch.[9]

Mantan Presiden Prancis Nicolas Sarkozy memperjelas niatnya untuk melaksanakan skema Kalergi pada populasi Kulit Putih Prancis. Dalam pidato Desember 2008, Sarkozy menyinggung perlunya “memenuhi tantangan [Uni Eropa] akan pembastaran ras (racial interbreeding). Tantangan pembastaran ras yang kita hadapi di Abad 21.”[10] Sarkozy menekankan bahwa percampuran ras “bukanlah pilihan tapi kewajiban” bangsa Kulit Putih Eropa. Jika Bangsa Eropa tak mau menuruti program jahat ini, tegas Sarkozy, maka Prancis dan negara-negara anggota UE lain akan harus mengambil “langkah lebih koersif” demi memastikan bangsa Eropa lenyap.

Posisi ganjil ini bertolak belakang dengan pandangan Sarkozy terhadap Israel dan Yahudi. Sarkozy, seorang Yahudi yang beroperasi sebagai “Sayan” (Sayan adalah orang Yahudi di luar Israel yang bersukarela menyediakan bantuan bagi Israel dan/atau Mossad dengan memanfaatkan kapasitas kewarganegaraannya sendiri—penj) untuk Mossad sebelum menjadi presiden Prancis[11], adalah pendukung fanatik Israel sebagai negara etnis khusus Yahudi yang eksklusif ekspansionis. Dia mendukung dan membela semua kejahatan Israel terhadap orang Arab Palestina dan telah menyeret Prancis ke dalam konflik di kawasan itu yang menguntungkan Tel Aviv, khususnya operasi pergantian rezim di Libya tahun 2011. Kepentingan Israel adalah “perjuangan hidup saya”, kata Sarkozy kepada seorang jurnalis Yahudi yang menanyakan komitmennya pada negara Yahudi.[12]

Banyak orang Yahudi telah buka-bukaan mengenai peran penting mereka dalam menghasut kebijakan imigrasi masal yang merusak identitas Eropa. Barbara Lerner Spectre, Yahudi Amerika dan warga Israel, pindah ke Swedia dari Israel pada 1999 dan mendirikan Paideia, European Institute for Jewish Studies, guna mempromosikan multikulturalisme di negeri itu dan Eropa secara umum.[13] Dalam wawancara tahun 2010 dengan sebuah saluran televisi Israel, Spectre tanpa malu mengumumkan niatnya untuk menjadikan Eropa multikultur dan multiras dan bahwa kaum Yahudi akan dibenci atas “peran utama” mereka dalam upaya tersebut. Secara rinci dia berkata kepada pewawancara:

“Eropa belum belajar bagaimana menjadi multikultur. Dan saya pikir kita akan menjadi bagian dari derita transformasi itu, yang pasti berlangsung. Eropa takkan menjadi masyarakat monolitis seperti di abad lalu. Kaum Yahudi akan ada di pusatnya. Ini transformasi besar untuk Eropa. Mereka kini akan masuk mode multikultur, dan kaum Yahudi akan dibenci gara-gara peran utama kami. Tapi tanpa peran utama ini, dan tanpa transformasi ini, Eropa takkan bertahan.”[14]

Orang-orang Yahudi lain terang-terangan mengelukan Islamisasi Eropa sebagai hukuman atas “Holocaust”. Layanan Ynet News Israel mewartakan pernyataan kurang ajar seorang rabbi terkemuka di Israel, Baruch Efrati, yang “menyambut fenomena” Islamisasi di Eropa.[15] Menurut sang rabbi, kaum Yahudi seharusnya “girang akan fakta bahwa Eropa Kristen sedang kehilangan identitasnya sebagai hukuman atas perbuatannya kepada kita selama ratusan tahun dalam pengasingan di sana.” Dia menyatakan umat Kristen Eropa jangan pernah dimaafkan atas “pembantaian jutaan anak, wanita, dan jompo kita… bukan cuma dalam Holocaust lalu, tapi sepanjang bergenerasi-generasi, dengan cara konsisten yang menjadi ciri khas semua faksi Kristen munafik.”

“Eropa sedang kehilangan identitasnya ke tangan bangsa lain dan agama lain, dan takkan ada sisa dan penyintas dari kenajisan Kristen, yang telah menumpahkan banyak darah yang takkan bisa ditebus,” tutup Efrati dalam ceramah kepada murid-murid Yeshiva-nya. Satu rabbi lain berkata bahwa agar Messiah Yahudi kembali ke bumi, “Eropa, Kristen” harus dimusnahkan total. “Jadi saya tanya pada kalian: apakah kabar bagus bahwa Islam menyerbu Eropa?” tanyanya. “Itu kabar luar biasa! Itu berarti kedatangan messiah.”[16]

Menggemakan fantasi balas dendam supremasis Yahudi ini, penulis Yahudi Jack Engelhard menulis dalam opini editorial untuk Arutz Sheva:

“Jerman (meski sekarang bimbang) masih menginginkan orang-orang ini [pengungsi Suriah] dan sudah mengirim undangan resmi untuk 800.000 orang, yang, sebagaimana kami tulis sebelumnya di sini, akan menambah angka total Muslim di Jerman menjadi enam juta, angka yang sama dengan orang Yahudi kiriman Jerman ke kamar-kamar gas satu generasi lalu. Kami sebut itu karma dan pertukaran Yahudi dengan Muslim, yang akan Jerman sesali.”[17]

Narasi balas dendam Yahudi, yang sangat bersandar pada propaganda Zionis palsu dan penuh bumbu mengenai Holocaust, muncul berkali-kali ketika kaum Yahudi berkhotbah mendukung imigrasi masal non-Kulit Putih ke Eropa. Baru-baru ini, seorang politisi kiri jauh Yahudi-Jerman, Gregor Gysi, membuat permintaan terbuka ganjil demi pengungsi Suriah yang mencari suaka di Jerman, menyuarakan semboyan “Hidup lebih baik tanpa Nazi—Kebhinnekaan adalah masa depan kita”.[18] “Akibat sejarah kita [Jerman] antara 1933-1945 [periode Nazi], kita berkewajiban memperlakukan pengungsi dengan baik,” kata Gysi, menyerukan pencabutan pembatasan pengungsi. “Setiap tahun pribumi Jerman yang mati lebih banyak daripada yang lahir,” kata Gysi sambil menyeringai, menyambut fenomena ini sebagai “sangat menguntungkan”. “Orang-orang Nazi sangat tidak pandai membuat keturunan,” tambah Gysi riang, menyiratkan bahwa semua pribumi Jerman adalah “Nazi” yang patut punah. Jangan-jangan Gysi mengambil ilham dari sesama agamawan, Theodore Kaufman, Yahudi Amerika yang menulis buku berat sinting pada 1941, Germany Must Perish!, yang menganjurkan genosida semua orang Jerman melalui program sterilisasi paksa sebagai hukuman lantaran memilih Adolf Hitler dalam pemilu.[19]

Pinchas Goldschmidt, presiden Conference of European Rabbis, berkata kepada pewawancara di Russia Today bahwa kaum Yahudi berada “di tengah-tengah” benturan peradaban antara Kristen dan Muslim, tapi di Eropa, Muslim adalah “sekutu alami” Yahudi.[20] Namun, di Timur Tengah, Yahudi bersekutu dengan Kristen dan minoritas agama lain melawan rezim-rezim Muslim, dan bahkan memakai pengaruh mereka atas Barat untuk memprakarsai perang dan perang proksi terhadap musuh-musuh Israel, Muslim, Persia, dan Arab. Dan propagandis Israel dan Zionis ada di balik kampanye media sengit anti-Islam yang diiringkan dengan “Perang Melawan Teror” buatan Israel.

Ini semua tak lain adalah permainan ganda Machiavellian Zionis. Orang Barat maupun Timur Tengah, Kristen maupun Muslim, sedang dipakai sebagai serdadu umpan meriam untuk kepentingan Zionis berbeda-beda. Para arsitek Zionis dalam permainan catur geopolitik rumit ini hendak menggangsir, melemahkan, dan menaklukkan orang Barat maupun Timur Tengah di tanah airnya sendiri. Banga Kulit Putih Eropa menjadi target di Eropa, di mana massa imigran dan pengungsi Muslim, Arab, dan Afrika sedang digunakan sebagai bidak untuk memajukan rencana Kalergi: penggantian dan genosida Kulit Putih. Tapi pada saat yang sama, bangsa Kulit Putih Eropa sedang dimanipulasi agar melakukan perang dan terorisme tiada henti terhadap masyarakat dan rezim Arab/Muslim yang berselisih dengan imperialisme Israel dan tidak tunduk pada keinginan kapitalisme keuangan internasional, alias globalisme.

Penting sekali untuk tidak bermain ke dalam tipu muslihat Zionis ini yang berusaha memecah-belah Kulit Putih dan Arab, Kristen dan Muslim, membuat mereka berperang sampai mati sementara ekstrimis Yahudi duduk santai dan memetik keuntungan dari konfrontasi rekaan ini. Kedua plot, Rencana Kalergi dan Perang Melawan Teror, bersumber dari Zionis dan harus ditentang mati-matian di kedua front. Tidak cukup mengecam salah satu agenda ini dan membiarkan yang lain, sebagaimana dilakukan kelompok “nasionalis kulit putih” dan kelompok “anti-Zionis”.

Kita mesti mempertimbangkan semua informasi yang tersedia, dan mengidentifikasi semua agenda keji dan para korbannya, dan kemudian merumuskan posisi berprinsip yang tidak menutup mata kepada siapapun korban skema genosida multisegi ini.

Catatan Akhir
[1] http://isisconspiracy.com

[2] Margaret Hartmann, “New York Times Quietly Removes List Highlighting Jewish Lawmakers Who Oppose the Iran Deal,” New York Magazine, Sept. 11, 2015. http://nymag.com/daily/intelligencer/2015/09/nyt-quietly-removes-list-of-jewish-lawmakers.html#

[3] Nafeez Ahmed, “Unworthy victims: Western wars have killed four million Muslims since 1990,” Middle East Eye, April 8, 2015. http://www.middleeasteye.net/columns/unworthy-victims-western-wars-have-killed-four-million-muslims-1990-39149394

[4] https://www.youtube.com/watch?v=MpXJnVC2Mew

[5] https://en.wikipedia.org/wiki/Richard_Nikolaus_von_Coudenhove-Kalergi

[6]The Coudenhove-Kalergi plan – The genocide of the Peoples of Europe,” Identità, 2014. http://golden-dawn-international-newsroom.blogspot.ca/2013/01/the-coudenhove-kalergi-plan-genocide-of.html

[7] https://en.wikipedia.org/wiki/Richard_Nikolaus_von_Coudenhove-Kalergi#Views_on_race_and_religion

[8] Ibid.

[9] https://en.wikipedia.org/wiki/Richard_Nikolaus_von_Coudenhove-Kalergi#Pan-European_political_activist

[10] https://www.youtube.com/watch?v=I8yaiN6ew_g

[11] Gamal Nkrumah, “Sarkozy accused of working for Israeli intelligence,”
Global Research, Nov. 3, 2007. http://www.globalresearch.ca/sarkozy-accused-of-working-for-israeli-intelligence/7245

[12] https://www.youtube.com/watch?v=825jBxhoYXA

[13] http://en.metapedia.org/wiki/Barbara_Spectre

[14] https://www.youtube.com/watch?v=MFE0qAiofMQ

[15]‘Islamization of Europe a good thing’” Ynet News, Nov. 11, 2012. http://www.ynetnews.com/articles/0,7340,L-4299673,00.html

[16] https://www.youtube.com/watch?v=tHBRshQtexw

[17] Jack Engelhard, “Op-Ed: Why Aren’t Palestinians Joining The Rush To Europe?” Israel National News, Sept. 16, 2015. http://www.israelnationalnews.com/Articles/Article.aspx/17559#.Vki6X7T4tlJ

[18] https://www.youtube.com/watch?v=riQh4Qpvxm4

[19] Theodore Kaufman, Germany Must Perish!, Argyle Press, 1941. http://ihr.org/books/kaufman/perish.shtml

[20] https://www.youtube.com/watch?v=wb_4U2UJucE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s