Bagaimana Israel Khianati Amerika

Oleh: Peter Baofu
6 Juni 2014
(Sumber: www.foreignpolicyjournal.com)

Sebuah laporan anyar di majalah Newsweek, bahwa Israel memata-matai AS pada “tingkat menggelisahkan” dan bertindak “lebih banyak daripada sekutu-sekutu lain”, menimbulkan isu amat serius tentang seberapa banyak Israel telah mengkhianati Amerika, sesuatu yang berulangkali ditolak oleh media mainstream Amerika untuk dibahas secara terbuka. Sebagai klarifikasi, istilah “mengkhianati” di sini berarti “merugikan” kepentingan nasional Amerika.

Kenyataannya, kasus spionase Israel terhadap AS hanyalah salah satu dari berbagai masalah yang telah merugikan kepentingan nasional Amerika akibat tindakan Israel selama beberapa dekade terakhir. Sebagai gambaran, pertimbangkan empat bukti utama yang diterangkan di bawah.

Bukti #1: Spionase Israel Terhadap AS

Bukti pertama pengkhianatan Israel terhadap Amerika berkaitan dengan spionase.

Pada 7 Mei 2014, AFP mempublikasikan laporan kurang dikenal dari majalah Newsweek, yang mengungkap beberapa pengarahan “terklasifikasi” dalam bulan-bulan belakangan dari “Departemen Homeland Security, Departemen Luar Negeri, FBI, dan National Counterintelligence Directorate”, di mana terdapat temuan menggemparkan bahwa “Israel memata-matai AS lebih dari sekutu manapun dan kegiatan ini telah mencapai tingkat menggelisahkan… Sasaran utamanya adalah rahasia industri dan teknik AS.”

Israel memanfaatkan beragam cara untuk memata-matai AS. Contoh, Israel mengusahakan “perundang-undangan” di AS yang “akan mempermudah warga Israel…masuk ke Amerika” (tanpa pembatasan), sebagaimana diberitakan AFP. Pada 2013, pemerintahan Obama dan Kongres menyusun sebuah perundangan yang “akan mengizinkan orang Israel berkunjung ke AS tanpa visa tapi tidak menuntut perlakuan sebanding untuk semua orang Amerika yang ingin bepergian ke negara Yahudi itu”, gara-gara diskriminasi gigihnya terhadap orang-orang Amerika yang kritis kepada kebijakan luar negeri Israel atau orang-orang yang berdarah Timur Tengah—dan perundangan ini menciptakan sekutu kategori baru, dikenal sebagai “mitra strategis utama” yang menunjuk “Israel sebagai satu-satunya negara demikian” berkewenangan istimewa ini, sebagaimana diwartakan oleh Bradley Klapper dan Matthew Lee pada 15 Juli 2013.

Celah umum lain yang dimanfaatkan Israel adalah menyuruh “agen-agen spionase industri berdatangan kemari dalam misi dagang atau bersama perusahaan Israel yang bekerjasama dengan perusahaan Amerika, [atau] mata-mata intelijen yang dipimpin langsung oleh pemerintah, …artinya dari Kedutaan [Israel],” sebagaimana dilaporkan Newsweek.

Menurut AFP, “seorang staf kongres yang mengetahui sebuah pengarahan Januari silam [2013] menyebut kesaksian itu ‘amat menenangkan…menggelisahkan…bahkan mengerikan’, dan mengutip perkataan orang lain bahwa perilaku itu ‘merugikan’. ‘Tak ada negara sahabat AS lain yang terus-menerus melewwati batas dalam spionase seperti Israel,’ kata mantan staf kongres yang menghadiri pengarahan terklasifikasi lain di akhir 2013.”

Malah, menurut laporan AFP, “kegiatan spionase Israel di Amerika tidak tertandingi dan melampaui sekutu-sekutu dekat lain, semisal Jerman, Prancis, Inggris, dan Jepang, kata agen-agen kontra-intelijen kepada para anggota komite House Judiciary dan Foreign Affairs, ungkap Newsweek. ‘Saya kira siapapun takkan kaget dengan pengungkapan ini,’ kata sang mantan ajudan sebagaimana dikutip. ‘Tapi bila Anda melangkah mundur dan mendengar…bahwa tak ada negara lain yang memanfaatkan hubungan keamanan kita sebagaimana Israel demi tujuan spionase, itu menggemparkan.’”

Bukti #2: Penolakan Israel Untuk Membantu AS Perihal Pemangkasan Anggaran di Masa Sulit Ini

Bukti kedua untuk pengkhianatan Israel terhadap Amerika berkaitan dengan penolakan Israel untuk membantu AS perihal pemangkasan anggaran di masa tersulit krisis keuangan ini.

Bukan rahasia bahwa Israel bergantung pada bantuan luar negeri AS, baik militer maupun ekonomi, selama berdekade-dekade (bukan cuma bertahun-tahun). Sebagai contoh, Joel Bainerman, seorang Israel, sudah lama menerangkan dalam Middle East Quarterly tahun 1995 silam bahwa, “Dari 1948 s/d 1993, bantuan militer dan ekonomi AS untuk Israel setara dengan kira-kira $37 miliar… Pada 1994, Israel menerima kredit militer $11,8 miliar dan bantuan ekonomi $1,2 miliar, atau 26% dari total $11,5 miliar bantuan luar negeri AS.” Pada awal 2000-an, total bantuan AS sudah melampaui $100 miliar, sebagaimana ditunjukkan Richard H. Curtiss dalam Washington Report on Middle East Affairs.

Malah, tak ada negara lain di muka bumi yang tahun demi tahun menerima lebih banyak uang AS dibanding Israel, sebuah negara dengan penduduk enam juta saja. Selain itu, Israel berhasil mengupayakan hak istimewa menerima “semua bantuan luar negeri tahunan di bulan pertama tahun fiskal, tak seperti penerima lain yang menerima bantuan dalam pembayaran triwulanan. Oleh sebab itu, pemerintah Israel mampu menginvestasikan bantuan luar negerinya dalam surat utang Departemen Keuangan AS, dengan begitu memperoleh” bunga lebih dari jutaan dolar per tahun, sebagaimana ditunjukkan Richard H. Curties.

Ketergantungan parasit ini sekarang menyentuh titik kritis ketika AS menderita krisis keuangan panjang paling serius dalam beberapa tahun terakhir sejak Depresi Besar sehingga terpaksa melakukan pemangkasan anggaran (termasuk anggaran pertahanan paling penting). Dalam beberapa tahun pertama pemerintahan Obama, bahkan Hillary Clinton, kala itu Menteri Luar Negeri, meminta Israel sukarela memangkas bantuan luar negerinya dari AS sebagai cara membantu AS di masa tersulit krisis kuangan dalam sejarah AS, untuk memperlihatkan “rasa terimakasih” kepada AS atas apa yang telah dlakukannya demi keberlangsungan Israel selama beberapa dekade terakhir. Tapi Israel menolak membantu AS di amsa tersulit ini. Karenanya Clinton mengingatkan negara Yahudi itu secara tajam bahwa warga Amerika pun tidak menerima uang dari pemerintah AS sebagaimana Israel menerima uang dari AS berulang-ulang selama beberapa dekade terakhir. Israel jutru meminta lebih banyak uang dari AS untuk sistem pertahanan rudal nasionalnya (NMD/national missile defense) dan program-program sosio-ekonomi. Tatkala AS butuh bantuan di masa keuangan tersulit ini, Israel tidak hadir untuk membantu tapi memperburuk masalah dengan meminta lebih banyak uang. Inikah cara Israel memperlihatkan “rasa terimakasih” kepada AS?

Bahkan “di dalam Israel, …semakin banyak analis…mengakui…bahwa ketergantungan ekonomi pada sumber luar negeri menciptakan masalah” (misalnya “hipotek sediaan pemerintah kepada para pemilik rumah” yang tidak efisien, “subsidi pemerintah kepada organisasi-organisasi politik, semisal Kibbutzim, Histadrut, …dan dana sakit Kupat Cholim”, “sistem pembagian air yang dipolitisasi dan tak efisien”, dan banyak masalah lain), seperti ditulis Bainerman.

Sisi paling mengungkap dari efek buruk ketergantungan parasit Israel ini pada sumber daya AS adalah “sistem kesejahteraan Israel yang gagal dan tingkat kemiskinan hebat” di masa kita, sebagaimana dijelaskan Shir Hever di Alternatif Information Center di Jerusalem dan Beit-Sahour: “Kementerian Luar Negeri Israel mempromosikan…Israel [sebagai] citra ekonomi makmur, pusat inovasi,” padahal, “statistik OECD…menunjukkan Israel menderita tingkat kesenjangan ekstrim, sistem pendidikan [tersegregasi]-nya tergolong yang terburuk di OECD, dan kemiskinannya yang tertinggi dibanding semua negara OECD…pendapatan pajak total Israel banding PDB-nya lebih tinggi daripada Chile, Meksiko, dan Turki misalnya, dan lebih tinggi lagi daripada rata-rata semua negara OECD, tapi tingkat kemiskinan Israel paling tinggi dibanding semua negara ini.”

Maka tak heran jika “Arnon Gafny, yang menjabat gubernur Bank of Israel pda 1976-1981, menguraikan bahwa bantuan luar negeri membuat Israel menderita apa yang ekonom sebut ‘Ducth Disease’, sebuah karunia dermawan tapi fana (seperti minyak atau bantuan luar) yang membawa manfaat jangka pendek tapi merusak daya saing jangka panjang sebuah negara,” tulis Bainerman.

Bukti #3: Pemukiman Kolonial Israel Melanggar Kepentingan AS

Bukti ketiga untuk penghianatan Israel terhadap Amerika berkaitan dengan pemukiman kolonial Israel yang melanggar kemauan AS, dengan konsekuensi merugikan kepentingan nasional Amerika.

Selama bertahun-tahun, AS berulangkali meminta Israel menghentikan pemukiman kolonial di wilayah dudukan yang dicaplok dalam perang dengan negara-negara Arab tetangga selama beberapa dekade terakhir, karena ini turut menambah sentimen anti-Amerika di antara banyak pihak di dunia Arab (dan juga di seluruh dunia) bahwa AS patut ikut disalahkan akibat dukungan manjanya kepada Israel.

Setiap kali, Israel memainkan “kartu uang” dengan meminta lebih banyak uang kepada AS sebelum menawarkan “konsesi” berkenaan dengan pemukiman kolonialnya di wilayah dudukan, tapi setiap kali, bahkan setelah uang diberikan, Israel lantas membangun pemukiman kolonial di bagian lain wilayah dudukan, sehingga siklus panjang ini (pemukiman kolonial di suatu tempat, permintaan uang untuk konsesi, pemukiman kolonial lain di tempat lain, permintaan uang lagi untuk konsesi, dan seterusnya) berlanjut tanpa terlihat ujungnya.

Contoh, pada 1999, “Perdana Menteri Israel terpilih Ehud Barak” ingin “menagih di muka sebuah bantuan ekonomi tambahan senilai $1,2 miliar yang dijanjikan Presiden Bill Clinton kepada Perdana Menteri Israel terdahulu, Benjamin Netanyahu, atas pelaksanaan penarikan teritorial yang ditetapkan dalam perjanjian Wye, ditandatangani pada 1998”, tapi “Netanyahu ataupun Barak belum juga melaksanakan penarikan”, bahkan setelah pemerintahan AS era itu menyertakan “pembayaran derma tahun fiskal 2000”, sebagaimana dijelaskan Richard H. Curtiss.

Malah, tulis Richard H. Curtiss, “bahkan sebelum tambahan dari Pentagon dan anggaran federal lain” disertakan, “derma tahun fiskal 2000” membuat “total hibah dan pinjaman pemerintah AS ke Israel sejak 1949 s/d 31 Oktober 1999 menyentuh angka kurang-lebih $91.816.507.200… Ini lebih banyak dari total bantuan AS untuk gabungan negara Afrika Sub-Sahara, Amerika Latin, dan Karibia. Padahal, jika digabung, negara-negara ini mempunyai total penduduk 1,142 miliar jiwa pada pertengahan 1999, sementara total penduduk Israel tahun 1999 adalah 6,1 juta. Ini berarti Israel, dengan populasi lebih kecil dari Hong Kong, menerima sekitar sepertiga bantuan luar negeri bilateral AS ke seluruh dunia.

Bahkan john Kerry, Menteri Luar Negeri AS saat ini, hilang kesabaran dan mengeluh beberapa pekan lalu bahwa pemukiman kolonial Israel merupakan “apartheid” baru yang tak bisa diterima. Tapi Israel, dengan dukungan lobi Yahudi di AS, meneruskan kebijakan “apartheid”-nya.

Dan ini merugikan kepentingan nasional Amerika di luar negeri, sebagaimana dijelaskan Richard H. Curtiss: “Selama lebih dari setengah abad sejak pendirian Israel pada 15 Mei 1948, AS telah kehilangan puluhan ribu pekerjaan dan miliaran dolar sebagai akibat boikot ekonomi Arab, dan lebih sebagai akibat politik boikot minyak Arab 1973 yang mencetuskan resesi di AS dan negara-negara industri. Juga ada ongkos tak terhitung yang dikaitkan dengan kenaikan drastis biaya keamanan untuk instalasi pemerintah AS di dalam negeri dan luar negeri sebagai akibat dukungan AS kepada Israel dalam sengketa penjangnya dengan tetangga-tetangga Arab,” dan ketidaksukaan AS saat ini terhadap pemukiman kolonial Israel hanyalah bab lain dari siklus abadi permasalahan usang dalam beberapa dekade ini.

Bukti #4: Perputaran Israel ke China

Dan bukti keempat untuk pengkhianatan Israel terhadap Amerika berkaitan dengan perputaran Israel ke China, saingan utama dominansi AS di dunia.

Selama berdekade-dekade, Israel menikmati akses tak terbatas ke teknologi dan senjata militer tercanggih AS (seringkali dalam bentuk bantuan militer, yang berarti Israel tidak membayar untuk itu), tapi Israel menyuguhkan teknologi militer AS ke China.

Sebagai contoh, baru beberapa bulan lalu, penyelidikan AS menemukan bahwa “teknologi rudal dan elektro-optik rahasia milik AS dipindahtangankan ke China…oleh Israel, memicu kemarahan AS”, dan penyelidikan ini “menyimpulkan bahwa teknologi tersebut, mencakup sistem pendinginan mini yang diproduksi Ricor dan dipakai untuk rudal dan dalam peralatan elektro-optik, dikirim ke China, menurut suratkabar Israel Maariv. Situs berita Israel lain, Aretz Sheva, memberitakan AS khawatir teknologi itu akan sampai ke Iran, yang tahun lalu berusaha membeli peralatan militer dari China untuk program nuklirnya”, sebagaimana diwartakan Bryant Jordan pada 24 Desember 2013.

Tapi ini bukan kasus tersendiri, mengingat “Israel punya riwayat panjang menyerahkan teknologi militer AS ke China. Di awal 1990-an, Direktur CIA James Woolsey memberitahu Senate Gobernment Affairs Committee bahwa Israel telah menjual rahasia AS ke China selama kira-kira satu dekade. Lebih dari 12 tahun lalu AS menuntut Israel membatalkan kontrak pemasokan rudal Python III ke China, yang mencakup teknologi AS untuk rudal Sidewinder-nya, demikian laporan Associated Press pada 2002”, tulis Jordan.

Sebagai tambahan, sudah diketahui luas bahwa AS juga marah ketika “Israel melanggar perjanjian dengan mengekspor teknologi terbatas AS yang dibelinya dengan subsidi tahunan AS. Ini terjadi pada program pesawat tempur Lavi yang didanai AS. Israel…memberikan teknologi ke Beijing. Jet tempur F-10 milik China diyakini hampir identik dengan Lavi”—dan alasannya adalah “industri militer Israel bergantung pada ekspor untuk kelangsungannya. Dan penjualan senjata ke China termasuk bisnisnya yang paling menguntungkan”, menurut laporan The Insider.

Dan kini International Comparison Programma di Bank Dunia baru saja mengumumkan di tahun 2014 bahwa China akan melampaui AS sebagai ekonomi terbesar dunia di akhir tahun ini (2014), diukur dari segi “PDB negara sebagaimaan tercermin pada paritas daya beli (PPP)”, dan “The Financial Times dan The Economist” memberitakan bahwa “China akan melampaui AS yang memegang kedudukan ini sejak 1890, gelar yang dipegang China sebelum itu”, sebagaimana ditulis Armand Holmes pada 30 April 2014.

Menimbang pergeseran strategis neraca kekuatan global ini, Israel sudah mengubah arah kebijakan luar negerinya dengan berputar ke Asia, terlebih dalam hubungannya dengan China (dan India, dalam taraf lebih sempit), dalam persiapan menghadapi kejatuhan Amerika di pentas dunia.

April 2014, “Presiden Israel Shimon Peres tiba di Beijing…untuk kunjungan kenegaraan tiga hari ke China. Perjalanan Peres adalah kunjungan pertama seorang presiden Israel ke China sejak 2003, kendati Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengadakan perjalanan ke China pada Mei 2013. Kunjungan Netanyahu sendiri patut diperhatikan, berhubung itu adalah kunjungan pertama seorang Perdana Menteri Israel sejak 2007”, sebagaimana diwartakan oleh Shannon Tiezzi untuk The Diplomat pada 9 April 2014.

Bahkan, kepala ilmuwan Kementerian Ekonomi Israel, Avi Hasson, mengkonfirmasi tahun lalu bahwa “[China] adalah yang kedua setelah AS dalam hal proyek gabungan antara Israel dan firmas luar negeri tahun lalu”, dalam laporan Forbes 26 Mei 2014. “Proyek penelitian nanoteknologi senilai $300 juta” antara Universitas Tela Aviv dan Universitas Tsinghua Beijing pada 2014 adalah contoh bagus dari tren menanjak ini, sebagaimana diwartakan Ariel David untuk Register Guard 19 Mei 2014. Dan “China…telah melampaui Eropa sebagai sumber utama kedua modal teknologi tinggi [di Israel]. Tumbuh pula seruan di Israel untuk memulai kembali perdagangan senjata dengan China, kendati saat ini tekanan AS mencegahnya” tulis Shannon Tiezzi.

Yang paling penting, “dalam wawancara dengan pers China, Peres mengungkapkan kekaguman Israel atas kemampuan China mengangkat jutaan orang dari kemiskinan tanpa mengandalkan bantuan luar negeri. Peres berkata bahwa “’China dapat berbuat jasa besar bagi Timur Tengah’ dengan menunjukkan kepada kawasan itu bagaimana ‘menyelamatkan diri dengan tangannya sendiri, negaranya sendiri, bukan dengan dolar dan bukan dengan rubel, tapi [dengan] sungguh-sungguh memobilisasi masyarakat untuk bersatu’. Sentimen ini mengisyaratkan satu faktor pendorong potensial dalam rayuan Israel kepada China: hasrat untuk mengimbangi ketergantungan berlebih pada bantuan dan dukungan Amerika”, sebagaimana ditulis Shannon Tiezzi.

Dalam jangka panjang, Israel bermaksud membangun sejenis “lobi Yahudi” di China, demi memelihara pengaruh terhadap adidaya berikutnya—sebagaimana dilakukannya pada Amerika dalam beberapa dekade ini. Sama sejauh apa ini akan berhasil? Itu masih harus dilihat dalam sejarah mendatang. Tapi bangsa China cukup arif untuk belajar dari sejarah bahwa mereka tak mau menjadi Amerika baru bagi Israel (atau bagi siapapun).

Kesimpulan

Keempat bukti pengkhianatan Israel terhadap Amerika di atas tentu saja sekadar ilustrasi, tidak lengkap. Poin penting yang perlu diingat di sini adalah Israel belum pernah berbuat sesuatu yang menguntungkan AS (jelas janggal), tapi media mainstream Amerika lebih sering melukiskan hubungan Israel dengan Amerika dalam perspektif satu-dimensi (propagandistik) dalam sujudnya kepada lobi Yahudi. Dan satu konsekuensi utama dari perspektif satu-dimensi ini adalah rusaknya kepentingan nasional Amerika dalam beberapa dekade terakhir, karena masyarakat Amerika tetap tidak tahu-menahu (atau lebih tepatnya diberitahu yang salah) soal itu.

Seperti kata pepatah lama, cuma orang bodoh yang masuk lubang buaya dua kali.

Tentang penulis: Dr. Peter Baofu adalah pengarang 75 buku dan 77 teori baru, kesemuanya menyediakan tantangan visioner bagi kearifan konvensional dalam ilmu sosial, ilmu formal, ilmu alam, dan ilmu sastra, dengan sasaran “theory of everyhing terpadu”—serta banyak visi mengenai pikiran, alam, masyarakat, dan budaya dalam sejarah masa depan. Untuk info lebih banyak perihal visinya akan masa depan urusan global, baca sebagian bukunya: The Future of Post-Human War and Peace (2010), Beyond the World of Titans, and the Remaking of World Order (2007), Beyond Civilization to Post-Civilization (2006), Beyond Capitalism to Post-Capitalism (2005), Beyond Democracy to Post-Democracy (2004), The Future of Capitalism and Democracy (2002), kedua jilid The Future of Human Civilization (2000), dan sebagainya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s