Blair, Imigrasi, dan Pengkhianatan Terhadap Pekerja Inggris

Oleh: Gilad Atzmon
29 Februari 2016
(Sumber: www.thetruthseeker.com)

Tony Blair

Menurut The Daily Mail, PM Tony Blair berkonspirasi untuk membanjiri Inggris dengan imigran dalam rangka memaksakan masyarakat multikultur pada rakyat Inggris. Kemarin, koran ini mempublikasikan sebuah bab dari biografi baru Tony Blair yang meledak karangan Tom Bower. Subjudul di koran ini berbunyi: “Konspirasi sinis Blair si penipu untuk mengelabui rakyat Inggris dan mempersilakan masuk 2 juta migran dengan melanggar aturan.”

Menurut Bower, Blair diam-diam menginstruksikan kementerian-kementerian untuk melepas puluhan ribu pencari suaka ke Inggris, dengan menggolongkan ulang mereka sebagai ‘migran ekonomi’. Blair berencana mengubah wajah Inggris selama-lamanya dengan imigrasi masal.” Dia menyuruh pemerintahan Partai Buruh-nya untuk tidak pernah membahas manfaat arus masuk tiada tara ini di depan publik.

Jika keterangan Tom Bower benar, maka kecaman yang dilancarkan oleh para ideolog dan ‘fanatik’ sayap kanan terhadap Partai Buruh dan kaum kiri adalah sah. Pemerintahan Partai Buruh, yang berpura-pura peduli dengan kelas bawah, menerapkan langkah radikal untuk melebur kohesi masyarakat pekerja dan mencopot kekuatan politik mereka. Berkat Blair dan pemerintahan Partai Buruh-nya, kelas pekerja Inggris telah diturunkan menjadi kelas bahwa tanpa kerja!

Stephen Boys Smith, yang kala itu menjabat kepala direktorat imigrasi Kementerian Dalam Negeri, berkata tentang Barbara Roche, anggota parlemen Yahudi kurang dikenal yang menjadi menteri imigrasi antara 1999 s/d 2000: “Jelas, Roche ingin lebih banyak imigran datang ke Inggris. Dia tidak menganggap tugasnya adalah mengendalikan arus masuk ke Inggris, tapi dengan memandang gambaran luas ‘secara holistik’ dia ingin kita melihat manfaat masyarakat multikultur.”

Menurut Mail, “Perbatasan Inggris telah dibuka untuk alasan ideologis.” Dan jika ini perlu konfirmasi resmi, mantan penulis pidato Partai Buruh, Andrew Neither, mengatakan bahwa tujuannya adalah untuk “menggosok hidung kaum kanan dalam kebhinnekaan dan menjadikan argumen mereka usang.”

Menurut Bower, Blair berpikir imigrasi ‘baik untuk Inggris’ dan kebungkamannya perihal isu imigrasi “mendorong Muslim dan Hindu percaya tak ada keharusan untuk berintegrasi dengan masyarakat [setempat]”. Bower menyediakan lebih banyak bukti untuk menunjang klaimnya. “Kenapa kita tidak menetapkan bahwa para imigran harus berbicara bahasa Inggris sebelum diberi kewarganegaraan Inggris? Dihadiahi kewarganegaraan Inggris?” usul kepala imigrasi, Tim Walker. “Tidak,” jawab Jack Straw. Di depan publik, Menteri Dalam Negeri Straw giat menunjukkan dirinya bukan orang gampangan. Harus ada pengawasan lebih kuat di perbatasan, tegasnya kepada Majelis Perwakilan Rendah. Tapi di balik layar, dia terus mempermudah pencari suaka, dan mempersulit pejabat (Kementerian Dalam Negeri).

Ini butuh penjelasan. Kenapa Blair, Straw, Roche, dan lain-lain susah-susah mencekik Inggris dengan dengan imigran ekonomi? Bukankah seharusnya politisi Kiri fokus pada kepentingan pekerja Inggris? Bukan rahasia lagi bahwa hubungan Kiri dan Buruh dengan masyarakat pekerja penuh masalah—ditandai ketidakpercayaan. Untuk suatu alasan, kelas pekerja menolak menganut ‘politik kelas pekerja’, mereka cenderung memberi suara untuk kaum Tory. Pekerja kerapkali konservatif, nasionalis, dan patriotis, mereka tidak serevolusioner yang diisyaratkan Marx dan Trotsky. Pekerja membaca The Sun dan Daily Mail. Pekerja tidak banyak tertarik pada dinasti The Guardian atau Miliband. Bagi kelas rendah Inggris, Union Jack lebih berarti daripada ideologi LGBT, omong-kosong politik identitas sektarian, atau riwayat ‘proletar’ Eric Hobsbawm. Masyarakat kelas pekerja tak butuh identifikasi ‘sebagai masyarakat pekerja’. Mereka tahu siapa diri mereka.

Cerita itu mungkin lebih merusak lagi. Artikel Mail mengindikasikan bahwa pada waktu Blair & Co. bersekongkol untuk menghancurkan kelas pekerja Inggris, Labour Friends of Israel (LFI) dan Lord Levy adalah pendana utamanya. Telah diketahui bahwa kaum kiri Yahudi dan akademisi Yahudi berada di garis terdepan advokasi multikultur dan imigrasi (terlepas dari fakta bahwa sikap Negara Yahudi kepada imigran sangat agresif, hampir barbar). Seperti Partai Buruh, akademisi Yahudi dan kaum kiri Yahudi juga mencurigai kelas ‘bawah’. Biar bagaimanapun, di masa lalu, kelas pekerjalah yang bersatu melawan Yahudi. Lobi Yahudi mendukung imigrasi dan secara historis menggabung kekuatan dengan politisi Kiri. Secara resmi, advokasi ini disertai ergumen etis. Ada argumen etis kuat dalam mendukung pencari suaka. Tapi argumen dalam mendukung migrasi ekonomi lebih bersifat politik daripada moral atau etis.

Pada 2003, Tony Blair membawa Inggris ke dalam perang jahat Ziokon ketika Labour Friends of Israel menjadi pendana utamanya dan Lord Cashpoint Levy menjadi ketua penggalang dananya. Kita mungkin ingin memverifikasi apakah LFI, Lord Cashpoint, Menteri Barbara Roche, dan Jack Straw yang membawa Inggris ke dalam eksperimen multikultur bersama Tony Blair. Kita mungkin ingin mengerti apa persisnya yang ada di pikiran mereka. Apakah mereka mencoba menyelamatkan Inggris atau memperlemah beberapa elemen di dalam masyarakat Inggris?

Saya akui, pada waktu saya menjadi warga Inggris, Blair sedang memimpin. Saya dielu-elukan sebagai salah satu pahlawan multikulturalisme Inggris: Guardian dari Judea memuji kerja saya dan British Council mengangkut saya dan band saya keliling dunia. Tentu saja, tak butuh waktu lama untuk saya memutus semua hubungan. Yang perlu saya lakukan hanyalah memaparkan pendapat saya tentang Blair dan multikulturalisme.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s