Hubungan Putin Dengan Israel/Yahudi Diperinci Dalam Kolom Israel

Oleh: Brandon Martinez
4 November 2015
(Sumber: www.nonalignedmedia.com)

Isi Liebler, penulis Jerusalem Post, memberi ulasan Zionis mengenai hakikat hubungan rumit Putin dengan Israel dan Yahudi.

Putin - Netanyahu

Kontras dengan sikap bermusuhan terhadap Israel yang diperagakan para pemimpin Soviet semasa Perang Dingin, Liebler menyoroti “sikap positif Putin kepada Yahudi secara umum”.

Berspekulasi perihal motif di balik sikap pro-Yahudi dan pro-Israel Putin, Liebler menyebut bahwa sebagian pihak mengaitkannya dengan filosemitisme yang didapat melalui hubungan masa kecil dengan guru Yahudi SMU-nya, Mina Yuditskaya.

“Mungkin dia juga sangat pintar dan pragmatis,” tulis Liebler, “dan setelah melihat hasil dari anti-Semitisme Soviet, mungkin menyadari bahwa dukungan Yahudi melambangkan aset di banyak tingkatan.”

Bahkan, Putin ingin menjilat semua kelompok demi meraih dukungan untuk keberlangsungan dominasinya atas perpolitikan Rusia.

Liebler membuat catatan bagaimana Putin “dengan bengis memberangus kekerasan anti-Semitisme” di Rusia dan tak biasa-biasanya menghadiri upacara Yahudi. Putin menyumbangkan $50 juta dana negara untuk membangun Jewish Museum and Tolerance Centre di Moskow, secara pribadi mendermakan gaji sebulan utnuk proyek itu.

Liebler melanjutkan: “Dia juga menghadiri perayaan Hanukka dan menyampaikan pesan pujian dan penghormatan hangat kepada umat Yahudi menjelang Tahun Baru Yahudi—sama sekali tak ada presedennya, terutama dari pemimpin nasionalis Rusia.”

Terlepas dari persekutuan dengan Suriah dan Iran, Putin “teguh mempertahankan saluran-saluran ke Israel tetap terbuka, menganggap penting kunjungan ke Israel secara pribadi,” tulis Liebler. Dia menyambung:

Bahkan, pada Juni 2012, Israel menjadi negara pertama yang dikunjunginya usai terpilih. Dia sering berbicara hangat tentang negara Yahudi itu, mengekspresikan kebanggaan bahwa itu menampung diaspora terbesar mantan warga Rusia. Di Tembok Barat, ditemani Kepala Rabbi Rusia Berel Lazar, dia mengenakan kippa, yang tak diragukan lagi membuat leluhur Bolshevik-nya bolak-balik resah di dalam kubur mereka. Dia juga tampak tak peduli dengan kemarahan yang timbul di antara sekutu-sekutu Arabnya akibat kejadian ini.

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dengan tangkas menyetir arah diplomasi rawan, berusaha menjaga hubungan baik dengan Rusia tanpa menimbulkan amarah Amerika terkait Ukraina dan Georgia. Belum pernah ada menteri Israel yang mengkritik Putin padahal dia bersekutu dengan Suriah dan Iran. Bahkan, sampai belakangan, Netanyahu berhasil membujuk Putin agar menunda pemasokan sistem pertahanan udara S-300 ke Suriah, yang penyebarannya akan mempersulit Israel menembus ruang udara Suriah kalau-kalau terjadi konfrontasi militer.

Pengerahan pasukan Putin melawan ISIS di Suriah dirancang untuk menandingi Obama dan hegemoni Washington, dan menegakkan Rusia sebagai adidaya lagi di Mediterania. Israel bukan sasaran kampanye anti-ISIS Putin. Tak pelak, ISIS adalah sasaran langsung, dan Washington sasaran tak langsung. Liebler menjelaskan:

Segera setelah mengumumkan intervensi Rusia [di Suriah], Putin menyetujui pertemuan tingkat tinggi selama tiga jam dengan Netanyahu, yang terbang ke Moskow di mana dibuat parameter-parameter untuk meminimalisir tumpang-tindih militer dan mencoba melindungi sebagian kepentingan keamanan Israel.

Koordinasi dijaga di tingkat tertinggi militer, di mana Rusia mengoperasikan sambung telepon langsung dengan Yossi Cohen, penasehat keamanan nasional Israel, memberinya informasi di muka mengenai target-target pengeboman Rusia di Suriah.

Israel puas pertempuran berlanjut di Suriah hingga negara itu berdarah sampai mati, seperti di Lebanon pada 1980-an.

Faktanya adalah selama bom-bom dijatuhkan di Timur Tengah dan orang-orang Arab dan Muslim menjadi sekarat, Israel bahagia, menggosok-gosok tangannya dengan riang. Bom-bom Rusia tidak sedang dan tidak akan menyasar kota Israel manapun. Itu yang penting dari sudutpandang Zionis.

Jika Assad tidak ditakdirkan menang penuh, tulis Liebler, Putin mungkin puas “mengamankan Assad, menetap di Suriah yang terbelah, dan mengungkit pengunduran diri Assad sebagai imbalan untuk konsesi AS semisal peringanan sanksi terkait Ukraina.”

Bahkan, Rusia diduga pernah melontarkan ide meminta Assad mundur pada 2012 sebagai bagian dari “proposal damai”, tapi ditolak Barat.

Analisa pro-Zionis Liebler perihal Putin memancarkan pandangan bahwa Putin adalah seseorang yang ditakuti Israel dan Yahudi atau dianggap lawan berat.

Liputan media Israel tahun 2013 menyebut Putin menjamin Netanyahu bahwa dirinya “takkan berbuat sesuatu yang membahayakan Israel,” menambahkan bahwa terlepas dari aliansi AS-Israel, Rusia “tetap berdiri di sisi Israel dan menawarkan bantuan kalau-kalau terjadi perang terhadapnya.” Putin juga seolah setuju menghalangi upaya perlucutan senjata nuklir Israel.

Tapi Putin lebih dari bahagia untuk melucuti senjata kimia Suriah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s