Supremasis Yahudi Gunakan “Fabel Holocaust” Untuk Promosikan Invasi Dunia Ketiga Atas Eropa

6 September 2015
(Sumber: www.newobserveronline.com)

Supremasis Yahudi di Anti-Defamation League dan tempat lain sedang memakai “fabel holocaust” untuk mempromosikan dan membenarkan invasi Dunia Ketiga atas Eropa saat ini, demikian kata pakar holocaust terkemuka.

Menulis di blog pribadinya, Peter Winter, pengarang buku laris The Six Million: Fact or Fiction, mengutip dari artikel anyar New York Times di mana kepala ADL dan aktivis Yahudi lainnya berpaya menggertak warga Eropa secara moral agar menerima invasi.

Winter menulis:

“Dalam bab terakhir The Six Million: Fact or Fiction, saya mengutarakan alasan kenapa para Pendongeng Holocaust meneruskan fabel ‘enam juta orang diracun gas’, berkesimpulan bahwa:

‘Holocaust’ telah menjadi alat bagi mereka yang berusaha memberangus setiap pembahasan isu ras, imigrasi, atau etnis.

Faktor terakhir ini telah mengakibatkan, contohnya, kelompok apapun yang mengadvokasi pelestarian identitas atau homogenitas nasional dicap sebagai ‘Nazi’ dan karenanya ‘orang menjauh dari kamar gas’.

“Peristiwa belakangan seputar membanjirnya ‘migran’ ke Eropa (dan saya gunakan istilah ini setelah menimbang masak-masak, karena kelihatannya banyak dari mereka cuma imigran ilegal oportunistik) ternyata merupakan keadaan yang dimaksud.

“Menurut artikel yang kini dimuat di New York Times, kita dapati banyak organisasi besar Yahudi di AS mengumumkan bahwa siapapun orang Eropa yang menentang arus ‘migran’ saat ini tidak ‘paham Holocaust’.

New York Times - Perlakuan imigran

“Artikel New York Times (Krisis Kemanusiaan Bangkitkan Masa Tergelap di Eropa, 4 September 2015) kemudian memberitahu kita:

‘Ngeri sekali saat saya melihat gambar-gambar polisi memasang nomor pada lengan orang-orang,’ kata Robert Frolich, kepala rabbi Hongaria. ‘Itu mengingatkan saya pada Auschwitz. Dan kemudian menempatkan mereka di kereta bersama pengawal bersenjata untuk dibawa ke kamp di mana mereka akan ditutup rapat? Tentu saja ada gema Holocaust.’

Robert Frolich

Bangsa Eropa sedang menghadapi salah satu krisis kemanusiaan terburuk sejak Perang Dunia II, tetapi banyak dari mereka tampaknya buta akan gambar-gambar yang mengingatkan masa tergelap dalam sejarah mereka.

Kenneth Roth

Krisis migran ini bukan genosida. Masalah di seantero Benua itu adalah bagaimana mendaftarkan, merumahkan, mempermukimkan, atau memulangkan ratusan ribu migran dan pengungsi, sebuah tantangan logistik yang menjerakan. Tapi mungkin sejak Yahudi ditangkapi oleh Nazi Jerman, belum ada lagi banyak gambar dari Eropa berisi orang-orang dikunci dalam kereta, bayi-bayi diserahkan di atas kawat berduri, pria-pria berkelengkapan militer menggiring kerumunan lelaki, wanita, dan anak dekil.

Pada waktu bersamaan, gambar-gambar dapat menguak fakta lebih dalam perihal Eropa dan ketidaksiapannya menghadapi krisis yang begitu lama berproses: sambil memuji kebajikan hak azasi manusia dan humanisme, itu tetap, di banyak wilayah, tempat yang resisten terhadap imigrasi dan kebhinnekaan.

Alhasil, sebagian orang di sini bereaksi dengan cara yang mengingatkan beberapa pihak akan impuls tergelap Benua ini.

‘Mereka pasti lupa, sebab siapa pula yang mau berbuat itu kalau mereka punya ingatan sejarah,’ kata Kenneth Roth, direktur eksekutif Human Rights Watch. ‘Ini mengagumkan, sungguh. Tentu gambar-gambar kereta itu tak bisa membantu tapi membangkitkan mimpi buruk Holocaust.’

Jonahan Greenblatt

Tapi bagi yang lain, fakta bahwa itu tidak dilakukan dengan sengaja adalah lebih menyeramkan. Itu menunjukkan keterputusan sejarah di banyak tempat di mana Holocaust menyebabkan kerusakan terdalam.

‘Mungkin benar mereka tidak tahu, tapi ketidakpekaan dan ketidaktahuan akan perumpamaan yang ditimbulkan oleh tindakan mereka sangat menakjubkan; itu memuakkan,’ kata Jonathan Greenblatt, direktur nasional Anti-Defamation League, di New York.

Andrew Stroehlein

Bagi banyak pendukung migran, yang membingungkan dari amnesia sejarah ini adalah bahwa negara-negara pengambil sikap garis keras tergolong negara yang paling menderita selama Perang Dunia II dan menghasilkan paling banyak pengungsi pasca perang.

‘Sulit dimengerti bagaimana orang-orang kehilangan perasaan sejarah mereka secepat itu,’ kata Andrew Stroehlein, direktur media Eropa untuk Human Rights Watch.

‘Kita semua mengaku sudah belajar sejarah, tapi penolakan terhadap orang-orang sengsara ini, yang lari dari situasi horor, mengisyaratkan bahwa kita belum belajar sama sekali.’

Winter menyambung: “Saya tidak harus sebutkan bahwa Kenneth Roth, Jonathan Greenblatt, dan Andrew Strohlein, semuanya adalah Yahudi.”

“Jadi begitulah: jika Anda tidak terima arus migran, Anda sedang mengulang Holocaust—persis jenis taktik yang saya uraikan dalam buku. Sedih sekali mendapati tragedi di Timur Tengah dan dampaknya di Eropa menjadi subjek gertakan ‘Holocaust’ baru: dan ini semakin menekankan bahwa fabel ‘enam juta’ harus dilumat untuk selama-lamanya,” tutup Winter.

Komentar Editorial: ADL dan kaum Supremasis Yahudi lain yang merasa benar sendiri perihal upaya Eropa untuk melestarikan homogenitasnya juga bertolak belakang dengan tanah Yahudi Israel, di mana para imigran dicek DNA untuk memastikan mereka betul-betul Yahudi, dan di mana kepala rabbi negara itu terekam mengatakan bahwa hukum kewarganegaraan Israel berdasar ras belum “cukup ketat”. ADL dan orang-orang Yahudi “Human Rights Watch” di atas selalu bungkam soal langkah Yahudi untuk tetap murni [secara ras]…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s