China – Korban Yahudi Berikutnya

Oleh: Lasha Darkmoon
10 Desember 2014
(Sumber: www.darkmoon.me | www.veteranstoday.com)

Apa pendapat China tentang dominasi Yahudi di dunia? Bagaimana mereka menjadi sasaran berikutnya dalam daftar?

Bagian I: Permainan Dominasi

Artikel baru tentang China karangan Kevin MacDonald layak untuk dibaca. Artikel itu diawali dengan kata-kata ini: “[Majalah] Tablet memuat artikel yang mencerminkan kecemasan Yahudi terhadap kemungkinan bahwa China berpikir Yahudi menjalankan Amerika: China Percaya Yahudi Mengendalikan Amerika: Apa Ini Bagus?

Clarissa Sebag-MontefioreMacDonald kemudian menyajikan kutipan panjang dari pengarang artikel majalah Tablet, Clarissa Sebag-Montefiore (gambar di atas), di mana sang penulis muda Yahudi ini berusaha sekuat tenaga memperolok ide bahwa Yahudi mengendalikan Amerika.

Henry Ford

Ketika seseorang dengan nama “Sebag-Montefioer” menulis sebuah artikel, dunia harus duduk tegak dan memperhatikan. Ini karena Montefiore adalah salah satu keluarga Yahudi paling terpandang di Inggris—yang terbaik dari yang terbaik di kalangan Yahudi Inggris—keluarga mulia Yahudi lainnya di Inggris adalah Rothschild, Sassoon, Freud, Joel, Neuberger, dan Hart.

Nn. Sebag-Montefiore jelas bersusah-payah meyakinkan orang China—yang dia tahu akan membaca artikelnya dengan penuh minat—bahwa ide kekuasaan Yahudi di Amerika adalah kabar angin anti-Semitik jahat.

Yahudi, bujuknya kepada China, memiliki pengaruh kecil terhadap urusan Amerika. Memang betul, kerapkali ada tuduhan dari orang-orang bahwa Yahudi menguasai media dan Hollywood, tapi pernyataan konyol ini harus diambil dengan skeptis. Bangsa China, dengan kecerdasan tinggi mereka, akan mengatasi klaim-klaim tampak benar ini—atau, dalam bahasa Nn. Sebag-Montefiore yang sudah bisa diprediksi, “stereotip berkubu”.

Henry Ford tentu akan punya pandangan lain tentang ini semua. Menulis hampir 100 tahun lalu, beliau berkata: “Mengendalikan sumber-sumber berita dunia, Yahudi selalu bisa menyiapkan pikiran masyarakat untuk langkah mereka berikutnya.”

Berikut adalah usaha gagah-berani Nn. Sebag-Montefiore untuk membujuk China supaya memandang Yahudi lewat kacamata indah Yahudi:

“Apakah Yahudi Betul-betul Mengendalikan Amerika?” tanya sebuah tajuk utama mingguan China pada 2009. Faktoid [lihat pilihan kata yang meremehkan, “faktoid”] yang dibagikan dalam artikel-artikel semacam itu dan dalam buku-buku tentang Yahudi di China—sebagai contoh: “Kekayaan dunia ada di kantong Amerika; Amerika ada di kantong Yahudi”—wajar akan dianggap menggelisahkan dalam konteks lain. Tapi di China, di mana Yahudi dipandang luas sebagai kaum cerdik dan ulung, ini dimaksudkan sebagai pujian.

Coba amati rak-rak di toko buku manapun di China, dan kemungkinan besar Anda akan jumpai buku-buku self-help laris berlandaskan pengetahuan Yahudi. Mayoritas fokus pada bagaimana menghasilkan uang. Judul-judulnya mulai dari 101 Money Earning Secrets for Jews’ Notebooks hingga Learn to Make Money with the Jews.”

Dan sekarang giliran rayuannya: upaya untuk membuktikan bahwa Yahudi dan China bersemangat sama, disatukan oleh cita-cita bersama dan aspirasi mulia:

“Bangsa China mengakui, dan memeluk, karakteristik bersama antara budaya mereka dan budaya Yahudi. Kedua ras memiliki diaspora besar yang tersebar di seluruh dunia. Keduanya menekankan keluarga, tradisi, dan pendidikan. Keduanya membanggakan peradaban yang berumur ribuan tahun. Di Shanghai, saya sering diberitahu, diiringi anggukan setuju, bahwa saya harus cerdas, melek, dan tanggap, karena etnis saya.”

Tanpa menunggu sampai selesai—saya akan buru-buru menamatkannya hari itu—saya membuat komentar ini di situs pribadi:

“Walau jelas bagi kita semua bahwa Yahudi mengendalikan Amerika, saya tercengang mereka masih terus berpura-pura sebaliknya! Kelihatannya saat ini mereka khawatir China mendapat “pemikiran keliru” bahwa mereka mengendalikan Amerika! Jelas mereka ingin memperdaya China supaya berpikir mereka tidak berbahaya.”

Komentar saya mendapat tanggapan menarik dari penulis Franklin Ryckaert, komentator kawakan di The Occidental Observer milik Kevin MacDonald: “Kau takkan tercengang jika tahu apa yang disebut ‘mimikri agresif’, yang didefinisikan sebagai berikut: ‘Mimikri agresif adalah bentuk mimikri di mana predator, parasit, atau parasitoid memiliki sinyal serupa dengan model tak berbahaya, memungkinkan mereka tidak dikenali oleh mangsa atau inang.’” (Lihat di sini)

“Yahudi adalah parasit yang ingin mengeksploitasi, mengendalikan, dan akhirnya menghancurkan inang mereka,” sambung Ryckaert, “tapi karena mereka minoritas kecil di setiap tempat, mereka harus berpaling pada strategi tertentu agar tidak dikenali dan diusir. Pertama, mereka melakukannya dengan menyembunyikan identitas (memakai nama-nama non-Yahudi, “pindah” ke agama lain, dan lain-lain) dan dengan berdiam sebanyak mungkin di latar (sebagai “penasehat” tokoh pimpinan tapi bukan sebagai pemimpin itu sendiri). Kedua, mereka memproyeksikan citra sebagai orang yang tidak berbahaya, tidak berdaya, atau bahkan tertindas dan teraniaya. Makanya cerita Holocaust sangat ditekankan. Inilah sebabnya kenapa Yahudi tak mau dilihat oleh China sebagai pengendali total Amerika. China adalah inang mereka berikutnya dan mereka perlu dilihat sebagai orang yang tak berbahaya.”

Artikel Nn. Sebag-Montefiore tersandung pada satu kalimat meremukkan ini: “CHINA ADALAH INANG MEREKA BERIKUTNYA DAN MEREKA PERLU DILIHAT SEBAGAI ORANG YANG TAK BERBAHAYA”. Sebuah komentar menusuk, tak diragukan lagi, meski bukan sanjungan bagi sepupu-sepupu Yahudi kita.

Saya menjawab:

Well, mudah-mudahan bangsa China cukup pintar untuk menghindari nasib rakyat Amerika. Amerika kini mirip koloni budak yang dikuasai Yahudi. Bahwa rakyat Amerika tak mampu belajar dari sejarah—dari pengambilalihan Jerman dan Rusia oleh brigade Bolshevik—ini adalah ceminan karakter Amerika yang memilukan.

Bukankah mereka melihatnya datang? Jika ya, rupanya mereka tidak terlalu terusik. Seperti bangsa Inggris yang mengibarkan bendera putih dahulu dan cukup bahagia menerima perbudakan di bawah Yahudi: (a) asalkan itu didandani sebagai “demokrasi”, dan (b) asalkan barang rampasan dibagi-bagi sedemikian rupa sehingga aristokrasi gentile tidak disingkirkan dari posisi di palung babi.

Rakyat Inggris dan Amerika, boleh dibilang, bersedia membuat pakta Faustian dengan Yahudi: bahwa selama Yahudi menjadikan sekian persen dari mereka kaya, memperkenankan mereka jadi bagian dan bingkisan dari elit predator, takkan ada keluhan. Hollywood adalah contohnya, dan di manapun selebritis macam Madonna diproduksi. Kekayaan besar ditaburkan pada brengsek-brengsek non-Yahudi ini selama mereka melayani para penguasa elit dengan setia.

Saya tidak yakin China akan lebih berhasil daripada negara-negara Barat kita dalam melawan muslihat Yahudi. Suap dan gertak mungkin akan berbuah. Yang penting adalah menahan massa tetap tenang. Selama para budak dibiarkan merasa memegang kendali dan dibuat menikmati perbudakan, hidup akan berjalan terus.

Kutipan dari Aldous Huxley ini mengatakan semuanya:

“Negara totaliter yang betul-betul efisien adalah negara di mana bos-bos eksekutif politik maha kuasa dan laskar pengelola mereka mengendalikan populasi budak yang tak perlu dipaksa, sebab mereka mencintai penghambaan itu.”

Franklin Ryckaert setuju. Dia berharap bangsa China, demi kebaikan mereka sendiri, sedikit lebih pintar dibanding rakyat bebal Amerika yang membiarkan dirinya dikhianati.

Kita hanya bisa berharap China mampu menghindari pengrusakan oleh Yahudi. Kecerdasan tinggi, realisme, dan nilai-nilai tradisional mereka mungkin membantu, tapi kita harus camkan bahwa mereka pernah jadi korban ideologi destruktif Komunisme, yang mana merupakan [buatan] Yahudi biar bagaimanapun. Di bawah Komunisme, China meninggalkan nilai-nilai tradisional, mencela Konfusianisme sebagai “feodal” dan dalam Revolusi Kebudayaan oleh Mao bahkan menghancurkan harta seni berusia berabad-abad. Jika satu ideologi Yahudi dapat menumbangkan mereka satu kali, satu lagi dapat melakukannya untuk kedua kali.

Kevin MacDonald lalu kembali mengutip Nn. Sebag-Montefiore, kali ini soal pengendalian media. Nn. Sebag tampak ingin sekali meyakinkan China bahwa konsep kendali Yahudi atas media adalah kabar angin anti-Semitik yang rupanya telah merundung China (huh huh) sekalipun.

“Persis sebelum kunjungan saya ke Nanjing,” urainya sayu, “taipan China Chen Guangbiao masuk tajuk utama di seluruh dunia dengan mengumumkan ambisinya membeli New York Times dan kemudian Wall Street Journal. Dalam wawancara TV, dia menjelaskan dirinya akan menjadi tokoh suratkabar yang ideal karena ‘saya sangat pandai bekerjasama dengan Yahudi’—yang, dia bilang, mengendalikan media.”

“Yang, dia bilang, mengendalikan media.”

Filantropis China Chen Guangbiao membagikan uang kepada para tukang sapu jalan di Nanking.
Filantropis China Chen Guangbiao membagikan uang kepada para tukang sapu jalan di Nanking.

Perhatikan cara penyampaiannya yang licik. Si malang Chen dikesankan sudah punya pemikiran konyol bahwa Yahudi mengendalikan media Amerika! Dari mana dia dapat pemikiran sejanggal itu? Kasihan, cepat besar Tn. Chen, dasar miliarder China yang bodoh!

Si flamboyan dermawan Chen Guangbiao, salah satu dari 400 orang terkaya China, terbang ke Amerika setahun lalu dan mengumumkan keinginannya untuk memborong New York Times, yang membuat kaget setiap orang. Rupanya, para pemegang saham Yahudi menolak bertemu dengannya untuk membahas hal ini dan tawarannya dicemooh (gambar kartun).

Dia lantas berkata ingin memborong Wall Street Journal, suratkabar Yahudi lainnya. Dengan kelancangan memikat, dia bilang ingin memberi “keseimbangan lebih” pada koran-koran Zionis ini—sebuah komentar yang tak pelak menimbulkan cukup kegelisahan di lingkaran kosmopolitan.

Gagal maju dalam rencana mengakuisisi koran-koran tak seimbang Amerika, Cheng akhirnya menghibur diri dengan mengadakan makan siang mewah di Central Park untuk 250 tunawisma New York.

Sayang sekali, miliarder China ini tidak dibolehkan memberi “keseimbangan lebih” pada media massa milik Yahudi dengan menerobos monopoli mereka—sesuatu yang menggiring kepada zionisasi total Amerika di sebuah negara polisi ter-Israelisasi dan yahudifikasi kejiwaan rakyat Amerika yang melumpuhkan.

Kendali Media Yahudi
Kendali Media Yahudi

Berikut adalah kutipan masyhur dari Protocols of the Elders of Zion tentang pengendalian Yahudi atas media, buku yang direkomendasikan oleh profesor terkemuka Norwegia Johan Galtung, pengarang 100 buku dan lebih dari 1000 makalah keilmuwan, kepada para pembaca terlepas dari reputasinya sebagai “tiruan” (lihat di sini). Galtung terutama terkesan oleh kutipan mengenai cekikan Yahudi atas media:

“Tak satupun pengumuman akan sampai ke masyarakat tanpa kendali kita. Bahkan sekarang ini tercapai oleh kita lantaran semua item berita diterima oleh segelintir agensi… Agensi-agensi ini kemudian akan menjadi milik kita sepenuhnya dan akan memberi publisitas pada apa yang kita diktekan saja. Sekarang kita sudah berhasil menguasai pikiran komunitas goyyim hingga taraf di mana mereka semua hampir memandang peristiwa-peristiwa dunia lewat kacamata berwarna yang kita taruh di hidung mereka.” (Protokol 12)

Kevin MacDonald menutup esai China-nya dengan peringatan terselubung untuk bangsa China agar tidak terlalu mempedulikan omongan ambigu Yahudi, sebagaimana tergambar dari frasa-frasa bermadu yang menetes dari pena nona cantik Sebag-Montefiore.

“Diskusi jujur mengenai kekuasaan dan pengaruh Yahudi—entah itu Lobi Yahudi, Hollywood dan media, Wall Street, atau imigrasi dan multikulturalisme—akan dibuat terlarang, bukan saja di AS, di mana terdapat prasarana luas berdana besar untuk memastikannya, tapi juga di China di mana uang Yahudi sudah berefek besar pada batas-batas diskusi sah. China sebagai adidaya yang sedang terbit akan bekerja dengan baik untuk memandang Yahudi lewat lensa realisme dan diskusi empiris. Akan tetapi, sebagaimana di tempat lain, telah ada kekuatan-kekuatan yang mendorong ke arah berlawanan.”

Kita sudah begitu jauh mencurahkan esai ini pada prospek pengambilalihan China oleh Yahudi. Seluruh ide ini, diakui, terasa konyol di permukaan. Nn. Sebag-Montefiore akan memandang hina dan menolaknya sebagai “teori konspirasi panik”. “Dia sudah bersusah-payah untuk meyakinkan China bahwa jika Yahudi harus datang ke China dalam jumlah semakin banyak di masa depan, mereka akan datang sebagai pelaku kebaikan yang bersahabat dan altruistik.

Jangan pikirkan bahwa setiap negara yang mereka datangi di masa lalu ditimpa banyak masalah tak lama pasca kedatangan mereka. Jangan pikirkan bahwa mereka telah diusir dari 109 lokasi sejak tahun 250. Jangan pikirkan bahwa mereka telah dianggap dan dicap sepanjang sejarah sebagai hama mutlak. Jangan pikirkan bahwa lebih dari 60 juta Kristen Rusia dimatikan oleh mereka di Uni Soviet di bawah Lenin dan Stalin dalam gulag dan sel bawah tanah Cheka. Jangan pikirkan bahwa mereka sudah mengambilalih Amerika. Kali ini akan berbeda. Berbeda sama sekali.

Tapi tunggu—tahan sebentar!—mungkin kita tak usah terlalu khawatir dengan pengambilalihan China. Kelihatannya mereka sudah sadar akan tawaran Yahudi untuk penguasaan dunia. Jauh dari cemas akan diambilalih, sebagian dari mereka sudah mulai bicara tentang peniruan strategi Yahudi untuk menggapai kekayaan dan kekuasaan.

Mereka ingin mempelajari Talmud, luar biasa, untuk mencaritahu apakah para rabbi bijak di masa kuno punya tip panas tentang cara menjadikan mereka sekaya Yahudi! Dan selagi mereka asyik dengan itu, kenapa tidak menelaah Protocols of the Elders of Zion untuk mencaritahu ide-ide cerdik apa saja yang ditawarkan kaum Yahudi pintar ini soal Penguasaan Dunia?

Kedengarannya hampir seperti satir Swiftian. Cukup untuk memberi serangan melemahkan kepada nona kelas atas Sebag-Montefiore. Cih, kalau Yahudi bisa mengambilalih Amerika, kenapa kita China tidak bisa mencobanya juga!

Berikut adalah ceramah Profesor Xu Xin di depan hadirin Amerika. Dengarkan baik-baik. Apa dia serius atau sedang mengibuli kita?

“Saya rasa sudah jelas, Yahudi mengendalikan dunia Barat. Mereka menjalankan media, universitas, dan sebagian besar pemerintah kalian. Mereka mendikte kalian siapa yang harus diperangi, siapa yang akan berperang, siapa yang akan mendukung, dan bagaimana membelanjakan uang kalian. Inilah yang ingin kami China pahami ketika mempelajari dominansi dan hegemoni Yahudi atas Barat.

Ada begitu banyak contoh bagaimana kalian terpedaya oleh trik Yahudi. Hitler adalah orang terakhir yang secara terbuka menentang kekuasaan Yahudi dan lihatlah bagaimana dia dipandang. Dia dibenci gara-gara apa yang Yahudi ajarkan pada kalian melalui film dan buku mereka.

Kami China merasa geli betapa mudah orang-orang kulit putih tertipu. Kami ingin menemukan jalan yang sama untuk membentuk pikiran kalian. Ini sebabnya kami mempelajari mereka, kaum Yahudi.”

Lihat “Akademisi China Menyebut China Tiru Yahudi Untuk Mengambilalih AS dan Barat

Masa-masa mendatang akan mengasyikkan. Karena Yahudi menggoda-goda China, seperti Big Bad Wolf yang bersikap manis kepada Goldilocks…dan karena China setengah bergurau berencana mempelajari Talmud dan Protocols dengan maksud mengambilalih Amerika dari Yahudi.

Bagian II: Opium, Seks, dan Kematian

Adalah fakta memilukan dan menenangkan bahwa Yahudi telah berurat akar di China selama berabad-abad. Sebagaimana diurai ringkas oleh seorang pemantau China terpelajar di situs saya baru-baru ini, chinaisasi nama-nama Yahudi sudah berlangsung di masa para Kaisar Ming beberapa abad lalu:

Kekuatan kolonial memotong-motong China

“Pada masa Dinasti Ming (1368-1644), seorang kaisar Ming menganugerahkan tujuh marga pada kaum Yahudi, yang dengannya mereka dapat diidentifikasi hari ini: Ai (艾), Shi (石), Gao (高), Jin (金), Li (李), Zhang (張), dan Zhao (趙); ketujuh nama asli klan-klan Yahudi ini adalah: Ezra, Shimon, Cohen, Gilbert, Levy, Joshua, dan Jonathan. Yang menarik, dua di antara mereka, Jin dan Shi, adalah padanan nama-nama lazim Yahudi di Barat: Gold dan Stone (lihat di sini).”

Kenyataannya Yahudi tiba di India lewat Jalur Sutera hampir 1000 tahun lampau, jauh sebelum Marco Polo membuka jalan ke Istana Grand Cam (Khan) di Cathay jauh (China) di akhir abad ke-13. Gelombang Yahudi mengikuti mereka pada abad-abad berikutnya hingga China akhirnya memperoleh Yahudi asimilasinya sendiri, Yahudi Kaifeng, yang tak dapat dibedakan dari orang China. Yahudi Irak, Yahudi yang kabur dari Rusia, Yahudi yang kabur dari Nazi dalam jumlah puluhan ribu, semuanya datang membanjiri tempat percampuran besar, Shanghai.

Bahkan terdapat Yahudi kalangan atas di Partai Komunis China, meliputi Yahudi Amerika Sidney Rittenberg dan jurnalis Israel Epstein (lihat di sini).

Perdagangan opium tercela di China, yang ke dalamnya orang-orang mudah rusak dari Inggris ditarik oleh uang Rothschild, sebetulnya adalah gagasan Yahudi sefardim Inggris, Elias David Sassoon. Seorang Yahudi Inggris lain, Silas Aaron Hardoon, mitranya di firma E.D. Sassoon & Co., bergabung dalam usaha hina ini.

Sumber konflik antara China dan East India Company—yakni nukleus (inti) Kekaisaran Inggris yang ditumpangi Yahudi—bekingan Rotshchild dapat dijumpai dalam pernyataan lunak mengenai Perang Candu Pertama berikut ini:

Di abad 17 dan 18, permintaan untuk barang-barang China (khususnya sutera, perselen, dan teh) di pasar Eropa menciptakan ketimpangan perdagangan lantaran pasar untuk barang-barang Barat di China hampir tidak ada; China swasembada dan Eropa tidak diberi akses ke bagian dalam China…

East India Company Inggris memegang monopoli perdagangan Inggris yang sepadan. Mereka mulai melelang opium yang ditanam di perkebunannya di India kepada para pedagang mandiri asing sebagai tukaran dengan perak.

Opium lalu diangkut ke pesisir China dan dijual kepada tengkulak China yang mengecer narkotik tersebut di dalam China. Arus balik perak ini dan pertambahan jumlah pecandu opium menggelisahkan pejabat China.

Sebagai dekonstruksi dan penyederhanaan:

Eropa menginginkan teh, sutera, dan porselen dari China, tapi China swasembada dan tak butuh tukaran apa-apa dari Eropa. Akibatnya adalah defisit perdagangan di mana Inggris (lewat East India Company-nya) berutang banyak perak, dan terus bertambah, kepada China.

Bagaimana Inggris mencoba memecahkan masalah pelik ini? Mereka menyerahkannya kepada Yahudi yang menjadi nukleus East India Company untuk menghasilkan solusi apik.

East India Company mulai menanam opium di perkebunan Indianya. Lalu mereka mengangkut opium olahan ke Bombay dan Calcutta di mana hasil panen ini dijual lewat lelang kepada “pedagang mandiri asing”. Frasa aman ini—“pedagang mandiri asing”—perlu diterjemahkan. Ini tak lain adalah eufimisme untuk saudagar Yahudi.

Di masa itu bukan cuma ada kawanan Yahudi Inggris dan Eropa, yang terkonsentrasi di kota pelabuhan Bombay dan Calcutta, tapi juga seluruh komunitas Yahudi India: yakni, Yahudi Cochin atau Malabar (lihat gambar ini) yang menjadikan ujung selatan India sebagai rumah mereka sejak zaman purbakala.

Para saudagar Yahudi yang membeli opium di India lalu mengirimkannya ke China di atas kapal kliper opium mereka di mana itu ditukar dengan perak dari “tengkulak China”—mayoritas adalah Yahudi Kaifeng (China)—fakta ini juga disembunyikan rapat-rapat oleh para sejarawan istana kita yang menganut kepatutan politis. Kaum Yahudi China ini lantas mendistribusikan opium ke seantero China, menyebabkan wabah kecanduan opium di antara semua golongan China, dari tuan tanah elit dan pejabat hingga kuli rendah dan penarik angkong.

(Kepatutan politis adalah sikap menghindari penggunaan bentuk-bentuk ungkapan atau tindakan yang dianggap mengecualikan, meminggirkan, atau menghina kelompok orang yang kurang beruntung secara sosial atau didiskriminasi—penj.)

Sarang opium China
Sarang opium China

Adapun perak yang didapat dari penjualan opium, ini bukan saja untuk membantu memperkecil defisit perdagangan Inggris dengan China tapi juga memperkaya sepasukan petinggi East India Company, banyak dari mereka adalah Yahudi.

Maka dengan cara inilah Kekaisaran Inggris menjadi begitu kuat: memenangkan dua Perang Candu dengan bantuan uang Rothschild (Perang Candu Pertama 1839-1842, Perang Candu Kedua 1856-1860). Inggris tumbuh kaya dengan teh China, sutera China, porselen China, dan mengakuisisi Hong Kong dengan sewa 99 tahun. Dan di atas inilah mereka mendirikan Kekaisaran, dengan bantuan saudagar Yahudi.

Sebagai gantinya apa yang China peroleh? Jutaan pecandu opium. Menjelang 1905, berdasarkan perhitungan, 27% pria China telah kecanduan opium, “13,5 juta orang mengkonsumsi 39.000 ton opium per tahun”.

Bila kita tengok lagi Kekaisaran Inggris, dan peran yang dimainkan Yahudi dalam membawanya ke puncak kekayaan dan kekuasaan, mau tak mau kita merenungkan epigram masyhur Balzac: “Di balik setiap kekayaan besar terdapat kejahatan besar.”

Gudang opium di India (sekitar tahun 1850)
Gudang opium di India (sekitar tahun 1850)

Gambar ikonis sebuah gudang opium ini merupakan litograf yang dibuat oleh Komisioner Bengal LetKol Walter S. Sherwill. Pusat produksi dan distribusi ini berlokasi di Patna, India. Di sini 13 juta pon getah opium diolah dalam tangki-tangki raksasa dan dipadatkan menjadi bola-bola lengket seukuran melon (lihat gambar di atas), para pekerja diharuskan menggulung 100 bola per hari. Bola-bola ini lalu ditempatkan di dalam peti dan dikirim ke Bombay dan Calcutta, dari sana lantas dikapalkan ke Canton di China (untuk lebih detil, lihat di sini).

Ini adalah peta yang menunjukkan rute dari gudang-gudang opium di Bombay dan Calcutta ke Canton di China. Dan ini adalah grafik yang menunjukkan pertumbuhan pesat ekspor opium Inggris ke China antara 1729 s/d 1832. Sesudah itu, perdagangan meningkat spektakuler karena jumlah pecandu China melonjak ke angka lebih dari 10 juta.

Apakah Inggris peduli? Rupanya tidak. Tumbuh kaya di atas penderitaan orang lain, sebagaimana diketahui oleh semua negara pemangsa, bukanlah aturan besi. Itu dikenal sebagai Yang Paling Kuat Yang Bertahan Hidup. Yahudi, tak dapat disangkal lagi, adalah tenaga penggerak di balik perdagangan jahat ini, sebagaimana hari ini mereka ada di balik penyakit jahat kecanduan porno. Waktu itu opium, kali ini pornografi. Kecanduan baru untuk zaman baru.

Yang cukup mengherankan, sarang opium kerapkali berfungsi ganda sebagai rumah bordir.

Selain sebagai penghilang rasa sakit, anastetik, pembuat kelenger, pembangkit hipnosis, pemberi euforia, opium juga merupakan perangsang birahi manjur dan dikait-kaitkan dengan kinerja seksual sejak abad 16. Menurut tabib China Li Slizhen, yang menulis dalam Compendium of Materia Medica (1578), opium mampu memberi stamina tambahan dan daya tahan selama hubungan intim, karena punya kemampuan “menahan pemancaran mani”.

Gadis jelita Rusia dan wanita Yahudi Asiatik bermata sipit tersedia untuk hubungan seks di sarang-sarang opium Shanghai. Sarang asusila mesum di mana pria-pria kerempeng menuangkan mani mereka ke dalam vagina rakus gadis-gadis pecandu opium—yang baginya seks adalah cara membayar dosis opium berikutnya—menyebar ke kota-kota besar Barat: Paris, London, Berlin, New York, dan San Fransisco. Pada akhir abad 19, terdapat 200.000 pecandu opium di AS, tiga perempatnya adalah wanita.

Berikut (lihat kartun Punch di bawah) adalah bagaimana para jingo Inggris, di bawah mentor Yahudi mereka, memperlakukan bangsa China di masa gemilang Kekaisaran Inggris. Bangsa China akan bekerja dengan baik untuk mengingat penghinaan masa lalu ini dan berusaha sekuat tenaga untuk mencegah raptor kolonialis lama masuk ke negara mereka.

Kartun John Leech (Punch)

Sekarang kita sudah belajar sejarah yang bernilai. Kaum cerdik-pandai China hari ini pasti kenal dengan fakta-fakta dasar ini. Mereka juga pasti tahu siapa musuh historis mereka.

Jika mereka ragu, silakan buka buku-buku sejarah, maka sederet nama Yahudi akan berhamburan dari halaman-halaman apek itu, nama semua orang Yahudi yang membantu menjarah leluhur mereka lewat Kekaisaran Inggris: Elias David Sassoon dan Silas Aaron Hardoon, mitra di E.D. Sassoon & Co., sebagaimana sudah disinggung di atas, selain Edward Ezra, Morris Cohen—dilukiskan oleh Sunday Express Afrika Selatan di tahun 1945 sebagai “jenius pemandu di balik para Panglima Perang China”—Jacob Borodin (alias Grusenberg), Trebitsch Lincoln (anggota parlemen Inggris), BK Galen (alias Chesin), Skidelski, Gekker, Koslowsky, Snamensky, MD Lashewitz, WN Levitscher, A Joffe, R. Haas, JB Rajchman, Ben Kizer.

Semua nama ini akan dijumpai dalam esai karya Arnold Leese, seorang anti-Semit tersohor, jadi mungkin sebaiknya dia tak usah ditanggapi serius ketika menutup paparannya, The Jewish Rotting of China, dengan kata-kata menggoncangkan ini:

“Setiap posisi kunci dalam proses penghancuran Bolshevik atas China adalah Yahudi.”

Rothschilds di China

Prospek dunia tidak tampak bagus. Di sini kita tidak lagi membicarakan “pengambilalihan” China oleh Yahudi. Franklin Ryckaert mungkin akan bilang, dengan pengamatan tajamnya tentang mimikri agresif: “Parasit sudah mengambil kendali tubuh inang.”

Tatkala waktunya tepat, saya memprediksi, Yahudi akan turun dari kapal beramai-ramai dan menjadikan China sapi perah dan kleptokrasi berikutnya—tapi tidak sebelum mereka menghancurkan Amerika, menyisakan sebuah negara Dunia Ketiga dalam puing-puing.

Di sini, dalam lubang neraka multikultural keputusasaan eksistensial ini, sisa-sisa ras kulit putih harus betah dengan perkosaan dan pembunuhan berskala tiada tara, seperti rakyat Rusia dan Jerman di paruh pertama abad 20 di tangan Yahudi Bolshevik yang sama.

Mentari sedang terbenam di Kekaisaran Amerika dan malam sebentar lagi turun, seperti bilah kapak di leher domba yang mengembik.

Tentang Penulis:

Dr. Lasha Darkmoon (lahir 1978) adalah mantan akademisi Anglo-Amerika bergelar tinggi dalam Sastra Klasik yang artikel-artikel politik dan syairnya telah diterjemahkan ke beberapa bahasa. Sebagian besar esai politiknya dapat ditemukan di The Occidental Observer dan The TruthSeeker. Situsnya sendiri, Darkmoon.me, kini ada dalam jajaran 1% tertinggi di dunia menurut sistem peringkat Alexa.

One thought on “China – Korban Yahudi Berikutnya

  1. Ikutan mumet kalo sudah bahas konspirasi dunia. Yang pasti China sepertinya memang tidak tinggal diam, nilai-nilai sosialis masih tertanam kuat. Sehingga akhirnya ia bertahan untuk beberapa tahun demi mengalahkan Amerika.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s