Elit Global Kepergok Merencanakan Invasi Islam Atas Eropa

Oleh: Michael Sebastian
1 Oktober 2015
(Sumber: www.returnofkings.com)

Para elit global kita umumnya sangat pandai menyembunyikan rencana mereka untuk rakyat jelata—kita yang tak diberkahi kekayaan dan kekuasaan. Mereka pandai, tapi adakalanya manusia-manusia setengah dewa ini tergelincir dan fakta rencana mereka bocor.

Kita baru menyaksikannya pada 27 September ketika Kanselir Jerman Angela Merkel dan CEO Facebook Mark Zuckerberg kepergok berbisik-bisik pada mikrofon aktif di sebuah acara makan siang PBB.

Merkel mengeluh kepada Zuckerberg perihal postingan para pengguna Facebook yang kritis terhadap gerombolan migran Muslim yang membanjiri Jerman dan negara-negara Eropa lain. Zuckerberg menanggapi:

“Kami perlu sedikit bekerja” untuk membatasi postingan anti-imigran seputar krisis pengungsi. “Kau akan mengerjakannya?” tanya Merkel dalam bahasa Inggris, yang kemudian diiyakan oleh Zuckerberg sebelum transmisi terganggu.

Dalih apa yang akan Facebook pakai untuk melarang rakyat Jerman membahas urusan kebijakan negara mereka, yang mengaku negara demokrasi? Rasisme, sudah pasti:

“Kami berkomitmen bekerja erat dengan pemerintah Jerman mengenai isu penting ini,” kata Debbie Frost, juru bicara Facebook yang bermarkas di Menlo Park, California, melalui surel. “Kami berpikir, solusi terbaik dalam menangani orang-orang yang berkomentar rasis dan xenofobis dapat ditemukan ketika penyedia layanan, pemerintah, dan masyarakat sipil bekerjasama untuk mengatasi tantangan bersama ini.”

Tapi bisakah demokrasi sejati eksis ketika masyarakat, yang seharusnya menjadi otoritas tertinggi untuk pemerintah, tidak diperbolehkan memperdebatkan kebijakan secara blak-blakan?

George Soros Desak Eropa Terima Satu Juta Muslim Setiap Tahun

Adakalanya elit global kita sangat transparan dengan rencana mereka, tapi kita terkondisikan untuk berpikir bahwa teori konspirasi hanyalah untuk orang-orang gila—sehingga kita mengabaikan pernyataan-pernyataan transparan ini.

Migran turun dari sebuah kapal di Italia. Ini digembar-gemborkan sebagai krisis Suriah, padahal kelihatannya seperti undangan terbuka untuk Muslim manapun yang ingin menginvasi. Dan di mana kaum wanita mereka?
Migran turun dari sebuah kapal di Italia. Ini digembar-gemborkan sebagai krisis Suriah, padahal kelihatannya seperti undangan terbuka untuk Muslim manapun yang ingin menginvasi. Dan di mana kaum wanita mereka?

Contoh terbaru adalah artikel opini yang ditulis miliarder George Soros. Di dalamnya Soros menyatakan UE harus menerima “sekurangnya” satu juta Muslim setiap tahun, dan mereka harus menyediakan bagi setiap “pencari suaka” $16.800 per tahun untuk menutupi biaya perumahan, perawatan kesehatan, dan pendidikan.

Lebih jauh Soros berargumen, UE harus menambah dana untuk negara-negara Islam, meskipun banyak dari mereka tidak menerima satupun “pengungsi” sebagai tanggapan terhadap krisis Suriah.

Soros lantas mengkritik Perdana Menteri Hongaria Viktor Orbán, yang sikap kerasnya dalam menolak imigrasi, kata Soros:

Menempatkan hak azasi pencari suaka dan migran di bawah keamanan perbatasan, beresiko memecah dan menghancurkan UE dengan meninggalkan nilai-nilai dasar pendiriannya dan melanggar hukum yang seharusnya mengaturnya.

Memerangi Homogenitas

Rencana pembanjiran Eropa dengan orang-orang Islam bukanlah berita baru. Pada 2012 silam, pengusaha Irlandia dan peserta Bilderberg Group Peter Sutherland berkata kepada House of Lords bahwa pimpinan Uni Eropa perlu “berbuat sebaik-baiknya untuk menggerogoti” “homogenitas” negara-negara anggota.

Stasiun Kereta Budapest. Kenapa mereka meninggalkan kaum wanita mereka di zona perang?
Stasiun Kereta Budapest. Kenapa mereka meninggalkan kaum wanita mereka di zona perang?

Kenapa penting menggerogoti homogenitas negara-negara Eropa? Sutherland akan mengklaim bahwa kebhinnekaan membuat organisasi dan negara lebih kuat. Untuk membuktikan ini, para penganjur kebhinnekaan biasanya memamerkan jajak pendapat “pejabat kebhinnekaan” dari perusahaan-perusahaan berbeda yang, tidak heran, menyebut kebhinnekaan memang menjadikan organisasi lebih efektif.

Tapi tak ada bukti aktual bahwa kebhinnekaan, yang dalam konteks ini berarti memasukkan Muslim dari Timur Tengah dan Afrika ke negara-negara kulit putih Eropa, membuat organisasi lebih efisien. Jika benar, Anda akan dengar negara-negara seperti China, Israel, Jepang, dan Korea Selatan mengantre untuk mendapat jatah migran Muslim. Tapi negara-negara itu sangat bahagia menjaga bangsa mereka tetap homogen.

Ide pemukiman ulang jutaan migran Muslim sangat tidak populer di antara penduduk negara-negara UE, tapi ini takkan menghentikan para birokrat di Brussels untuk meneruskan rencana mereka. Dimitris Avramopoulos, Komisioner UE Untuk Urusan Migrasi dan Dalam Negeri, baru-baru ini menyatakan para pemimpin UE “tidak peduli dengan ongkos politik” karena mereka tidak dipilih lewat pemilu.

Sikap Paus Francis Menggerogoti Kristen di Eropa

Secara historis Gereja Katolik telah menjadi benteng dalam melestarikan budaya Kristen Eropa. Iman Katolik-lah yang mengilhami Tentara Salib, Reconquista, dan Pertempuran Lepanto dan Wina. Bahkan selagi bangsa Eropa modern mencampakkan iman Kristus mereka demi merangkul sosialisme yang nyaman, Gereja Katolik belum berhenti mencoba membangunkan mereka dari tidur.

Camp of the Saints
Camp of the Saints

Tapi sikap Paus Francis terhadap krisis migran mengancam memperlemah fondasi spiritual Eropa yang sudah oleng ketimbang memperkuatnya. Francis menerbitkan seruan luas ke setiap paroki dan biara untuk menerima sekurangnya satu keluarga “pengungsi”.

Alasan Francis berbuat ini adalah ketaatan pada Injil:

Menghadapi tragedi puluhan ribu pengungsi—yang lari dari kematian akibat perang dan lapar, dan melakukan perjalanan menuju harapan hidup—Injil menyeru, meminta kita untuk dekat dengan kaum papa dan terlantar. Untuk memberi mereka harapan konkrit.

Gagasan bahwa kita tidak boleh menindas orang asing di antara kita tentu bagian dari ajaran Kristen. Alkitab menyatakan: “Janganlah kau tindas atau kau tekan orang asing, sebab kamupun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir.” Tapi bukan berarti umat Kristen berkewajiban menerima invasi migran Muslim.

Ajaran aktual Katolik tentang imigrasi, yang disediakan oleh Thomas Aquinas, jauh lebih rumit daripada yang Paus Francis yakinkan kepada kita. Seperti Yahudi dalam Perjanjian Lama, umat Kristen mengakui bahwa orang-orang dari negara tertentu kemungkinan besar imigran yang baik. Namun, imigran dari negara-negara yang terbukti memusuhi umat Kristen seharusnya tidak dibolehkan berimigrasi, melainkan “ditahan sebagai musuh untuk selamanya”. (bandingkan dengan Summa Theologica I-II, Q.105, Art.3).

Kenapa Elit Global Menghendaki Invasi Islam atas Eropa

Saya curiga, alasan terbesar kenapa elit global ingin membanjiri Eropa dengan imigran Muslim adalah karena mereka tidak menghargai budaya—mereka memandang manusia sebagai unit ekonomi semata. Jika bangsa Eropa tidak bereproduksi pada laju yang diperlukan untuk menopang sistem kesejahteraan saat ini, maka mengimpor Muslim belia dan bersemangat yang memang mau bereproduksi akan memecahkan masalah ini.

Migran yang damai
Migran yang damai

Kesimpulan

Pada waktu Pertempuran Wina, wazir agung Turki Utsmani yang sedang menyerbu mengirim seorang utusan untuk menyampaikan surat perintah penyerahan diri. Surat itu berbunyi:

Raja Jan Sobieski mendoakan serangan Polandia terhadap Turki di Wina

Terima Islam dan hidup dalam damai di bawah Sultan! Atau serahkan benteng dan hidup dalam damai di bawah Sultan sebagai umat Kristen; dan jika mau, siapapun boleh pergi dengan damai, dengan barang-barangnya. Tapi jika kalian menentang Kehendak Allah, maka kematian atau penjarahan atau perbudakan akan menjadi nasib kalian semua! Melawan, kalian mati! Menyerah, kalian hidup!

Gubernur militer Wina, Count Ernst Rüdiger von Starhemberg, berkata kepada kerumunan orang yang berkumpul dekat Katedral kota:

Kaum kafir menjanjikan bahwa jika kita menyerah, semua orang Kristen akan diperbolehkan tetap Kristen. Tapi, tanya orang-orang Yunani apa arti janji itu. Tanya orang-orang Serbia. Tanya orang-orang Albania. Bagaimana orang-orang Wina menjawab undangan itu?

Massa segera membalas dengan teriakan “Tidak!”

Semoga orang-orang Eropa menemukan keberanian yang sama dengan kakek-moyang mereka dan menentang tuntutan elit global untuk mengorbankan bangsa mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s