Di Bawah Cengkeraman Rusia

25 Februari 2016
Sumber: www.aljazeera.com

Kami menyelidiki dampak mengerikan bagi warga sipil di bawah serangan udara Rusia di Suriah.

Di bawah cengkeraman Rusia
Syria: Under Russia’s Fist (Al Jazeera Video)

Sejak 30 September 2015 Rusia telah melakukan serangan udara di Suriah demi mendukung sekutunya, Presiden Bashar al-Assad. Kampanye ini tak mengenal belas kasihan dan semakin intens; jet-jet Rusia melancarkan 444 serangan mendadak terhadap lebih dari 1.500 target antara 10 s/d 16 Februari saja.

Moskow bersikeras serangan ini hanya ditujukan kepada para pejuang ISIL dan “kelompok teroris” lain semisal al-Nusra Front. Tapi kelompok-kelompok pemantau, termasuk Violations Documentation Center dan Syrian Observatory for Human Rights, menyebut ribuan non-petempur ikut terbunuh atau terluka.

Amnesty international dan lain-lain menyebut pengeboman tersebut adalah kejahatan perang. Bahkan, Amnesty juga mengutip laporan-laporan konsisten perihal bombardir kedua dari pesawat-pesawat yang datang kembali untuk membunuh dan melukai para pekerja penyelamat, paramedis, dan sipil yang berupaya mengevakuasi korban luka dan tewas akibat serangan sebelumnya.

Jadi apakah warga sipil sengaja disasar—dan bisakah Rusia dituntut bersalah?

Dalam liputan eksklusif untuk People & Power ini, pembuat film dan jurnalis kelahiran Denmark Nagieb Khaja pergi untuk menyelidiki. Film hebatnya, dibuat di Aleppo, Idlib, dan wilayah-wilayah kekuasaan pemberontak lainnya akhir tahun lalu, merupakan potret kehidupan mengerikan, menegangkan, dan kadang mendebarkan di bawah bom-bom Kremlin. Pemirsa mungkin mendapati sebagian gambarnya meresahkan.

Catatan editor: Rusia dan AS mengumumkan gencatan senjata di Suriah mulai 26 Februari. Namun, serangan udara terhadap ISIL dan al-Nusra dikecualikan dari kesepakatan. Pada 14 Maret, Presiden Vladimir Putin mengumumkan menarik pasukan utama Rusia dari Suriah.

Sudut Pandang Pembuat Film

Oleh: Nagieb Khaja

“Di mana para teroris itu?” tanya pekerja penyelamat, Abu Rahmo, seraya mengantar saya berkeliling sebuah distrik di Aleppo yang diratakan oleh bom-bom Rusia.

Abu Rahmo mengenakan rompi biru dan topi berlogo klub Liga Premier Inggris, Liverpool FC. Dia banyak bercanda, dan mulanya sulit dipahami bagaimana seseorang yang menyaksikan kematian dan kehancuran setiap hari bisa tersenyum seperti itu. Tapi mungkin ini satu-satunya cara untuk bertahan dengan pekerjaannya.

“Rusia bilang mereka sedang memerangi Daesh [Islamic State], padahal Daesh sudah dua tahun tidak ada di kota kami. Bahkan tak ada Free Syrian Army di sini,” ujarnya. “Hanya warga sipil yang tinggal di sini.”

Saya bisa lihat tak ada tanda-tanda pasukan militer di sini. Tak ada peralatan militer. Dan di antara puing-puing rumah bertebaran mainan anak kecil dan perkakas dapur—barang kehidupan sehari-hari.

Saya menghabiskan tiga pekan di Suriah Barat Laut, merekam untuk film Under Russia’s Fist, dan di setiap tempat yang didatangi saya melihat bukti korban sipil: sekolah, rumah, pasar yang dimusnahkan oleh bom-bom Rusia.

Di Aleppo, kota terbesar di Suriah, masyarakat masih pergi bekerja, mengirim anak-anak mereka ke sekolah, dan makan di banyak restoran yang mendereti jalanan, tapi kapanpun mereka bisa terbunuh oleh serangan serampangan Rusia dan rezim Suriah. Saya merekam pesawat perang Rusia sedang terbang di atas kota. Saya dengar ledakan-ledakan bom menghantam daratan tak jauh dari situ, dan saya merekam gumpalan-gumpalan asap besar membumbung dari benturan tersebut.

Para penduduk memeriksa lokasi yang rusak akibat, menurut para aktivis, serangan udara oleh AU Rusia di kota Nawa, Deraa, Suriah. [Reuters/Alaa Al-Faqir]
Para penduduk memeriksa lokasi yang rusak akibat, menurut para aktivis, serangan udara oleh AU Rusia di kota Nawa, Deraa, Suriah. [Reuters/Alaa Al-Faqir]

Saya bertambat selama satu hari pada pekerja penyelamat Syrian Civil Defence Force sewaktu mereka bergegas ke tempat-tempat hantaman bom, dan mendapati lingkungan sipil penuh dengan asap dan debu, dan rumah-rumah berubah jadi puing. Saya merekam sewaktu para relawan ini, lebih dikenal sebagai White Helmets, bergegas dari satu serangan ke serangan berikutnya. Dan ini terjadi pada hari yang tenang, sebut mereka—ketika hanya satu orang yang terbunuh di bagian kota mereka.

(Embedded journalist atau jurnalis tambatan adalah wartawan yang ditambatkan pada satuan militer dalam konflik bersenjata—penj.)

Saya tidak melihat satupun pejuang pemberontak di tempat-tempat yang dihantam ini. Tentu saja terdapat pemberontak—dari banyak kelompok dengan beragam agenda—di Aleppo. Akan tetapi, konsentrasi utama pasukan pemberontak adalah pada garis-garis depan di luar kota, jauh dari wilayah sipil yang terhantam.

Ribuan warga sipil sudah melarikan diri. Mereka yang masih tersisa memutuskan tidak bisa atau tidak mau meninggalkan kota. Sebagian memutuskan lebih baik tetap di rumah mereka sendiri ketimbang menjadi pengungsi. Yang lain terlalu lemah atau miskin untuk lari. Dan ada orang-orang yang memang lari, tapi setelah merasakan hidup sebagai warga kelas dua di negara tetangga, Turki, mereka putuskan lebih baik kembali ke rumah.

Karena kegigihan dan kebulatan tekad, Abu Rahmo tetap tinggal untuk melawan rezim dengan menyelamatkan orang-orang dari bom. Dua di antara anak-anaknya tewas oleh serangan rezim, dan kini dia membuat misi pribadi untuk menyelamatkan anak-anak orang lain.

Selagi dia mengantar berkeliling, kami mendengar pesawat-pesawat di atas kepala. “Harbi Russi—pesawat Rusia,” datang suara peringatan dari perangkat penerima radionya.

“Setiap orang bisa lihat perbedaan antara pesawat Rusia dan rezim,” tuturnya. “Kami sudah dibom berkali-kali hingga anak-anak kami pun dapat membedakan pesawat yang menyerang.”

Di sebuah jalan raya di lingkungan Ferdaus, Aleppo tengah, seorang pengelola toko sedang minum secangkir kopi di jalan ketika disela oleh dentuman besar. Kepulan asap kelabu hitam yang pekat meletus di kejauhan, dan lambat-laun melesap dalam angin malam.

“Ke mana kami harus pergi?” tanyanya retoris. “Haruskah kami lari? Meninggalkan negara kami? Langkahi dulu mayat saya. Cuma wada warga sipil di sini. Coba tunjukkan satu saja pejuang, satu militan di jalan ini!”

Kelompok-kelompok HAM melaporkan 32 warga sipil tewas oleh bom-bom Rusia di Aleppo saja pada hari ini. Tak lama setelah saya meninggalkan Aleppo, kampanye bombardir Rusia meningkat dan pasukan rezim memulai desakan intens untuk mengelilingi dan mengepung kota. Garis pasokan makanan, bahan bakar, dan peralatan medis untuk warga sipil di kota terputus. Situasi di Aleppo kini lebih buruk lagi. Bahkan setelah lima tahun kengerian dan kekejian tiada henti, krisis kemanusiaan sedang berkembang pada skala yang belum pernah disaksikan dalam perang ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s