Oleh: Abu Anas
16 Agustus 2012
Sumber: www.revolutionobserver.com

Strategi Amerika Serikat yang dipergunakan di panggung politik Suriah telah diuraikan dalam artikel terdahulu. Kami meringkas strategi AS saat ini dalam menggagalkan revolusi Suriah lewat peribahasa, “Jika kau tak bisa kalahkan mereka, bergabunglah dengan mereka.” Penting sekali memahami beragam rencana yang dapat AS gunakan untuk menggapai penerapan strategi ini. Mengingat unsur kekuatan di lapangan ada dua: pemberontak (melalui FSA) dan rezim (melalui lembaga militer), AS punya tiga metode untuk meraih sasarannya.

Revolusi Suriah

Opsi pertama adalah menyusupi dan mempengaruhi FSA agar patuh pada rantai komando yang setia dan dikendalikan oleh AS. Maksud rencana ini adalah menyetir pemberontak dari cita-cita menjatuhkan rezim dan duduk di meja negosiasi bersama sebagian elemennya “yang dapat diterima” demi mencapai solusi kompromi dan membentuk pemerintahan transisi bersatu. AS dapat mendorong sebagian perwira militer loyal supaya membelot dari tentara dan bertindak sebagai agen dalam untuk mempengaruhi pemberontak. Banyak jenis “wortel dan tongkat” bisa dipakai untuk membuat pemberontak tunduk. Menyodorkan suap, senjata, menjanjikan posisi bergengsi di Suriah mendatang, dan masih banyak lagi yang dapat dimanfaatkan untuk membujuk sebagian pemberontak. Perang psikologis, misalnya desas-desus rencana rezim untuk menggunakan senjata kimia terhadap pemberontak, dan militer rezim yang dibiarkan oleh dunia untuk membantai warga sipil adalah dua contoh penggunaan tongkat guna menundukkan pemberontak serta memusnahkan harapan dan melumat moril mereka.

Opsi kedua adalah menasehati militer agar melakukan kudeta semu terhadap Bashar al-Assad dan “secara terbuka” membelot dan berpihak pada revolusi. Siasat ini dipakai di Mesir, Tunisia, dan tentunya Yaman di mana saudara tiri Ali Abdullah Saleh membelot dan terlihat memihak revolusi. Maksud dari langkah semacam ini adalah mempertahankan rezim lama dengan melestarikan apa yang tersisa dari lembaga militer. Dalam skenario demikian, setelah revolusi sejauh ini, kita menyangka akan ada pembelotan yang disusul oleh konflik terkelola antara beberapa faksi rezim al-Assad, seperti 4th Army Division atau Garda Republik, dan bahkan pembunuhan atau penahanan Bashar al-Assad sendiri. Dengan cara ini, pemberontak tidak akan punya alasan untuk berperang, dan permintaan untuk melucuti senjata pemberontak dengan kedok membangun kembali negara dan lembaga-lembaga dan keamanan nasionalnya akan lebih diterima oleh pendapat khalayak Suriah.

Opsi ketiga adalah upaya terakhir AS, dipergunakan jika semua opsi lain gagal, yakni invasi militer langsung atas Suriah untuk mengamankan kepentingannya di negara itu. Invasi tersebut bisa mengambil dua bentuk: melalui misi militer PBB di bawah piagam PBB bab 7 atau invasi darat NATO oleh Turki dan bantuan udara utamanya oleh AS. Invasi akan dilaksanakan dengan kedok menyelamatkan warga sipil dari tragedi kemanusiaan seperti di Libya dan untuk melindungi Suriah dari kekacaubalauan dan perang sipil selama masa transisi pasca pelumpuhan rezim. Dalam skenario ini, kita menyangka akan ada kerjasama militer Suriah dalam menghasut langkah-langkah penting yang membawa kepada intervensi internasional dan menjadi bagian dari sandiwara perang yang mengkambinghitamkan beberapa komponen tentara. Kampanye militer harus tampak bersahabat terhadap rakyat Suriah dan bukan sebagai pasukan pendudukan.

Opsi pertama telah gagal dan AS tampaknya kehilangan harapan dalam menyatukan FSA di bawah payung pilihannya, SNC.[1] Akibat keberhasilan pemberontak dalam menggoncang rezim tanpa bantuan internasional apapun, perasaan darurat untuk berusaha mempengaruhi hasil revolusi mengemuka dalam pembicaraan AS. Ini terlihat dalam pertemuan antara Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton dan Menteri Luar Negeri Turki Ahmet Davutoglu, Sabtu 11 Agustus kemarin, di mana kedua pihak memutuskan menyusun tim bilateral untuk bersiap menghadapi skenario terburuk dan untuk “melakukan ‘analisa intens’ terhadap semua opsi [yang] dapat menjadi pembuka jalan bagi bantuan langsung”.[2] Di samping itu, kemarin, perdana menteri Suriah pembelot, Riad Hijab, memberikan sebuah pidato di Yordania di mana dia menyeru lembaga militer untuk membelot dari al-Assad, yang bisa menjadi pembuka jalan bagi kudeta semu. Tn. Hijab dikutip menyatakan, “Saya mendorong tentara agar mencontoh tentara Mesir dan Tunisia—memihak rakyat.”[3]

Cita-cita revolusi, yakni melengserkan rezim dan membersihkan Suriah dari gerombolan kriminal al-Assad, harus dilindungi. Pemberontak tidak boleh menerima pembelotan lembaga militer tanpa jaminan. Jika militer tulus, maka pemberontak harus diizinkan menyimpan senjata sampai masa transisi berakhir. Pada saat itulah pengadilan revolusi yang adil dan terbuka segera didirikan dan semua perwira militer yang terlibat dalam pertumpahan darah diadili lewat pengadilan ini, terutama perwira-perwira berpangkat tinggi yang memberi perintah dan memaksa prajurit menembak warga sipil tak berdosa. Jika tentara menolak pengadilan tersebut, berarti mereka tidak lulus ujian sungguhan dan menjadi jelaslah bahwa militer ingin melindungi para penjahat yang masih berada di dalam lembaganya dan pemberontak akan memastikan revolusi belum berakhir!

Catatan
[1] www.guardian.co.uk
[2] www.nytimes.com
[3] www.huffingtonpost.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s