Ex-Illuminati: Pengalaman Mendekati Kematian

Illuminati telah mempelajari neurophysiology manusia selama bertahun-tahun, dan efek “traumatic conditioning” terhadap otak dan jiwa manusia. Dalam pencarian mereka terhadap metode-metode “ingraining programming” yang lebih baik dan dapat diandalkan, mereka telah memanfaatkan hasil riset dari berbagai sumber: badan pemerintah, rezim totalitarian, dan eksperimen mereka sendiri yang berjalan secara terus-menerus (dan rahasia).

Ex-Illuminati, Wawancara Bag. 17: Dalam Matrix

Penelitian menunjukkan bahwa kita hanya menggunakan sebagian kecil dari kemampuan otak, Illuminati dan kelompok mistik lainnya sangat sadar akan hal ini. Inilah alasan mengapa program stimulasi dan training sengaja dijalankan, yaitu untuk mendorong anak-anak untuk mulai menggunakan “sisa porsi” otak yang belum digunakan.

Ex-Illuminati, Wawancara Bag. 10: Lebih Jauh Tentang Perubahan Bentuk Satanik

Perubahan bentuk selalu dalam konteks upacara gaib, oleh mereka yang dipersembahkan kepada setan. Manusia mengambil bentuk hewan untuk beberapa saat, atau menjadi terlihat menyeramkan, dan mereka BUKAN alien. Ini adalah aktivitas setan yang menyebabkan seorang manusia melihat sesosok setan, dan mendistorsi apa yang mereka lihat.

Ex-Illuminati, Wawancara Bag. 9: Ritual Pengorbanan – Setan – Perubahan Bentuk

Mereka akan melakukan ritual dengan anak-anak, atau bahkan pengikut yang tua, di mana seseorang diikat, dan seekor hewan disembelih di atas mereka. Kepercayaan itu menyatakan bahwa seseorang menerima kekuatan dari roh yang meninggal, yang “memasuki” orang tersebut. Tapi menimbulkan trauma dan kengerian jika ada seekor hewan yang mengalami sakaratul maut di atas orang tersebut. Melemparkan beberapa ancaman yang “ini akan terjadi pada Anda jika Anda bercerita”, dan ini menciptakan pengaruh yang kuat terhadap anak-anak.

Ex-Illuminati, Wawancara Bag. 7: Simbol dan Petunjuk Illuminati; Level Infiltrasi

Illuminist tidak peduli siapa yang memberitahukan hal ini, atau jika mereka “diekspos” karena mereka sudah memperkirakan orang-orang yang mempercayainya, mereka sudah melakukan tugas dengan baik melalui kampanye media (lihatlah artikel di Newsweek atau Time belakangan ini yang mengangkat ini sebagai teori konspirasi yang lucu? Tebak siapa pemilik Time-Warner?).

Ex-Illuminati, Wawancara Bag. 6: Penyimpangan Ritual – Penolakan Mind Control; Bohemian Grove

Anda bisa menunjukkan pada masyarakat sebuah video yang diambil dari ritual, dan mereka pasti akan berkata, “Ini pasti bohong; manusia tidak mungkin melakukan hal-hal seperti itu.” Anda bisa menunjukkan website dengan pentagram, tulang yang dikubur, dan bukti lain, dan mereka akan kembali berkata, “Oh, ini hanya permainan remaja”. Anda bisa menunjukkan kepada mereka foto-foto terowongan bawah tanah di dekat Los Alamos, dan mereka akan berkata, “Bukankah ini menarik. Pasti sebuah proyek pemerintah.”

Ex-Illuminati, Wawancara Bag. 4: Hubungan Illuminati – Freemason

Freemason dan Illuminati berhubungan erat. Saya tidak peduli jika ini dianggap keliru, tapi ini fakta. Kuil masonik di Alexandria, Virginia (kota itu sendiri dinamai sama dengan Alexandria, Mesir, dan merupakan pusat aktivitas Illuminati) adalah sebuah pusat di area Washington DC untuk ilmu dan pengajaran Illuminati.

Ex-Illuminati, Wawancara Bag. 3: Bagaimana Illuminati Mempengaruhi Hollywood?

Ini terjadi secara perlahan, melalui proses halus karena mereka sangat sabar. Mereka telah bekerja di belakang layar selama beratus-ratus tahun, dan mereka tahu bahwa publik lambat dalam menerima ide-ide baru, karena itu harus dilakukan secara bertahap. (Mereka menyebutnya memimpin “domba”, yang dalam anggapan mereka sebagai “manusia yang belum tercerahkan”).

Ex-Illuminati, Wawancara Bag. 2: Apa dan Siapa Illuminati?

Illuminati adalah sebuah kelompok yang mempraktekkan bentuk kepercayaan yang dikenal sebagai “pencerahan”. Ini adalah ajaran Luciferian, dan mereka mengajarkan pengikut mereka bahwa akar mereka kembali kepada agama misteri zaman kuno di Babylon, Mesir, dan Celtic druidism.

Ex-Illuminati, Wawancara Bag. 1: Tentang Svali

Saya menulis dengan nama pena untuk melindungi suami dan kedua anak saya, saya tidak ingin menerima permusuhan ataupun ancaman telepon dan sebagainya. Kedua anak saya masih dalam penyembuhan dari pengalaman-pengalaman saat tumbuh dalam kelompok tersebut, dan saya tidak ingin ada hal yang bisa menimbulkan trauma kepada mereka.