Apa yang Akan Memecah Amerika

Oleh: Brett Stevens
Sumber: Amerika

Apa kata teman musisi Anda setelah band-nya, yang sukses di album kedua tapi tidak begitu sukses di album kelima, bubar?

“Kami saling menyimpang. Tak lagi punya banyak kesamaan, kami bergerak ke arah berlainan.”

Begitulah masyarakat mati. Di awal mereka punya misi yang jelas, dan melalui tahun-tahun perjuangan dan kekerasan mereka menang atas musuh, mengalahkan iblis internal, menemukan sistem nilai stabil yang disepakati (“konsensus sosial”), dan kemudian memakai sistem nilai itu untuk menghempaskan segala hal dan berusaha keras menuju perbaikan diri.

Sekali menggapainya, masyarakat-masyarakat ini tersangkut masalah. Mereka tak punya perang untuk mempersatukan; mereka menciptakan perang internal, dan menghabiskan waktu dengan memburu kaum Komunis, Rasis, Setanis, Hacker, atau Iblis lain. Ketika perilaku ini pergi, mereka menghabiskan waktu dengan tak memburu apa-apa; individu menjadi lebih penting daripada masyarakat, dan tak lama muncullah sekelompok besar orang-orang egois yang nyaris tidak saling tenggang rasa karena mereka tak punya kesamaan selain hasrat memanipulasi satu sama lain agar dapat melanjutkan perburuan egois mereka.

Lalu mereka berangsur hilang. Biasanya tidak berupa ledakan tiba-tiba, melainkan kemerosotan terus-menerus ke dalam status dunia ketiga yang ditandai dengan peristiwa-peristiwa disfungsi besar, sebagaimana terjadi di Uni Soviet:

Pada 1991, Uni Soviet tiba-tiba menguap. Perang Dingin berakhir. Seperti banyak perang lainnya, ada pemenang nyata dan pecundang nyata. Hampir dua puluh tahun kemudian, saat AS menempuh jalan Soviet menuju malapetaka—meski dunia tak bisa membayangkan apa arti kebangkrutan Amerika—jelas sekali bahwa, dalam pergumulan besar kedua adidaya yang lantas kita juluki Perang Dingin, sebetulnya ada dua pecundang, dan bahwa, ketika “adidaya kedua” meninggalkan panggung, adidaya pertama sedang menuju pintu keluar, semakin gontai dan gontai dan dalam kondisi mabuk puas diri. —HNN

Apa itu status dunia ketiga? Anda tak bisa mengandalkan definisi bodoh Wikipedia di sini, yang mencoba menjadikannya isu kepihakan politik. Status dunia ketiga berarti negara Anda semrawut dan tak punya arah; alhasil, ia korup, kotor, keras, buta huruf, dan lemah. Biasanya ia adalah negara yang pernah besar, tapi jatuh ke dalam kesemrawutan, dan dengan itu kehilangan kemampuan atau keinginan untuk mengenali orang-orang baiknya, dan menghapus keturunan mereka. Yang tersisa adalah sekumpulan orang dekil jahil yang dikuasai oleh para tuan besar licik dan kejam.

Apa saya baru melukiskan Rusia? Memang. Kalau Anda tak percaya, izinkan saya menjual seorang isteri Rusia kepada Anda—itu semudah membuka koran lokal di sini.

Apa saya melukiskan masa depan AS? Cukup mungkin.

Semua kekaisaran, tak peduli semegah apapun, ditakdirkan untuk merosot dan jatuh. Kita cenderung beranggapan bahwa di masa kita, juga, sejarah akan bergerak secara siklis—dan lambat.

Ancaman lingkungan atau demografis yang kita bicarakan terasa jauh. Di tahun pemilu, siapa yang peduli dengan suhu atmosfer rata-rata atau struktur usia penduduk pada 2050?

Poin paling nyata adalah bahwa kejatuhan kekaisaran terkait dengan krisis fiskal—ketimpangan tajam antara pendapatan dan pengeluaran, dan menggunungnya ongkos jasa segunung utang negara.

Pikirkan Turki Utsmani di abad 19: jasa utang naik dari 17% dari pendapatan pada 1868 ke 32% pada 1871 dan 50% pada 1877, dua tahun pasca gagal bayar dahsyat yang mengantarkan disintegrasi Kekaisaran Utsmani di Balkan. Pertimbangkan Britania di abad 20. Pada pertengahan 1920-an, beban utang menyerap 44,5% pengeluaran total pemerintah, melebihi belanja pertahanan setiap tahun sampai 1937, ketika pemersenjataan kembali akhirnya berjalan serius.

Tapi masalah riil Britania datang setelah 1945, ketika proporsi penting beban utangnya yang besar—setara dengan kira-kira sepertiga produk domestik bruto—ada di tangan asing.

Maka dari itu seharusnya bel alarm berdering keras di Washington, karena AS menatap defisit tahun 2010 lebih dari $US 1,47 triliun—sekitar 10% dari produk domestik bruto, untuk tahun kedua berturut-turut. —The Age

Artikel tersebut brilian dan layak dibaca karena melukiskan keberkalaan kekaisaran. Sejarah tidaklah linier; ia mencepat dan melambat, tergantung pada apa yang terjadi. Kekaisaran sehat selama organisasi internal mereka sehat, tapi saat mulai merosot, mereka membuat sejumlah keputusan buruk sekaligus. Tak ada penyebab tunggal kemerosotan kecuali kemerosotan itu sendiri.

Kemerosotan berawal dengan hilangnya konsensus. Saat Anda mempunyai konsensus sosial tentang apa yang bernilai, Anda dapat mengganjar orang-orang atas penegakan nilai tersebut dan dengan begitu menciptakan arus orang “baik” terus-menerus. Penggantinya adalah ukuran kelayakan seseorang untuk bisnis atau popularitas (media), yang bukan merupakan ukuran kompetensi utuh mereka, melainkan keterampilan/determinasi mereka dalam salah satu dari ribuan bidang. Tanpa sistem nilai, masyarakat mengganjar orang aneh, orang korup, tukang komplot, tukang drama. Mereka mengganjar orang-orang yang memainkan permainan sosial, bukan orang-orang yang dapat menciptakan fungsi lebih baik.

Inilah kenapa di negara-negara dunia ketiga, pada umumnya orang-orang lebih kompeten secara verbal dan sosial daripada dengan teknologi dan pengetahuan. Mereka mampu berbicara mengesankan, atau membuat sesuatu terdengar seperti produk menarik; apakah mereka keturunan hipster yang terkorupsi di zaman dahulu? Hipster sendiri merupakan produk kemerosotan paling kentara. Saat anak kelas menengah berhenti melakukan sesuatu yang produktif dan menjadi egomaniak yang coba membuktikan betapa uniknya diri mereka, itu berarti sistemnya rusak, telah melalaikan mereka dan melalaikan dirinya sendiri.

Anda dapat mengenali masyarakat yang sekarat dari kebutuhannya memalsukan realitas. Dengan konsensus sosial, persepsi akurat terhadap realitas dari setiap anggota masyarakat tidak diperlukan; mereka perlu mengikuti simbol dan adat (sehat), dan dengan demikian, menggunakan kiasan realitas untuk mencapai interaksi positif dengannya. Di masyarakat yang merosot, dengan konsensus sosial menghilang, pemikiran bahwa sebagian orang lebih paham daripada yang lain, dan “kesetaraan” (nyatanya: status sosial setara untuk golongan tak paham), mengambil alih. Alhasil, timbul mitos penghibur bahwa setiap orang mempunyai persepsi realitas yang sama-sama valid dan akurat. Karena ini tak pernah terbukti, masyarakat berpaling kepada orang-orang yang dapat memberinya persepsi realitas palsu tapi menghibur:

Pemeliharaan struktur hirarkis yang mengendalikan hidup kita tergantung pada “permadani kebohongan luas yang darinya kita hidup” milik Pinter. Karenanya, lembaga-lembaga utama yang menanamkan kita ke dalam hirarki, seperti sekolah, universitas, media massa, dan korporasi hiburan, berfungsi pokok menciptakan dan memelihara permadani ini. Mereka mencakup ilmuwan elit kekuasaan dan intelektual pelayan yang bertanggungjawab “menafsirkan” realitas.

Bahkan, para ilmuwan dan “pakar” ini mendefinisikan realitas dalam rangka menyesuaikannya dengan permadani mental adaptif yang dominan. Mereka juga membuat dan membangun cabang-cabang permadani yang melayani kelompok-kelompok kekuatan spesifik dengan menyediakan kesempatan eksploitasi baru. Para pendeta tinggi ini diganjar status kelas tinggi. —Denis G. Rancourt

Suratkabar, yang pernah dianggap sedikit di atas tabloid, lantas dipandang sebagai sumber absah jurnalisme “objektif”, menjadi pembentuk pikiran masyarakat yang tak mampu menyusun pikirannya sendiri—dan tentu saja menjadi titik fokus untuk orang paling tersakiti di antara mereka semua, orang-orang yang ingin menghancurkan keabsahan orang lain dengan secara pasif-agresif menuntut kesetaraan universal dan akibatnya menenggelamkan “orang baik” dengan “orang rata-rata” atau patut dikasihani:

Situs milik Tucker Carlson, Daily Caller, telah membongkar segudang jurnalis liberal yang bercakap-cakap (keji) dalam sebuah milis pribadi tentang bagaimana mereka harus memanfaatkan kekuatan media mereka untuk membuat ulang dunia sesuai gambaran mereka.

Yang paling lucu dari beberan JournoList ini adalah bahwa para jurnalis menyebut pembocoran surel-surel ini tidak fair mengingat wartawan punya “ekspektasi privasi”. Dulu lebih dari 90.000 halaman dokumen rahasia tentang Afghanistan bocor dan para jurnalis tersandung satu sama lain dalam kesibukan gila untuk meliput cerita itu. Setiap orang harusnya tertawa terbahak-bahak ketika jurnalis pelahap bocoran meminum segenggam pil pahit mereka sendiri.

Yang paling menyedihkan dari semua ini adalah penegasan (seolah ini perlu) bahwa jurnalis liberal sebetulnya bukan jurnalis. Mereka adalah ahli siasat politik.

Mereka berpura-pura sebagai Woodward dan Bernstein versi Hollywood, dua detektif berani yang menggali penyimpangan dan korupsi pemerintah. Tapi kenyataannya mereka adalah Woodward dan Bernstein yang bersekongkol untuk membuat Richard Nixon dimakzulkan dan menyiapkan jalan bagi “bayi-bayi Watergate” pasifis dan sosialis seperti Chris Dodd dan Henry Waxman untuk mengambil kursi kekuasaan. Etika hanya relevan jika ia menjadi senjata. —Investors Business Daily

Inilah orang-orang yang kita percayai untuk memberitakan kebenaran, dan yang paling penting, untuk memberitakan ide/tren untuk orang-orang pintar—karena dengan begitu setiap orang dapat menyamai mereka.

Terlebih lagi, kita sudah sampai pada titik di mana menurut para pemikir liberal sekalipun, yang kita lihat tinggal transaksi keuangan dan manfaat antar individu. Tak ada rasa kekompakan sebuah bangsa:

Di setiap negara demokrasi industri sejak akhir Perang Dunia II, telah ada kontrak sosial antara golongan sedikit dan golongan banyak. Sebagai balasan atas keuntungan amat besar dari pertumbuhan ekonomi di negara kapitalis, kaum kaya membayar pajak amat kecil yang diperlukan untuk kepentingan umum dan jaring pengaman untuk golongan mayoritas.

Di Amerika Utara dan Eropa, elit ekonomi menyetujui kesepakatan ini karena mereka butuh rakyat biasa sebagai konsumen dan tentara. Tanpa konsumsi massa, pabrik-pabrik di mana kaum kaya menanam modal akan berhenti tiba-tiba. Tanpa wamil universal dalam perang-perang dunia, dan wamil selektif selama Perang Dingin, AS dan para sekutunya mungkin sudah gagal mengalahkan kekaisaran-kekaisaran totaliter yang akan menciptakan tatanan dunia tidak ramah bagi ekonomi pasar.

Globalisasi telah menyisihkan alasan pertama bagi kaum kaya untuk terus mendukung kesepakatan ini di tingkat negara-bangsa, sementara privatisasi militer mengancam dasar rasional lain. —Salon

Seperti kebanyakan liberal, Salon berpendidikan dan melek dalam semua isu permukaan. Mereka tak paham soal struktur pokok. Dalam kasus AS, alasan untuk globalisasi adalah perpindahan unsur-unsur industri vital secara terus-menerus dari negara sekarat ini. Benalu serikat? Terlalu banyak UU? Terlalu banyak kejahatan dan korupsi? Well, persetan! Mari bawa manufaktur kita ke suatu tempat di mana kita dapat menyogok otoritas setempat. Dengan menjadi korup, kita mendesak kelompok kejahatan terorganisir dan korupsi dan bahkan birokrasi. Itu jauh lebih efisien.

Terlebih lagi, saat babak terakhir pekerja Amerika ternyata adalah Generasi Y, tak ada gunanya membuka bisnis di sini. Pergi saja ke tempat lain di mana orang-orangnya lebih realistis, sekalipun mereka tidak bisa memakai IM dan Twitter untuk menyatukan sebuah departemen ke dalam sarang sosial (social hive), atau jargon sampah apapun itu yang mereka muntahkan sekarang.

Salon jatuh ke dalam pola lumrah kaum liberal di masa kemerosotan, yakni berusaha menghancurkan struktur kekuasaan sebanyak mungkin, dan kemudian diperkosa dalam anarki sesudahnya.

Kekaisaran menggapai ini lewat “liberalisme ekonomi, militerisme, korporasi multinasional, media korporat, dan teknologi pengintaian”. Karena kapitalisme menyebabkan jutaan kematian yang bisa saja disingkirkan oleh sistem non-kapitalis, ia juga bersalah atas pembunuhan masal.

AS, tentu saja, adalah Setan Besar, dituding menimbun sumberdaya amat besar. Militernya menindas kaum miskin sehingga korporasinya dapat mengeksploitasi mereka. Pemerintahnya menggalakkan klaim bahaya terorisme untuk berbuat agresi di luar negeri dan represi di dalam negeri.

Dan Israel adalah Setan Kecil, bertindak sebagai sekutu jahat Kekaisaran—atau mungkin negara Yahudi ini justru tuannya? Dari pertemuan World Social Forum di Brazil hingga konferensi anti-rasisme PBB di Durban dan dari gereja-gereja garis utama hingga LSM-LSM, Zionisme digambarkan sebagai kejahatan mutlak. Kenapa Israel? Selain anti-Semitisme nyata, ia seorang diri, di antara semua negara Barat, hidup di bawah rentetan ancaman terus-menerus, yang lantas memaksanya berperang terus-menerus. “Dicopot dari semua konteks,” catat Sternberg, “perbuatan Israel pas dengan citra agresor yang diperlukan.” —National Review

Mari campakkan orang-orang dan lembaga-lembaga yang bisa saja menolong, karena mereka tidak akan menolong orang yang, saking jahil/malas/bodohnya, pasti gagal, tak peduli sebanyak apapun Anda membantu.

Ini semua adalah pertanda kemerosotan. Sementara masyarakat mengabaikan bencana Wikileaks, yang merilis sedikit sekali berita aktual, fakta di balik layar adalah bahwa negeri ini sedang mengikis dirinya sendiri dari dalam—akibat tiadanya mufakat pada nilai-nilai dasar, atau konsensus sosial.

Tak ada konsensus, begitulah negara-negara pecah. Saat ini kita bisa lihat Amerika terbagi antara “kaya” (sebetulnya kelas menengah: pendapatan rumahtangga $50.000/tahun atau lebih) versus miskin (kulit putih pedesaan, minoritas perkotaan, imigran ilegal mutakhir dengan pendapatan rumahtangga kurang-lebih $18.000/tahun) atau mungkin antara konservatif versus liberal atau utara versus selatan. Ia hampir terbagi lebih dalam lagi: orang-orang yang terlupa akan kemerosotan, mayoritas kiri, dan orang-orang yang menentang kemerosotan dan ingin memulai ulang negara ini, mayoritas kanan.

Tentang Penulis

Brett Stevens telah menulis tentang realisme sejak akhir 1980-an. Karyanya bisa dijumpai di RightOn, American Renaissance, Return of Kings, Counter-Currents, Alternative Right, dan Aristokratia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s